Seoul kembali berdenyut dalam ritme yang cepat, namun di sebuah ruko kecil yang menjadi saksi bisu perjuangan Kantor Hukum Jae-Yura, waktu terasa berjalan lebih berat dan menyesakkan. Kim Yura duduk di depan tumpukan berkas yang menggunung, mencoba fokus pada draf pembelaan untuk Jae-hyun. Setelah insiden heroik di stasiun televisi dan gudang Incheon, nama Jae-hyun kini menjadi bahan perbincangan hangat. Publik tidak lagi melihatnya hanya sebagai penjahat kerah putih, melainkan sebagai sosok yang rela bertaruh nyawa demi menghentikan kegilaan Yoo Hye-jin.Namun, di tengah kemenangan moral dan hukum yang mulai tampak di depan mata, Yura merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya sendiri.Pagi ini, untuk kelima kalinya dalam seminggu terakhir, ia terbangun dengan rasa mual yang bukan berasal dari lambung, melainkan sebuah sensasi pening yang berputar hebat di kepalanya. Saat ia mencoba berdiri dari kursi kerjanya, dunia seolah miring. Jantungnya berdegup tidak beraturan, dan ada rasa
Read more