"BILANG SAMA DIA IBU SAYA SEKARAT!"Teriakanku menggema, memantul di dinding-dinding marmer lobi rumah sakit yang tinggi. Suaraku serak, pecah oleh kepanikan yang mencapai titik didih.Orang-orang di sekitar menoleh. Tatapan mereka bervariasi antara kaget, kasihan, dan terganggu. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli pada citra, harga diri, atau sopan santun. Di balik pintu tertutup di lantai atas, jantung ibuku sedang berjuang untuk berdetak, dan birokrasi sialan ini menghalanginya."Mbak, harap tenang!"Dua orang satpam berseragam safari biru tua mendekat dengan cepat. Wajah mereka tegas namun waspada."Ini rumah sakit, Mbak. Tolong jangan berteriak. Mengganggu kenyamanan pasien lain," tegur salah satu satpam, mencoba meraih lenganku untuk menahanku."Lepasin!" Aku menepis tangannya kasar. "Ibu saya butuh operasi! Kalian nggak ngerti! Dia butuh tanda tangan!""Kami mengerti, tapi Mbak harus ikut kami ke pos keamanan dulu untuk menenangkan diri. Mari."Mereka mulai memaksaku. Cengkerama
Baca selengkapnya