Pagi di Penthouse biasanya diawali dengan aroma kopi arabica yang kuat dan menenangkan.Dulu, aku menyukainya. Aroma itu identik dengan Arjuna, dengan kemewahan, dengan awal hari yang baru.Namun pagi ini, aroma itu terasa seperti racun.Aku duduk di kursi meja makan, tubuhku kaku. Keringat dingin mulai merembes di punggungku, membasahi daster katun tipis yang kupakai.Di ujung meja, Arjuna duduk dengan postur tegak yang biasa. Dia mengenakan kemeja biru muda yang licin, dasi navy terikat sempurna.Tangannya memegang tablet, matanya bergerak cepat membaca pergerakan saham gabungan pagi ini. Dia terlihat tenang, berwibawa, dan tidak terjangkau.Di seberangku, Luna duduk sambil memegang mangkuk sereal. Dia mengenakan piyama satin pink, rambutnya masih sedikit berantakan tapi make-up tipis sudah menutupi jejak mabuknya semalam.Dia mengunyah dengan suara kriuk yang entah kenapa terdengar sangat nyaring dan mengganggu di telingaku."Mbak Alea, ini sarapannya."Suara Mbok Nah membuatku ter
Terakhir Diperbarui : 2026-02-25 Baca selengkapnya