"Pewaris?"Suara Luna melengking, memecahkan atmosfer pemujaan yang baru saja diciptakan Arjuna di sekitar perutku.Arjuna masih berlutut, tangannya masih menempel di perutku yang hangat. Dia menoleh perlahan ke arah putrinya, wajahnya masih menyisakan jejak euforia obsesif yang mengerikan.Luna mundur selangkah, matanya membelalak lebar, menatap ayahnya seolah melihat monster berkepala dua."Papa gila..." desisnya, menggelengkan kepala dengan cepat. "Papa bener-bener udah gila!""Jaga bicaramu, Luna," tegur Arjuna dingin, mulai bangkit berdiri."Nggak mau!" jerit Luna histeris. Air mata kemarahan menyembur keluar. "Itu anak haram, Pa! Itu anak pelacur! Papa mau jadiin dia pewaris? Papa mau gantiin aku sama benih sampah itu?!""Dia adikmu," koreksi Arjuna tajam. "Darah daging saya. Sama sepertimu.""NGGAK SAMA!"Luna meledak. Kewarasannya putus. Rasa sakit hati, cemburu, dan ketakutan akan tergantikan membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri."Gue nggak sudi punya adek dari
Read more