Pintu kamar rawat VVIP diketuk tiga kali dengan irama yang tegas dan formal."Masuk," perintah Arjuna tanpa menoleh dari layar tabletnya.Pintu terbuka. Pak Sanjaya, pengacara kepercayaan keluarga Diwangsa, melangkah masuk.Dia mengenakan setelan jas hitam yang licin, membawa tas kulit tebal yang terlihat berat.Wajahnya datar, tipe wajah yang tidak akan menunjukkan emosi meski dunia kiamat, selama bayarannya lancar."Selamat siang, Pak Arjuna. Bu Alea," sapanya sopan.Aku mengangguk lemah dari atas ranjang. Tubuhku masih terasa nyeri pasca-operasi, tapi rasa nyeri di hatiku jauh lebih dominan setelah percakapan tentang "penghapusan sejarah" Luna kemarin."Dokumennya sudah siap?" tanya Arjuna langsung pada intinya."Sudah, Pak. Lengkap sesuai instruksi Bapak kemarin malam."Pak Sanjaya mengeluarkan tumpukan berkas tebal dari tasnya. Kertas-kertas legal dengan kop surat resmi, materai, dan stempel notaris basah.Dia meletakkannya di meja dorong yang biasa digunakan untuk makan pasien,
Read more