"Secara medis, rahim Ibu Alea sudah pulih sempurna. Jahitannya sudah kering dan kuat."Dokter kandungan senior itu menutup berkas medis di tangannya, lalu tersenyum sopan pada Arjuna yang duduk di sampingku."Jadi, untuk hubungan suami istri... sudah aman dilakukan, Pak. Lampu hijau."Dua kata itu—Lampu hijau—terdengar seperti suara sirene peringatan di telingaku.Aku duduk kaku di kursi pasien, meremas tas tanganku. Jantungku berdegup kencang, bukan karena gairah, tapi karena kecemasan.Selama empat puluh hari terakhir—masa nifas—aku merasa aman.Masa nifas adalah tameng alu. Arjuna tidak menyentuhku secara seksual. Dia membiarkanku fokus pada Altair, pada ASI, pada pemulihan. Meskipun dia tetap obsesif dan mengontrol, setidaknya tubuhku adalah milikku (dan Altair) sepenuhnya.Tapi hari ini, tameng itu dicabut.Arjuna mengangguk puas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti."Terima kasih, Dok," ucapnya, lalu menoleh padaku. Tatapannya gelap, tajam, dan lapar.
Read more