Sinar matahari pagi menembus tirai tipis ruang makan Penthouse, menyinari meja marmer hitam yang kini dipenuhi oleh menu sarapan sehat: roti gandum, buah potong, dan segelas susu hangat.Waktu telah berlalu, membawa perubahan yang halus namun signifikan di setiap sudut rumah ini."Altair, jangan mainin dasinya terus. Nanti kusut," tegurku lembut namun tegas.Aku berdiri di depan seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang sedang duduk di kursi makan. Altair Diwangsa.Dia tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas, dan sedikit keras kepala—persis seperti ayahnya. Dia mengenakan seragam sekolah dasar internasional yang rapi, kemeja putih dan celana pendek navy, lengkap dengan dasi kupu-kupu kecil.Aku merapikan dasinya dengan gerakan cekatan."Tapi Ma, ini gatel," keluh Altair, mengerucutkan bibirnya."Biar ganteng kayak Papa," jawabku sambil tersenyum, mengusap pipinya yang mulai tirus, kehilangan lemak bayi.Aku melihat pantulan diriku di cermin buffet.Alea Zahra yang berdiri di sana
Read more