Bunyi beep elektronik memecah keheningan ruang tamu penthouse.Pintu baja utama terbuka. Langkah kaki berat beradu dengan lantai marmer. Ritmenya memburu, tidak teratur, dan sarat akan agresi yang tertahan.Aku duduk di sofa kulit, meletakkan buku bacaanku ke atas meja kaca.Arjuna melangkah masuk ke ruang tengah. Pria itu tidak membawa koper kabinnya. Jas abunya sudah entah di mana. Dasi sutranya menggantung longgar, ditarik paksa hingga kerah kemejanya berantakan.Suamiku baru saja mendarat dari Surabaya. Dan dia pulang membawa badai.Arjuna berhenti dua meter di depanku. Dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang pekat memindai seluruh tubuhku, memastikan tidak ada satu goresan pun secara fisik."Ceritakan padaku," tuntut Arjuna tanpa sapaan. Suaranya serak dan berat."Kau baru saja mendarat, Mas. Duduklah du—""Katakan padaku apa yang dia ucapkan di meja makan siang tadi." Arjuna memotong kalimatku secara mutlak. "Setiap kata, Alea. Tanpa sensor."Aku menatap lurus ke matanya.
Read more