Share

BAB 252

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-03-31 08:05:07

Suara derit matras karet yang bergesekan dengan lantai kayu parket memecah keheningan studio.

Aku melangkah masuk melewati pintu kaca. Suhu ruangan sengaja diatur sedikit hangat untuk persiapan kelas vinyasa. Keringat tipis langsung terbentuk di dasar leherku.

Raina sudah datang lebih dulu.

Wanita itu sedang duduk bersila di atas matrasnya. Melakukan peregangan ringan pada bahunya. Saat dia mendengar langkahku, Raina menoleh.

Sebuah senyum lebar seketika terbentuk di wajahnya.

Senyum itu menyen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 598

    Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 597

    Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 596

    Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 595

    Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 594

    Suara denting sendok perak beradu dengan piring porselen terdengar konstan.Menu makan malam ini adalah steik sapi lada hitam. Aku mengunyah potongan daging dengan ritme teratur. Arjuna duduk di ujung meja kayu jati. Suamiku membaca laporan audit di layar tabletnya sambil memotong daging.Tiba-tiba, bunyi dentingan tajam menghentikan rutinitas itu.Elang meletakkan garpu dan pisaunya secara bersamaan. Gerakannya sangat sengaja. Postur anak sembilan tahun itu menegak kaku."Aku punya rencana karier," umumkan Elang telak.Kalimat itu meluncur tanpa pemanasan. Aku menghentikan kunyahanku seketika. Arjuna mematikan layar tabletnya, menatap lurus ke arah putranya.Kami berdua tidak bereaksi berlebihan. Tidak ada tawa meremehkan dari orang dewasa di ruangan ini."Kau baru berumur sembilan tahun, Elang," tanggapku datar."Usia biologis tidak menghentikan otakku untuk menyusun target jangka panjang, Ummi."Arjuna menggeser tabletnya ke samping. Dia melipat kedua lengannya di depan dada, membe

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 593

    Sol sepatu lariku menghantam beton trotoar secara konstan.Satu, dua. Satu, dua.Udara pagi Jakarta terasa dingin menembus jaket training-ku. Napasku teratur. Jantungku memompa darah dengan ritme stabil, mengirimkan pasokan oksigen murni ke seluruh sel otak.Aku berjalan cepat seorang diri. Jalanan kompleks perumahan masih sangat sepi. Hanya ada suara gesekan dedaunan kering yang tertiup angin dan langkah kakiku sendiri.Ponsel di saku celanaku bergetar pendek. Aku menekan tombol pada earphone nirkabel di telinga kanan."Kau berbelok di blok mana?"Suara bariton Arjuna langsung memecah keheningan di telingaku. Suamiku tidak pernah membuang waktu untuk mengucapkan salam selamat pagi."Blok empat," jawabku tanpa mengurangi kecepatan langkah. "Kau sudah di dapur?""Aku sedang menyeduh kopimu. Kau berjalan terlalu jauh dan terlalu cepat pagi ini.""Otakku butuh ruang terbuka untuk memproses data baru, Juna.""Data tentang kerangka draf ketigamu?""Bukan hanya drafku." Aku mengayunkan tang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status