Sepuluh menit lebih awal.Aku duduk di meja yang sama dengan pertemuan traumatis tempo hari. Mataku terpaku pada pintu kaca masuk restoran lantai tiga puluh lima ini. Setiap pengunjung yang masuk kupindai dengan ketajaman pisau bedah.Suhu pendingin ruangan terasa lebih menusuk dari biasanya. Atau mungkin itu hanya reaksiku terhadap antisipasi serangan psikologis yang akan datang.Lalu, dia muncul.Raka Wibisana melangkah masuk tepat saat jarum jam menunjuk angka dua belas. Tidak ada jas navy yang kaku. Tidak ada dasi sutra yang mencekik.Dia hanya mengenakan kemeja katun hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku. Penampilannya jauh lebih manusiawi, namun justru itu yang membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih berbahaya.Raka menarik kursi di hadapanku tanpa meminta izin."Terima kasih sudah datang, Alea," ucapnya. Suara baritonnya tidak lagi membawa nada dominasi korporat yang dingin."Saya hadir karena penasaran," balasku tanpa basa-ba
Read more