Pagi ini, udara di lantai eksekutif Diwangsa Corp terasa berbeda.Biasanya, saat aku melangkah keluar dari lift karyawan, aku akan disambut oleh kesibukan yang wajar—suara telepon, mesin fotokopi, dan sapaan basa-basi dari beberapa staf administrasi yang ramah.Namun hari ini, begitu pintu lift terbuka, kesibukan itu seolah terhenti sejenak.Hening.Beberapa kepala yang sedang menunduk di balik kubikel mendadak terangkat, menatap ke arahku, lalu dengan cepat menunduk lagi saat mataku membalas tatapan mereka. Ada bisik-bisik yang langsung terputus, menyisakan ekor kalimat yang menggantung canggung di udara.Aku berjalan menuju mejaku dengan langkah ragu. Cincin berlian di balik kemejaku terasa berat, seolah menarikku ke bawah."Pagi, Mbak Dini," sapaku pada resepsionis depan.Dini, yang biasanya ceria dan suka memuji bajuku, kali ini hanya mengangguk kaku. Dia tidak tersenyum. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, menghindari kontak mata denganku, seolah aku membawa virus menular."Pag
Last Updated : 2026-01-28 Read more