Rusdi keluar dari rumah utama dengan wajah datar. Hinaan Adisty tadi memang tajam, tapi Rusdi sudah kebal. Bagi dia, Adisty hanyalah gadis manja yang minta ditaklukkan, bukan hantu yang harus ditakuti.'Tunggu saja tanggal mainnya, Non. Kita lihat siapa yang menang nanti,' batin Rusdi dingin.Rusdi berjalan santai menuju gudang belakang. Sebelum jam istirahat habis, ada satu urusan pribadi yang harus dia lakukan. Dia sudah lama penasaran dengan satu titik di taman ini.Dia mengambil sekop kecil, lalu berjalan tenang menuju sudut taman paling sepi, di balik rimbunan pohon pisang hias yang gelap. Tempat itu jauh dari jangkauan siapa pun.Rusdi berjongkok. Matanya menatap tanah di bawah akar pohon besar itu dengan tatapan tajam."Harusnya di sekitar sini..." gumamnya pelan. "Petunjuknya bilang di sini."Tanpa ragu, dia mulai menggali.Crak! Crak!Gerakannya cepat. Dia menggali lubang yang lumayan dalam, membalikkan tanah merah yang basah. Matanya awas melihat setiap gumpalan tanah yang t
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya