Angin malam di taman itu menusuk tulang, tapi Rusdi justru merasa gerah. Di sampingnya, Nyonya Vivian terus merapat, mencari perlindungan di balik lengan kokoh Rusdi."Rus, bawa aku masuk. Aku tidak kuat di sini," bisik Vivian. Suaranya bergetar, separuh karena dingin, separuh karena takut.Rusdi mengangguk cepat. "Lewat pintu samping, Nyonya. Pegangan pada saya."Dia melingkarkan tangannya di pinggul lebar Vivian yang terbungkus daster satin tipis. Kulit majikannya itu terasa sangat licin dan hangat. Setiap langkah mereka di atas rumput basah membuat tubuh montok Vivian bergoyang, sesekali payudaranya yang jumbo menekan lengan Rusdi dengan nyata.Mereka menyelinap masuk lewat pintu paviliun yang sepi. Koridor rumah utama remang-remang. Rusdi terus membimbingnya sampai mereka tiba di depan pintu kamar tamu, karena Vivian tidak ingin tidur di kamar utama.Klik.Pintu tertutup. Vivian langsung mengunci grendelnya. Dia berbalik, menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh itu. Napa
Last Updated : 2026-03-10 Read more