Share

Bab 126

Penulis: Arandiah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 18:19:43

Mobil Kijang tua itu mengerem mendadak di depan pintu IGD rumah sakit kota. Rusdi langsung melompat keluar bahkan sebelum mesin mobil benar-benar mati.

"Suster! Tolong, Sus! Ibu saya kritis!" teriak Rusdi kalap ke arah perawat yang sedang berjaga di depan.

Dua orang perawat sigap membawa tandu dorong. Rusdi kembali mengangkat tubuh ibunya dari dalam mobil. Saat dia menarik tubuh ibunya, Siti yang memangkul kepala sang ibu ikut terdorong maju. Dada Siti yang besar dan kenyal kembali tertekan ker
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 166

    Suasana di meja VVIP itu hening mencekam. Musik jazz dari panggung di kejauhan rasanya tidak terdengar lagi di telinga Rusdi. Dia berdiri kaku di samping pilar, matanya memandangi Tuan Adrian yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.Tuan Adrian terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Tangannya yang memegang kotak beludru itu gemetar hebat sampai-sampai gelang emas putih di dalamnya ikut bergetar dan memantulkan cahaya lampu dengan liar.Adisty yang duduk di seberang kakaknya mulai tidak sabar. Dia tidak tahu kalau kakaknya sedang ketakutan setengah mati. Di pikiran sempit Adisty, kakaknya diam karena sedang menahan amarah yang meledak-ledak pada Vivian."Mas? Kok diam saja?" tanya Adisty dengan nada mendesak.Adisty berdiri dari kursinya dan mencondongkan tubuh ke arah Adrian untuk melihat isi kotak itu lebih jelas.Gerakan tiba-tiba itu membuat gaun hitam Adisty yang potongannya sangat rendah itu melorot sedikit. Rusdi yang posisinya agak menyamping bisa melihat deng

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 165

    Kamar utama Tuan Adrian dan Nyonya Vivian rasanya seperti dunia lain bagi Rusdi karena begitu pintu kayu jati yang berat itu tertutup, suara musik pesta di luar langsung hilang dan suasana menjadi hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mendengung halus.Vivian berdiri di depan meja rias memunggungi Rusdi karena dia sedang melepas anting berliannya. Rusdi berdiri kaku di dekat pintu namun matanya nakal karena dia tidak bisa berhenti menatap punggung Vivian yang terbuka lebar di balik gaun merahnya.Kulit punggung majikannya itu terlihat putih, mulus, dan sangat empuk jika disentuh sehingga membuat Rusdi harus menelan ludah susah payah untuk menahan pikirannya agar tidak melayang ke mana-mana."Kunci pintunya, Rusdi," perintah Vivian dengan nada datar."Baik, Nyonya," jawab Rusdi cepat lalu dia memutar kunci pintu yang terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.Vivian menunjuk ke arah ranjang besar di tengah ruangan lewat pantulan cermin dan berkata bahwa tasnya ada di atas kasur.

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 164

    Ketegangan di meja makan itu rasanya mencekik leher Rusdi. Dia berdiri kaku di samping kursi Tuan Adrian dengan botol minuman di tangan kanan. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya karena situasi di bawah meja semakin gila.Adisty benar-benar nekat.Di atas meja, wanita itu tersenyum manis ke arah Walikota seolah dia wanita paling sopan di dunia. Tapi di bawah taplak meja yang panjang itu, ujung sepatu hak tingginya sedang menekan paha Rusdi dengan kuat."Aduh," desis Rusdi pelan sekali.Ujung sepatu yang lancip itu menekan tepat di saku kiri celana Rusdi. Di sana ada kotak beludru berisi gelang palsu. Adisty sepertinya tahu kalau Rusdi menyimpan barang itu di sana dan dia sengaja menekannya sebagai kode keras."Kenapa diam saja? Tuang dong," tegur Adisty dengan nada manja.Rusdi menunduk sedikit untuk menuang minuman ke gelas Adisty. Mata Rusdi langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Gaun malam Adisty yang berwarna hitam itu potongannya sangat rendah.Ka

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 163

    Jantung Rusdi rasanya mau copot. Dia sudah mengepalkan tangan kanan, siap melayangkan pukulan ke rahang siapa pun yang berani menyergapnya.Tapi begitu dia berbalik, wajah brengos Pak Ujang yang merah padam memenuhi pandangannya. Kumis tebal pria tua itu bergetar saking marahnya."Pak Ujang..." desis Rusdi, menurunkan kepalan tangannya perlahan. Kakinya masih gemetar sisa kaget tadi."Pak Ujang, Pak Ujang! Mata kamu buta apa?" semprot Pak Ujang. Telunjuknya menusuk-nusuk dada Rusdi, tepat di samping saku kemeja. "Itu di depan sudah kayak perang dunia! Tamu VVIP di meja nomor satu minta refill wine dari lima menit lalu, pelayan lain malah sibuk angkut piring kotor!""Ma-maaf, Pak Ujang. Saya tadi...""Simpan maafmu buat Tuan Adrian kalau dia ngamuk!" potong Pak Ujang kasar.Tanpa babibu, Pak Ujang mencengkeram lengan atas Rusdi. Cengkeramannya kuat sekali, jari-jari tua yang biasa memeras kain pel itu menekan otot bisep Rusdi. Pak Ujang menyeretnya paksa menjauh dari kamar, kembali ke

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 162

    Rusdi menyelinap keluar dari ruang laundry dengan langkah cepat. Udara di lorong belakang terasa panas dan pengap. Bau bumbu sate yang dibakar di dapur katering bercampur dengan asap rokok para sopir tamu yang mulai berdatangan memenuhi area parkir."Awas! Minggir!" teriak salah satu koki yang membawa panci besar berisi kuah panas.Rusdi melompat ke samping, nyaris saja tersiram. "Santai, Bang. Tumpah melepuh semua itu badan.""Makanya jangan menghalangi jalan! Tamu sudah mulai masuk!" balas koki itu ketus tanpa menoleh.Rusdi tidak menjawab. Dia mempercepat langkah kakinya, setengah berlari melewati deretan tong sampah besar di area belakang yang baunya menyengat. Suara musik jazz dari arah taman terdengar sayup-sayup, tertutup oleh suara piring beradu di tempat cuci piring.Dia menuju deretan kamar petak pelayan di ujung lahan yang sepi. Begitu sampai di depan pintu kamarnya yang catnya sudah mengelupas, Rusdi menengok kanan-kiri.Sepi. Aman.Dia memutar kunci, masuk, dan langsung m

  • Nyonya Puas Abang Lemas   Bab 161

    Matahari siang itu terasa seperti membakar ubun-ubun. Halaman belakang rumah Tuan Adrian sudah berubah menjadi medan perang. Teriakan mandor dekorasi bersahutan dengan bunyi besi tenda yang dipasang.Rusdi baru saja membanting peti kayu berisi botol wine mahal ke atas meja bar di pinggir kolam. Otot bisepnya menegang, urat-urat di lengannya menyembul jelas karena kerja keras. Kaos kerjanya sudah basah kuyup, mencetak jelas bentuk dada bidangnya."Rusdi! Sini!"Suara berat Pak Ujang memecah kebisingan. Rusdi menoleh, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Kepala pelayan tua itu berjalan cepat ke arahnya, wajahnya kusut dan tegang."Kenapa, Pak? Ada yang pecah?" tanya Rusdi, napasnya masih memburu.Pak Ujang berkacak pinggang, matanya memindai tubuh Rusdi dari ujung kaki sampai kepala. Tatapannya seperti orang mau menaksir harga sapi."Badanmu tegap. Muka juga nggak hancur-hancur amat kalau dilap," gumam Ujang."Maksud Bapak?""Dua pelayan sewaan dari agensi tepar. Keracuna

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status