Kini Rusdi memelankan gerakannya, dia menatap mata Vivian yang tampak lelah di balik gairahnya. Di atas sofa itu, Rusdi tidak lagi merasa seperti pelayan yang sedang mencuri waktu, melainkan seperti satu-satunya orang yang benar-benar mengenal wanita di pelukannya ini. Tangannya yang kasar mengusap lembut pipi Vivian yang halus."Nyonya sebenarnya capek kan dengan semua sandiwara ini?" bisik Rusdi pelan, suaranya sangat tulus.Vivian terdiam sebentar, dia menyandarkan kepalanya di bahu Rusdi yang kokoh. Payudaranya yang jumbo dan sangat empuk itu terasa menekan dada Rusdi, memberikan rasa hangat yang menenangkan. Kulitnya yang putih bersih tampak begitu kontras dengan warna sofa yang gelap."Cuma sama kamu aku bisa napas lega, Rus. Di luar sana, semua orang cuma mau manfaatin aku atau benci sama aku," jawab Vivian lirih sambil tangannya membelai dada Rusdi.Rusdi membawa tangannya untuk mendekap punggung Vivian yang terbuka. Dia merasakan betapa halusnya kulit majikannya itu, licin se
Last Updated : 2026-03-04 Read more