Rusdi memacu tangannya semakin cepat sesuai perintah. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, menetes jatuh ke lantai kayu gazebo. Napasnya memburu kasar, terdengar beda sekali dengan napas Adisty yang tenang dan teratur. "SAYA CUMA KACUNG NON ADISTY!" teriak Rusdi dengan suara serak, mengulang kata-kata yang menghancurkan harga dirinya itu. Adisty tersenyum miring melihat pemandangan di depannya. "Bagus. Lihat diri kamu, Rus. Menyedihkan sekali." "Non ... Non Adisty ...," rintih Rusdi, matanya terpejam erat. "Saya ... saya nggak kuat ... Mau keluar, Non ...." Adisty tertawa kecil. Dia menarik kakinya menjauh sedikit, lalu dengan gerakan tiba-tiba, dia menempelkan telapak kakinya tepat di ujung kepala milik Rusdi, menahan lubang keluarnya dengan tumit. "Eits, siapa yang suruh keluar sekarang?" larang Adisty kejam. Rusdi membelalak kaget. Tubuhnya kaku karena ditahan paksa. Rasanya sakit dan nikmat di saat bersamaan. "Ja-jangan ditahan, Non ... Sakit ...," mohon Rusdi. "Taha
Last Updated : 2026-01-20 Read more