Hana baru saja melangkah menuju pintu dapur saat ia tiba-tiba berhenti dan menepuk dahinya pelan. Ia berbalik, lalu berjalan kembali ke arah Rusdi yang masih termenung menatap pot bougenville yang hancur. "Eh, Mas Rusdi! Gelas Hana ketinggalan satu," seru Hana sambil nyengir lebar. Rusdi mendongak, sedikit terkejut melihat gadis itu balik lagi. "Oalah, kirain ada apa, Han." Hana tidak langsung mengambil gelasnya lalu pergi. Ia malah ikut duduk di emperan semen pembatas taman yang teduh di bawah pohon mangga, tepat di samping tempat Rusdi berjongkok. Ia mengambil segelas es teh miliknya yang tadi belum sempat terminum, lalu menegaknya sedikit. "Seger banget, Mas. Mas nggak minum lagi? Masih ada tuh di teko kecil," tawar Hana sambil menyodorkan gelasnya yang berembun. Rusdi menggeleng pelan. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor terkena tanah. "Sudah cukup, Han. Makasih." Suasana mendadak hening. Hana memperhatikan cara Rusdi bekerja, gerakannya yang efis
Last Updated : 2026-01-06 Read more