Rusdi mengatur napasnya yang masih memburu. Matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di depannya. Adisty, Nona Mudanya yang biasanya anggun dan tak tersentuh, kini berantakan total di lantai gazebo.Kulitnya yang putih mulus itu kini penuh bercak merah sisa cengkeraman tangan Rusdi. Saat Adisty mencoba bangun dengan tangan gemetar, Rusdi menelan ludah. Dia melihat bagaimana payudara Adisty yang besar dan berat itu berguncang pelan di balik kain bajunya yang sudah acak-acakan. Kancing bagian atas blusnya lepas entah sejak kapan, memperlihatkan belahan dadanya yang dalam, padat, dan putih bersih. Pemandangan daging empuk yang menyembul itu membuat darah Rusdi kembali berdesir kencang meski dia baru saja selesai menuntaskan hasratnya.Gadis itu merintih pelan saat mencoba menumpu berat badannya. Kakinya yang jenjang dan mulus tampak sangat rapuh, gemetar hebat saking lemasnya digempur tadi."Waduh, apa aku kekencangan tadi?" batin Rusdi cemas. Naluri wong cilik-nya muncul, dia refleks m
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya