Tiba-tiba, Adisty mengangkat pinggulnya dan melepaskan jepitan pahanya dari wajah Rusdi. "Hah ... hah ... hah ..." Rusdi langsung menghirup udara dengan rakus begitu wajahnya bebas. Dadanya naik turun dengan cepat, paru-parunya serasa mau meledak saking leganya bisa bernapas kembali. Wajahnya basah kuyup oleh cairan Adisty yang lengket dan berbau khas. Namun, belum sempat Rusdi menormalkan napasnya, Adisty sudah mendengus kesal sambil menatapnya tajam. Wajah cantik itu memerah padam, matanya sayu karena gairah, tapi bibirnya tetap saja cemberut mengejek. "Minggir. Lidah kamu payah, kaku sekali seperti kayu," omel Adisty ketus, padahal napasnya sendiri tersengal-sengal nikmat. "Lama banget bikin aku puasnya. Kalau nungguin kamu pintar main lidah, keburu tua aku. Dasar laki-laki tidak berguna, bisanya cuma bikin orang penasaran saja." "Ahh ... Ma-maaf, non..." 'Galak sekali,' batin Rusdi sambil menatap wajah majikannya yang merah merona. 'Padahal tadi dia mendesah kencang sekali wa
最終更新日 : 2025-12-28 続きを読む