“Nona Violet, yang sabar ya, Nona,” ujar Bu Tania saat Marko sudah pergi dari warung kecilnya. Violet menghela napas pelan, menatap cangkir teh di hadapannya yang sudah tidak mengepul lagi. “Tidak apa-apa, Bu. Seharusnya hal ini sudah dari dulu terjadi,” kata Violet dengan senyum kecut. “Hanya saja, Marko punya cara licik untuk melakukannya.” Bu Tania mengelus lembut tangan Violet yang tergeletak di atas meja. Wanita paruh baya itu tidak tega melihat Violet yang terlihat begitu rapuh. Ia bisa merasakan bahwa Violet sedang berusaha keras tampak kuat dan menutupi kerapuhannya, padahal gadis itu begitu hancur—untuk kedua kalinya. “Seharusnya aku tidak mengenal cinta darinya. Kenapa aku bodoh ya, Bu?” celetuk Violet dengan nada penuh penekanan. Suaranya bergetar menahan tangis. “Kenapa aku sangat bodoh dulu? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang yang dulu aku bilang malaikat dalam hidupku, tapi ternyata iblis licik yang mengincar hartaku?” Violet mengingat dirinya di masa lalu—
Terakhir Diperbarui : 2026-01-08 Baca selengkapnya