Share

Bab : 4

Author: HALLOSEAN
last update Last Updated: 2026-01-08 15:17:50

“Nona Violet, yang sabar ya, Nona,” ujar Bu Tania saat Marko sudah pergi dari warung kecilnya.

Violet menghela napas pelan, menatap cangkir teh di hadapannya yang sudah tidak mengepul lagi.

“Tidak apa-apa, Bu. Seharusnya hal ini sudah dari dulu terjadi,” kata Violet dengan senyum kecut. “Hanya saja, Marko punya cara licik untuk melakukannya.”

Bu Tania mengelus lembut tangan Violet yang tergeletak di atas meja. Wanita paruh baya itu tidak tega melihat Violet yang terlihat begitu rapuh. Ia bisa merasakan bahwa Violet sedang berusaha keras tampak kuat dan menutupi kerapuhannya, padahal gadis itu begitu hancur—untuk kedua kalinya.

“Seharusnya aku tidak mengenal cinta darinya. Kenapa aku bodoh ya, Bu?” celetuk Violet dengan nada penuh penekanan. Suaranya bergetar menahan tangis. “Kenapa aku sangat bodoh dulu? Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang yang dulu aku bilang malaikat dalam hidupku, tapi ternyata iblis licik yang mengincar hartaku?”

Violet mengingat dirinya di masa lalu—saat pertama kali mengenal Marko dengan senyum manisnya, saat Marko melamarnya dengan kata-kata indah, saat pernikahan mereka yang terlihat sempurna. Semua itu ternyata hanya sandiwara belaka.

“Sudah, Nak. Jangan diingat-ingat lagi,” gumam Bu Tania dengan lembut, berusaha memberi kekuatan pada Violet. “Anggap ini ujian dari Tuhan yang harus Nona Violet jalani dan perjuangkan. Jadi, lupakan saja masa lalu dan cari pengalaman baru. Ibu yakin Nona Violet pasti bisa menghadapi ini semua.”

Violet tersenyum—senyum yang tulus meskipun air mata hampir tumpah. Ia merasa terharu mendengar nasihat Bu Tania yang selalu mengingatkannya pada kedua orang tuanya, terutama almarhum ibunya yang sudah lama tiada.

“Terima kasih ya, Bu,” ucap Violet dengan suara lirih.

Bu Tania hanya mengangguk pelan sambil terus menggenggam tangan Violet dengan hangat.

“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Bu—untuk mengatasi semua masalah ini dan mengambil hakku kembali,” gumam Violet dengan senyum tipis yang mulai menunjukkan tekad. “Ya sudah, Bu. Violet tidak bisa berlama-lama di sini karena waktu Violet hanya dua jam. Habis ini Violet mau ke pemakaman.”

“Iya, Non. Hati-hati di jalan, ya,” kata Bu Tania penuh perhatian.

“Kalau begitu, Violet pamit ya, Bu.”

Violet memeluk Bu Tania sejenak—pelukan yang penuh kehangatan dan rasa terima kasih—lalu melangkah pergi dengan langkah yang sedikit lebih mantap dibandingkan sebelumnya.

*****

“Ayo, Nona. Saya antar ke kamar Nona sekarang,” kata Sofia menyapa kedatangan Violet dengan senyum ramah yang membuat Violet merasa sedikit lebih baik setelah pertemuan menyakitkan dengan Marko tadi.

Sofia terpesona melihat Violet dari dekat. Ia tidak menyangka wanita yang akan menjadi Babysitter putri kecil tuannya itu begitu cantik dan sempurna—kecantikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan kecantikan mendiang istri tuannya pun tidak bisa menandingi kecantikan Violet.

“Sini, Nona. Biar saya saja yang bawakan barang Nona,” tawar Sofia sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.

Violet tersenyum canggung.

“Tidak usah, ini tidak berat kok. Biar saya saja,” tolaknya lembut.

“Tidak apa-apa, Nona Violet. Ini memang tugas saya. Sini, Nona,” kata Sofia bersahabat, tetap bersikeras.

Violet menghela napas pasrah. Dengan perasaan sedikit tidak enak, ia akhirnya memberikan tasnya kepada Sofia yang tersenyum tipis.

Tidak lama kemudian, mereka memasuki sebuah kamar yang cukup luas dan mewah. Kamar itu dilengkapi berbagai fasilitas—tempat tidur queen size dengan seprai putih bersih yang tampak sangat lembut, lemari pakaian besar dari kayu mahoni, meja rias dengan cermin besar dan lampu-lampu cantik di sekelilingnya, sofa kecil berwarna krem di sudut ruangan dengan meja kopi mungil, serta televisi layar datar yang terpasang di dinding. Namun, yang paling menarik perhatian Violet adalah warna dominan kamar itu—biru muda, warna kesukaannya sejak kecil.

Violet menatap sekeliling dengan mata berbinar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Ini....benar kamar untuk saya?” tanyanya pelan, nyaris berbisik—takut semua ini hanya mimpi.

Sofia mengangguk sambil tersenyum hangat.

“Ya, Nona. Ini kamar Nona.”

Violet masih terlihat tidak percaya.

“Kenapa harus sebagus ini? Saya di sini cuma Babysitter, sama seperti kalian,” ucapnya bingung dan sedikit tidak enak hati.

Sofia meletakkan tas Violet di atas tempat tidur dengan hati-hati, lalu menatapnya kembali.

“Soal itu saya juga tidak tahu, Nona. Saya hanya diperintahkan oleh Tuan Jevir untuk mengantar Nona ke kamar ini. Mungkin Tuan Lucas memilih kamar ini karena letaknya tepat di depan kamar putri kecilnya. Jadi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan—terutama di tengah malam—Nona tidak perlu berjalan jauh,” jelas Sofia logis.

Violet mengangguk paham. Penjelasan itu masuk akal.

“Kalau boleh tahu, namamu siapa?” tanya Violet sambil menatap Sofia lebih dekat.

“Saya Sofia, Nona,” jawabnya sopan.

“Nama yang cantik, seperti orangnya,” puji Violet tulus.

Sofia terkekeh malu. Pipinya sedikit memerah.

“Nona bisa saja. Tapi Nona juga sangat cantik.”

“Namanya juga wanita, pasti cantik. Tidak mungkin ganteng,” canda Violet.

Mereka tertawa kecil—momen ringan yang sangat dibutuhkan Violet setelah hari yang melelahkan.

“Sofia, bisakah kamu jangan memanggilku ‘Nona’? Panggil saja namaku, Violet,” pinta Violet lembut.

Sofia menggeleng pelan.

“Tidak bisa.”

Violet mengernyit bingung.

“Kenapa tidak bisa? Aku di sini sama seperti kalian, hanya beda pekerjaan saja. Aku bukan siapa-siapa,” jelas Violet tegas namun tetap lembut.

“Tapi—”

“Tidak, Sofia,” potong Violet lembut. “Panggil aku Violet saja.”

Sofia menghela napas pelan, akhirnya menyerah.

“Baiklah… Violet,” ucapnya sedikit canggung.

Violet tersenyum, merasa lebih nyaman.

“Umurmu berapa, Sofia?” tanya Violet penasaran.

“Sembilan belas tahun. Sebentar lagi dua puluh,” jawab Sofia.

“Kamu masih sangat muda,” gumam Violet. “Kenapa kamu sudah bekerja di sini? Kenapa tidak kuliah saja?”

Ekspresi Sofia berubah samar.

“Saya ingin menggantikan posisi ayah saya. Kalau kuliah… saya tidak mungkin bisa.”

“Kenapa?” tanya Violet sangat lembut.

Sofia menunduk sejenak sebelum menjawab,

“Karena saya tidak pernah sekolah. Ayah saya dulu kepala kebun di mansion ini, tapi beliau jatuh sakit parah. Biaya pengobatannya mahal. Jadi saya menggantikan beliau. Tuan Lucas sangat baik—beliau menanggung semua biaya pengobatan ayah saya dan memberi kami tempat tinggal.”

Hati Violet mencelos.

“Kamu hebat, Sofia,” ucap Violet tulus sambil menggenggam tangan gadis itu. “Ayahmu pasti sangat bangga padamu.”

Sofia tersenyum hangat.

“Terima kasih, Violet. Kamu juga orang yang hebat.”

Violet terdiam. Ia tidak merasa hebat. Ia hanya seseorang yang selamat dari kehancuran—retak, terluka, namun masih berdiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 10

    Suara berat dan dingin itu membuat Sofia dan Stella terdiam seketika. Suasana langsung berubah tegang. Bahkan Stella yang tadi terlihat percaya diri, kini wajahnya sedikit pucat. Lucas. Pria itu berdiri di ujung koridor dengan Jevir di sampingnya. Auranya sangat kuat—begitu menakutkan hingga siapa pun yang berada di dekatnya langsung merasa tertekan. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, dan ekspresinya… sangat, sangat marah. Lucas melangkah mendekati dengan langkah pelan tetapi penuh wibawa. Setiap langkahnya terdengar menggema di koridor yang kini sunyi senyap—semua orang menahan napas, tidak ada yang berani bergerak. Saat Lucas sampai di tempat kejadian, matanya langsung tertuju pada Violet yang terduduk di lantai dengan luka-luka di tubuhnya, pakaian yang basah karena kopi, serta ekspresi wajah yang menahan sakit. Namun, tanpa ada rasa kasihan—karena Lucas bukanlah orang yang berbaik hati kepada siapa pun, apalagi kepada para pelayannya—ia langsung mengalihkan pandangannya k

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 9

    PYAAARR— “Aw!” Violet terjatuh dengan posisi duduk menyamping. Ia merintih kecil ketika air panas dan pecahan gelas kaca mengenai sisi tubuhnya. Lutut kiri dan telapak tangan kanannya terluka akibat tergores pecahan kaca yang tajam. Darah mulai merembes keluar dari luka-luka itu. Sementara itu, Stella yang berdiri di depannya langsung menutup mulut dengan kedua tangan, pura-pura memasang ekspresi kaget—seolah-olah bukan dirinya yang sengaja menjatuhkan Violet. Stella memang sengaja menabrak Violet saat Violet baru saja turun dari tangga lantai dua. Padahal, seharusnya Stella sedang naik ke lantai dua untuk mengantarkan kopi kepada Tuan Lucas. Kini, ia memiliki rencana licik terhadap Violet—rencana untuk menjatuhkannya sekali lagi di mata semua orang. Ia sengaja berjalan tanpa melihat, seolah-olah Violet tidak ada di hadapannya. Akibatnya, ia menabrak bahu Violet dengan keras. Cangkir kopi di tangannya terjatuh, bersamaan dengan Violet yang terhempas ke lantai marmer yang dingin.

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab : 8

    Di sore yang indah ini, Sofia mengajak Violet berkeliling area mansion besar milik tuan mereka. Sofia ingin Violet mengenal seluruh sudut mansion agar sewaktu-waktu Violet tidak kebingungan jika ingin berjalan-jalan atau mencari sesuatu di sekitar mansion yang sangat luas ini. Saat ini mereka berada di area taman belakang yang tidak jauh dari kolam renang. Taman ini sangat luas, dipenuhi berbagai jenis bunga yang tertata indah, sebuah air mancur kecil di tengahnya, serta pohon-pohon besar yang memberikan keteduhan. Violet terdiam takjub melihat taman seindah ini. Ia tidak menyangka akan menemukan pemandangan seindah ini di dalam area mansion. Bahkan semua yang sudah ditunjukkan Sofia sebelumnya—mulai dari perpustakaan pribadi, ruang musik, ruang makan mewah, hingga berbagai ruangan lainnya—membuatnya terpesona dan sulit percaya. “Sofia, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua yang sudah kau tunjukkan di sekitar mansion ini begitu indah,” ujar Violet dengan senyum senang. Pikir

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 7

    Di dalam mansion megah milik Lucas, semua pelayan yang ada di sana saling berbisik, membicarakan kejadian ketika Violet—yang baru saja bekerja di sana—berani keluar tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas. Kejadian itu membuat tuan mereka murka besar kepada Violet, dan gosip tersebut pun menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru mansion. Violet dan Sofia yang baru saja turun dari lantai dua dan berjalan menuju dapur untuk makan siang, tanpa sengaja mendengar beberapa pelayan lain sedang membicarakan Violet. Suara mereka memang tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas terdengar di koridor yang sepi. Sofia tampak kesal mendengarnya, sementara Violet hanya melirik sekilas tanpa menegur ataupun marah. Ia memilih untuk tetap diam dan melanjutkan langkahnya. “Parah, kan, dia? Baru saja diterima kerja di sini, sudah sok berkuasa,” kata salah satu pelayan wanita dengan nada mengejek. “Emangnya dia pikir Tuan Lucas tertarik sama dia?” sahut yang lain dengan nada meremehkan. Mereka tertawa—

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 6

    “Kamu dari mana saja, Violet?” tanya Sofia dengan nada penuh kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Ia begitu takut jika Violet sampai dimarahi Lucas. Apalagi Violet keluar dari mansion tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas—sesuatu yang sangat dilarang keras. Kemarahan Lucas pagi tadi benar-benar menakutkan. Pria itu murka saat mengetahui Violet dengan lancang keluar tanpa izin. Lucas tidak suka jika orang-orang yang bekerja di mansion-nya pergi tanpa sepengetahuan dan persetujuannya—itu adalah aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar. “Kamu tahu, Violet? Aku takut sekali saat kamu tidak ada di mansion tadi pagi,” gumam Sofia sambil duduk di tepi tempat tidur. “Dan aku benar-benar takut saat Tuan Lucas memarahimu tadi.” Sofia benar-benar ketakutan ketika mendengar dari orang-orang di mansion bahwa Violet dimarahi habis-habisan oleh Lucas. Ia tahu betul bagaimana Lucas jika sudah marah—meskipun kali ini memang Violet yang bersalah. Namun, yang membuat Sofia takut adalah ke

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 5

    Pagi ini, di Pengadilan Negeri, proses sidang perceraian Violet dan Marko yang telah berlangsung sejak tadi pagi akhirnya selesai. Keputusan hakim sudah dijatuhkan—mereka berdua resmi bercerai dan bukan lagi sepasang suami istri. Violet melirik ke arah Marko yang tersenyum manis ke arahnya—senyum yang membuat perutnya mual. Ia mengepal kuat kedua tangannya, menahan keinginan untuk menonjok bibir sialan itu agar tidak bisa tersenyum lagi. Apalagi saat ini ia juga melihat Clear—sahabat setia yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri—yang ternyata menusuknya dari belakang. Wanita itu kini berpelukan manja di dalam dekapan Marko dan terlihat sangat bahagia setelah tahu bahwa Marko dan Violet resmi bercerai. “Sayang, akhirnya kamu bercerai juga,” kata Clear dengan suara manjanya yang membuat Violet ingin muntah. Marko tersenyum tipis sambil mengecup singkat bibir Clear. “Iya, sayang. Akhirnya setelah ini kita bisa menikah,” ucap Marko sambil melirik ke arah Violet yang kini menatap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status