Share

Bab: 3

Penulis: HALLOSEAN
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 15:17:22

Violet terdiam sesaat. Kepalanya terangkat dengan dagu sedikit mendongak, kedua matanya melebar, sementara jari-jarinya bergerak gelisah.

“T-Tuan, apakah ini artinya saya diterima bekerja di sini?” tanyanya hati-hati.

Lucas meliriknya dengan tatapan dingin. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja.

“Apakah kau tidak mau?” suaranya dingin,

“Saya mau, Tuan!” sela Violet cepat dengan nada agak tinggi. Tubuhnya condong ke depan. Tangannya bahkan sudah memegang ujung kertas kontrak yang sempat ditarik Lucas.

“Saya akan menandatangani surat ini,” Violet menarik kontrak beserta pena dari genggaman Lucas.

Lucas tak bereaksi apapun. Ia hanya mengamati Violet yang langsung menandatangani kontrak tanpa membacanya terlebih dahulu.

“Ini, Tuan.” Violet menggeser kertas yang telah ditandatangani ke arah Lucas.

Lucas hanya melirik sekilas sebelum menyimpan kontrak tersebut.

“Jadi, apakah saya sudah mulai bekerja, Tuan? Lalu… saya akan tinggal di sini?” tanya Violet.

Lucas hanya mengangguk sebagai respons.

Ia menarik napas dalam. “Tuan, sebelum saya bekerja, bolehkah saya minta izin? Saya ingin berkemas beberapa barang di rumah,” suara Violet mengecil, takut apabila terlalu banyak tanya.

Lucas tidak menggubrisnya. Violet memang sudah diusir oleh Marko, namun ada beberapa hal yang harus ia urus.

Beberapa langkah kemudian, suara serak Lucas membuatnya berhenti.

“Aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu.”

“Tidak perlu, Tuan. Saya bisa sendiri,” tolaknya.

“Terserah. Tapi ingat, waktumu hanya dua jam.” Lucas menatapnya tajam. “Jangan terlambat.”

“Baik, Tuan. Saya akan datang tepat waktu,” ujar Violet sambil menunduk.

“Pergilah.”

“Permisi, Tuan.”

Violet melangkah keluar dengan perasaan kesal bercampur lega. Setidaknya, ia sudah mendapat pekerjaan—meski harus berurusan dengan pria sedingin es itu.

*****

“Nona, bagaimana?” tanya Bu Tania menyapa kehadiran Violet.

Bu Tania adalah mantan pembantu Violet yang sudah dipecat oleh Marko tepat pada hari Violet diusir. Bu Tania-lah yang menolong Violet saat ia ketiduran di halte tadi malam, ketika Bu Tania tidak sengaja melewati area tersebut.

Violet menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Aku diterima, Bu Tania,” seru Violet dengan antusias.

Mendengar kabar itu, Bu Tania ikut bahagia dan senang.

“Ibu senang, Non, mendengar kabar baik ini.” Dengan senyum hangat, Bu Tania langsung memeluk Violet dengan erat. Violet pun membalas pelukan itu dengan senyuman tulus.

“Terima kasih ya, Bu. Sudah mau mendukung Violet saat Violet sempat ingin menolak tawaran pekerjaan ini. Ibu juga membantu Violet bangkit dari rasa rapuh dan sedih yang ada di dalam diri Violet, sehingga Violet bisa kembali menjadi jati diri Violet yang sebenarnya,” gumam Violet sambil menghapus butiran air mata yang hampir jatuh. “Dan Violet juga berterima kasih karena kalau tidak ada Ibu semalam, mungkin Violet akan tidur di halte sampai pagi.”

Violet kembali memeluk Bu Tania, wanita yang sudah ia kenal sejak ia berusia lima tahun. Violet telah lama menganggap Bu Tania seperti ibunya sendiri, karena wanita itu selalu ada di sisinya saat ia terluka. Ketika kedua orang tua Violet meninggal, Bu Tania-lah yang selalu ada untuknya—lebih dari keluarga lainnya, bahkan lebih dari Marko, suaminya.

“Tidak usah berterima kasih, Non. Ibu senang bisa membantu kamu karena Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri,” ucap Bu Tania sambil tersenyum, lalu mengelus puncak kepala Violet dengan lembut.

Violet tersenyum, bibirnya hampir membuka untuk berbicara—

“Oh, jadi benar kamu rupanya ada di sini.”

Suara familiar itu membuat Violet dan Bu Tania sontak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh Violet menegang seketika.

Violet tersentak kesal saat melihat Marko berdiri di depan warung kecil Bu Tania yang baru dua hari dibangun. Wajah pria itu menampilkan senyum yang dibuat-buat, seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka.

“Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanya Violet ketus dengan tatapan penuh kebencian. Semua momen menyakitkan yang sempat ia lupakan kini kembali berputar di benaknya seperti rekaman yang tidak bisa dihentikan.

Marko tersenyum tipis dan terkekeh kecil dengan nada meremehkan. “Ya, untuk bertemu istriku. Eh..... maksudnya, calon mantan istriku.”

Violet mencengkeram kuat ujung gaunnya, berusaha menahan amarah yang ingin meledak di dadanya. Tatapannya sinis, penuh dendam yang tertahan.

Sementara itu, Bu Tania hanya diam di tempat. Ia tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Untungnya, warung miliknya masih sepi, jadi tidak ada orang yang menyaksikan pertengkaran ini.

“Aduh, Violet, kau jangan menatapku seperti itu. Aku ini suamimu,” celetuk Marko dengan nada main-main. “Kalau kau tidak mau kena dosa.”

Violet ingin muntah mendengar kata-kata menjijikkan yang keluar dari mulut Marko. Ia tidak menyangka orang seperti Marko masih tahu tentang dosa—itu terdengar sangat lucu baginya.

Violet tertawa sinis, matanya menyipit tajam. “Apa? Dosa, katamu? Hahaha...” Tawanya dipenuhi kemarahan yang terpendam. “Tidak menyangka seseorang yang sudah berbuat licik kepada istrinya sendiri masih tahu tentang dosa. Apa yang kamu lakukan itu menurutmu tidak berdosa?”

Marko hanya tertawa miring, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kata-kata Violet.

“Ya, begitulah, istriku,” ujar Marko sambil melangkah pelan mendekati Violet dengan sikap santai yang menyebalkan. “Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan putramu?”

Violet berdecak kesal, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Berhenti mengeluarkan kata-kata menjijikkan itu, Marko! Apa tujuanmu datang ke sini?” desis Violet tajam.

“Baiklah, calon mantan istriku,” ucap Marko dengan nada formal yang dibuat-buat, membuat Violet semakin muak. “Karena harta warisan papamu sudah jatuh ke tanganku, maka....” Marko mengeluarkan selembar kertas dari dalam jasnya dan mengulurkannya ke arah Violet. “....tandatangani surat ini.”

Violet sudah menduga hal ini sejak awal. Marko menyodorkan selembar kertas—surat perceraian mereka.

Inilah yang sudah lama ia tunggu. Surat yang dulu dirobek Marko saat Violet pertama kali memintanya bercerai. Waktu itu, ayah Violet masih hidup dan Marko belum mendapatkan semua warisan. Kini, setelah mendapatkan semuanya dengan cara licik, Marko akhirnya berani bercerai.

Tanpa berpikir panjang, Violet langsung menandatangani surat itu.

Marko terdiam, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Violet akan dengan mudah menandatangani surat tersebut—padahal ia berharap wanita itu akan memohon, mengingat sekarang Violet tidak memiliki apa-apa lagi.

Namun Marko tidak ambil pusing. Ia tersenyum saat Violet mengembalikan surat itu.

“Terima kasih, calon mantan istriku. Jangan lupa datang ke pengadilan untuk sidang perceraian kita.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 10

    Suara berat dan dingin itu membuat Sofia dan Stella terdiam seketika. Suasana langsung berubah tegang. Bahkan Stella yang tadi terlihat percaya diri, kini wajahnya sedikit pucat. Lucas. Pria itu berdiri di ujung koridor dengan Jevir di sampingnya. Auranya sangat kuat—begitu menakutkan hingga siapa pun yang berada di dekatnya langsung merasa tertekan. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, dan ekspresinya… sangat, sangat marah. Lucas melangkah mendekati dengan langkah pelan tetapi penuh wibawa. Setiap langkahnya terdengar menggema di koridor yang kini sunyi senyap—semua orang menahan napas, tidak ada yang berani bergerak. Saat Lucas sampai di tempat kejadian, matanya langsung tertuju pada Violet yang terduduk di lantai dengan luka-luka di tubuhnya, pakaian yang basah karena kopi, serta ekspresi wajah yang menahan sakit. Namun, tanpa ada rasa kasihan—karena Lucas bukanlah orang yang berbaik hati kepada siapa pun, apalagi kepada para pelayannya—ia langsung mengalihkan pandangannya k

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 9

    PYAAARR— “Aw!” Violet terjatuh dengan posisi duduk menyamping. Ia merintih kecil ketika air panas dan pecahan gelas kaca mengenai sisi tubuhnya. Lutut kiri dan telapak tangan kanannya terluka akibat tergores pecahan kaca yang tajam. Darah mulai merembes keluar dari luka-luka itu. Sementara itu, Stella yang berdiri di depannya langsung menutup mulut dengan kedua tangan, pura-pura memasang ekspresi kaget—seolah-olah bukan dirinya yang sengaja menjatuhkan Violet. Stella memang sengaja menabrak Violet saat Violet baru saja turun dari tangga lantai dua. Padahal, seharusnya Stella sedang naik ke lantai dua untuk mengantarkan kopi kepada Tuan Lucas. Kini, ia memiliki rencana licik terhadap Violet—rencana untuk menjatuhkannya sekali lagi di mata semua orang. Ia sengaja berjalan tanpa melihat, seolah-olah Violet tidak ada di hadapannya. Akibatnya, ia menabrak bahu Violet dengan keras. Cangkir kopi di tangannya terjatuh, bersamaan dengan Violet yang terhempas ke lantai marmer yang dingin.

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab : 8

    Di sore yang indah ini, Sofia mengajak Violet berkeliling area mansion besar milik tuan mereka. Sofia ingin Violet mengenal seluruh sudut mansion agar sewaktu-waktu Violet tidak kebingungan jika ingin berjalan-jalan atau mencari sesuatu di sekitar mansion yang sangat luas ini. Saat ini mereka berada di area taman belakang yang tidak jauh dari kolam renang. Taman ini sangat luas, dipenuhi berbagai jenis bunga yang tertata indah, sebuah air mancur kecil di tengahnya, serta pohon-pohon besar yang memberikan keteduhan. Violet terdiam takjub melihat taman seindah ini. Ia tidak menyangka akan menemukan pemandangan seindah ini di dalam area mansion. Bahkan semua yang sudah ditunjukkan Sofia sebelumnya—mulai dari perpustakaan pribadi, ruang musik, ruang makan mewah, hingga berbagai ruangan lainnya—membuatnya terpesona dan sulit percaya. “Sofia, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua yang sudah kau tunjukkan di sekitar mansion ini begitu indah,” ujar Violet dengan senyum senang. Pikir

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 7

    Di dalam mansion megah milik Lucas, semua pelayan yang ada di sana saling berbisik, membicarakan kejadian ketika Violet—yang baru saja bekerja di sana—berani keluar tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas. Kejadian itu membuat tuan mereka murka besar kepada Violet, dan gosip tersebut pun menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru mansion. Violet dan Sofia yang baru saja turun dari lantai dua dan berjalan menuju dapur untuk makan siang, tanpa sengaja mendengar beberapa pelayan lain sedang membicarakan Violet. Suara mereka memang tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas terdengar di koridor yang sepi. Sofia tampak kesal mendengarnya, sementara Violet hanya melirik sekilas tanpa menegur ataupun marah. Ia memilih untuk tetap diam dan melanjutkan langkahnya. “Parah, kan, dia? Baru saja diterima kerja di sini, sudah sok berkuasa,” kata salah satu pelayan wanita dengan nada mengejek. “Emangnya dia pikir Tuan Lucas tertarik sama dia?” sahut yang lain dengan nada meremehkan. Mereka tertawa—

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 6

    “Kamu dari mana saja, Violet?” tanya Sofia dengan nada penuh kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Ia begitu takut jika Violet sampai dimarahi Lucas. Apalagi Violet keluar dari mansion tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas—sesuatu yang sangat dilarang keras. Kemarahan Lucas pagi tadi benar-benar menakutkan. Pria itu murka saat mengetahui Violet dengan lancang keluar tanpa izin. Lucas tidak suka jika orang-orang yang bekerja di mansion-nya pergi tanpa sepengetahuan dan persetujuannya—itu adalah aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar. “Kamu tahu, Violet? Aku takut sekali saat kamu tidak ada di mansion tadi pagi,” gumam Sofia sambil duduk di tepi tempat tidur. “Dan aku benar-benar takut saat Tuan Lucas memarahimu tadi.” Sofia benar-benar ketakutan ketika mendengar dari orang-orang di mansion bahwa Violet dimarahi habis-habisan oleh Lucas. Ia tahu betul bagaimana Lucas jika sudah marah—meskipun kali ini memang Violet yang bersalah. Namun, yang membuat Sofia takut adalah ke

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 5

    Pagi ini, di Pengadilan Negeri, proses sidang perceraian Violet dan Marko yang telah berlangsung sejak tadi pagi akhirnya selesai. Keputusan hakim sudah dijatuhkan—mereka berdua resmi bercerai dan bukan lagi sepasang suami istri. Violet melirik ke arah Marko yang tersenyum manis ke arahnya—senyum yang membuat perutnya mual. Ia mengepal kuat kedua tangannya, menahan keinginan untuk menonjok bibir sialan itu agar tidak bisa tersenyum lagi. Apalagi saat ini ia juga melihat Clear—sahabat setia yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri—yang ternyata menusuknya dari belakang. Wanita itu kini berpelukan manja di dalam dekapan Marko dan terlihat sangat bahagia setelah tahu bahwa Marko dan Violet resmi bercerai. “Sayang, akhirnya kamu bercerai juga,” kata Clear dengan suara manjanya yang membuat Violet ingin muntah. Marko tersenyum tipis sambil mengecup singkat bibir Clear. “Iya, sayang. Akhirnya setelah ini kita bisa menikah,” ucap Marko sambil melirik ke arah Violet yang kini menatap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status