MasukViolet terdiam sesaat. Kepalanya terangkat dengan dagu sedikit mendongak, kedua matanya melebar, sementara jari-jarinya bergerak gelisah.
“T-Tuan, apakah ini artinya saya diterima bekerja di sini?” tanyanya hati-hati. Lucas meliriknya dengan tatapan dingin. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja. “Apakah kau tidak mau?” suaranya dingin, “Saya mau, Tuan!” sela Violet cepat dengan nada agak tinggi. Tubuhnya condong ke depan. Tangannya bahkan sudah memegang ujung kertas kontrak yang sempat ditarik Lucas. “Saya akan menandatangani surat ini,” Violet menarik kontrak beserta pena dari genggaman Lucas. Lucas tak bereaksi apapun. Ia hanya mengamati Violet yang langsung menandatangani kontrak tanpa membacanya terlebih dahulu. “Ini, Tuan.” Violet menggeser kertas yang telah ditandatangani ke arah Lucas. Lucas hanya melirik sekilas sebelum menyimpan kontrak tersebut. “Jadi, apakah saya sudah mulai bekerja, Tuan? Lalu… saya akan tinggal di sini?” tanya Violet. Lucas hanya mengangguk sebagai respons. Ia menarik napas dalam. “Tuan, sebelum saya bekerja, bolehkah saya minta izin? Saya ingin berkemas beberapa barang di rumah,” suara Violet mengecil, takut apabila terlalu banyak tanya. Lucas tidak menggubrisnya. Violet memang sudah diusir oleh Marko, namun ada beberapa hal yang harus ia urus. Beberapa langkah kemudian, suara serak Lucas membuatnya berhenti. “Aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu.” “Tidak perlu, Tuan. Saya bisa sendiri,” tolaknya. “Terserah. Tapi ingat, waktumu hanya dua jam.” Lucas menatapnya tajam. “Jangan terlambat.” “Baik, Tuan. Saya akan datang tepat waktu,” ujar Violet sambil menunduk. “Pergilah.” “Permisi, Tuan.” Violet melangkah keluar dengan perasaan kesal bercampur lega. Setidaknya, ia sudah mendapat pekerjaan—meski harus berurusan dengan pria sedingin es itu. ***** “Nona, bagaimana?” tanya Bu Tania menyapa kehadiran Violet. Bu Tania adalah mantan pembantu Violet yang sudah dipecat oleh Marko tepat pada hari Violet diusir. Bu Tania-lah yang menolong Violet saat ia ketiduran di halte tadi malam, ketika Bu Tania tidak sengaja melewati area tersebut. Violet menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Aku diterima, Bu Tania,” seru Violet dengan antusias. Mendengar kabar itu, Bu Tania ikut bahagia dan senang. “Ibu senang, Non, mendengar kabar baik ini.” Dengan senyum hangat, Bu Tania langsung memeluk Violet dengan erat. Violet pun membalas pelukan itu dengan senyuman tulus. “Terima kasih ya, Bu. Sudah mau mendukung Violet saat Violet sempat ingin menolak tawaran pekerjaan ini. Ibu juga membantu Violet bangkit dari rasa rapuh dan sedih yang ada di dalam diri Violet, sehingga Violet bisa kembali menjadi jati diri Violet yang sebenarnya,” gumam Violet sambil menghapus butiran air mata yang hampir jatuh. “Dan Violet juga berterima kasih karena kalau tidak ada Ibu semalam, mungkin Violet akan tidur di halte sampai pagi.” Violet kembali memeluk Bu Tania, wanita yang sudah ia kenal sejak ia berusia lima tahun. Violet telah lama menganggap Bu Tania seperti ibunya sendiri, karena wanita itu selalu ada di sisinya saat ia terluka. Ketika kedua orang tua Violet meninggal, Bu Tania-lah yang selalu ada untuknya—lebih dari keluarga lainnya, bahkan lebih dari Marko, suaminya. “Tidak usah berterima kasih, Non. Ibu senang bisa membantu kamu karena Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri,” ucap Bu Tania sambil tersenyum, lalu mengelus puncak kepala Violet dengan lembut. Violet tersenyum, bibirnya hampir membuka untuk berbicara— “Oh, jadi benar kamu rupanya ada di sini.” Suara familiar itu membuat Violet dan Bu Tania sontak menoleh ke arah sumber suara. Tubuh Violet menegang seketika. Violet tersentak kesal saat melihat Marko berdiri di depan warung kecil Bu Tania yang baru dua hari dibangun. Wajah pria itu menampilkan senyum yang dibuat-buat, seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka. “Ada perlu apa kamu datang ke sini?” tanya Violet ketus dengan tatapan penuh kebencian. Semua momen menyakitkan yang sempat ia lupakan kini kembali berputar di benaknya seperti rekaman yang tidak bisa dihentikan. Marko tersenyum tipis dan terkekeh kecil dengan nada meremehkan. “Ya, untuk bertemu istriku. Eh..... maksudnya, calon mantan istriku.” Violet mencengkeram kuat ujung gaunnya, berusaha menahan amarah yang ingin meledak di dadanya. Tatapannya sinis, penuh dendam yang tertahan. Sementara itu, Bu Tania hanya diam di tempat. Ia tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Untungnya, warung miliknya masih sepi, jadi tidak ada orang yang menyaksikan pertengkaran ini. “Aduh, Violet, kau jangan menatapku seperti itu. Aku ini suamimu,” celetuk Marko dengan nada main-main. “Kalau kau tidak mau kena dosa.” Violet ingin muntah mendengar kata-kata menjijikkan yang keluar dari mulut Marko. Ia tidak menyangka orang seperti Marko masih tahu tentang dosa—itu terdengar sangat lucu baginya. Violet tertawa sinis, matanya menyipit tajam. “Apa? Dosa, katamu? Hahaha...” Tawanya dipenuhi kemarahan yang terpendam. “Tidak menyangka seseorang yang sudah berbuat licik kepada istrinya sendiri masih tahu tentang dosa. Apa yang kamu lakukan itu menurutmu tidak berdosa?” Marko hanya tertawa miring, tidak terpengaruh sedikit pun oleh kata-kata Violet. “Ya, begitulah, istriku,” ujar Marko sambil melangkah pelan mendekati Violet dengan sikap santai yang menyebalkan. “Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan putramu?” Violet berdecak kesal, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Berhenti mengeluarkan kata-kata menjijikkan itu, Marko! Apa tujuanmu datang ke sini?” desis Violet tajam. “Baiklah, calon mantan istriku,” ucap Marko dengan nada formal yang dibuat-buat, membuat Violet semakin muak. “Karena harta warisan papamu sudah jatuh ke tanganku, maka....” Marko mengeluarkan selembar kertas dari dalam jasnya dan mengulurkannya ke arah Violet. “....tandatangani surat ini.” Violet sudah menduga hal ini sejak awal. Marko menyodorkan selembar kertas—surat perceraian mereka. Inilah yang sudah lama ia tunggu. Surat yang dulu dirobek Marko saat Violet pertama kali memintanya bercerai. Waktu itu, ayah Violet masih hidup dan Marko belum mendapatkan semua warisan. Kini, setelah mendapatkan semuanya dengan cara licik, Marko akhirnya berani bercerai. Tanpa berpikir panjang, Violet langsung menandatangani surat itu. Marko terdiam, sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Violet akan dengan mudah menandatangani surat tersebut—padahal ia berharap wanita itu akan memohon, mengingat sekarang Violet tidak memiliki apa-apa lagi. Namun Marko tidak ambil pusing. Ia tersenyum saat Violet mengembalikan surat itu. “Terima kasih, calon mantan istriku. Jangan lupa datang ke pengadilan untuk sidang perceraian kita.”"Violet?!" Pekik Livara kaget, tangannya refleks menutup mulutnya yang masih terbuka kecil. Ia bangkit dari kursinya dengan cepat.Violet yang mendengar pekikan itu hanya terdiam, kepalanya tidak juga ia dongakkan."Kamu mengenalnya?" Tanya Lucas dengan satu alis terangkat.Livara mendelik ke arah Lucas. "Dia sahabatku, Lucas." Ucapnya tegas.Lucas berdecih. "Apa? Sahabatmu?"Livara mengangguk cepat dengan senyum tipis, matanya sekilas melirik ke arah Violet. "Kamu tidak pernah menceritakan bahwa dia sahabatmu.""Itu karena kamu selalu sibuk, Lucas. Waktu itu kamu tidak pernah punya waktu untukku, makanya aku tidak pernah menceritakan tentang dia kepadamu." Jelas Livara, matanya kembali melirik Violet sebelum akhirnya ia melangkah lebar dengan perasaan senang yang tergambar jelas di wajah cantiknya.Violet masih menunduk, tidak bergerak."Ini benar-benar kamu, Violet?" Kata Livara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, kini berdiri tepat di hadapan Violet.Violet mend
Akhirnya Violet bisa bernapas lega setelah melewati kerumunan karyawan Lucas di lobi yang tadi membuatnya begitu canggung. Hampir semua orang melirik ke arahnya, berbisik satu sama lain, entah membicarakan apa. Violet tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, namun ia cukup yakin bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan mereka, entah itu hal yang baik maupun sebaliknya. Yang terpenting, ia tidak perlu mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kini dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang terlihat luas dan tertata rapi. Sementara Lucas sudah fokus dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja kerja, Violet duduk di sofa dengan Azura dalam dekapannya, menyusuinya dengan dot setelah tadi sempat menangis. Kini Azura sudah mulai tenang. "Bagaimana?" Mendengar itu, Violet menoleh ke arah Lucas yang kini mengenakan kacamata, satu berkas kerja tergenggam di tangan kirinya. "Apanya, Tuan?" Tanya Violet bingung, tangannya masih memegang dot yang diisap
Setibanya di kantor, Violet yang masih duduk di dalam mobil terasa sedikit tegang ketika Lucas menyuruhnya untuk turun bersama.Violet tidak tahu harus bagaimana. Rasa canggung dan malu menyelimuti dirinya, apalagi di luar sana banyak karyawan Lucas yang pasti akan memandangi dirinya begitu ia keluar.Lucas berdeham pelan. "Kenapa kau diam? Aku menyuruhmu keluar, bukan menjadi hiasan di dalam mobil ini." Kata Lucas yang kini memegang handle pintu mobil yang terbuka sedikit.Violet melirik Lucas dengan bibir yang ia lipat ke dalam. "Maaf, Tuan. Aku rasa aku tidak bisa ikut Tuan masuk ke dalam." Kata Violet pelan, matanya sekilas melirik Azura yang kini asyik menarik-narik helai rambutnya.Lucas yang mendengar itu menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Kedua mata tajamnya melirik Jiver yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar keluar. Tanpa berpikir panjang, Jiver langsung turun dari mobil.Lucas mencondongkan tubuhnya ke arah Violet, membuat Violet langsung tersentak
"Sofia?"Sofia yang sedang sibuk dengan peralatan dapur kini tersentak kaget, mendengar panggilan tiba-tiba dari Violet yang langsung muncul di hadapannya dengan senyum lebar.Sofia berdecak pelan, melepaskan pisau yang ada di tangannya. "Violet, kamu ini bikin kaget saja." Ujar Sofia sambil mengelus dadanya.Violet terkikik kecil. "Maaf, kamu sedang sibuk ya?" Gumam Violet."Seperti yang kamu lihat, Violet. Aku kalau pagi-pagi begini pasti sibuk karena itu memang tugasku." Balas Sofia dengan mengangkat satu alisnya. "Lalu kamu ke sini ada perlu apa, ada yang bisa aku bantu?""Iya, Sofia. Aku mau kamu buatkan air panas, nanti simpan di termos kecil ini ya." Violet menyerahkan termos kecil yang ada di genggamannya."Siap, Violet." Seru Sofia sambil mengelap kedua tangannya di celemek. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia mengambil panci yang sudah terisi air."Sofia, aku juga mau bilang, kata Tuan Lucas pagi ini tidak usah membuat sarapan."Sofia yang baru saja menyalakan kompor kini
Violet mengedipkan kedua matanya tanpa disadarinya. Ia masih terpaku dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Lucas, membuat dirinya terdiam seribu bahasa.Lucas hanya diam, tangannya bergerak membuka bungkus rokok yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Violet masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.Lucas berdeham pelan. Suara itu membuat Violet tersadar dari lamunannya, dan dalam gerakan kecil yang tak disengaja, kedua mata mereka bertemu.Bibir Violet bergerak kecil, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya."Jika kau tidak mau, itu hakmu." Suara Lucas terdengar datar dan dingin.Violet membeku, sedikit tersentak. "Tidak, Tuan?!" Ucap Violet terputus, napasnya naik turun.Ia melangkah kecil ke arah Lucas yang kini mendongak ke arahnya, jari-jarinya mendorong batang rokok masuk ke dalam mulutnya."Apakah yang Tuan ucapkan itu benar?" Tanya Violet dengan nada penuh harap.Lucas menghembuskan asap rokok, lalu berdeham p
Violet terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya, jari-jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar amarah. "Jawab, Violet apa kau ingin membalas dendam kepada mantan suamimu itu?" tukas Lucas. Violet menoleh ke samping. Kedua matanya masih sedikit sembab, namun di balik tatapan sayu itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih keras sesuatu yang sudah lama ia pendam dan belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Ia menatap Lucas dengan perasaan yang kacau, karena mengingat semua itu terasa seperti membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. "Jika aku bilang iya, apa Tuan ingin membantuku?" suara Violet terdengar dingin, napasnya sedikit memburu. Lucas terdiam. Wajahnya datar, namun matanya menatap Violet dengan kedalaman yang tidak biasa. "Jadi kau memang ingin membalas dendam." Lucas menatap lekat wajah Violet yang kini juga menatap balik tanpa memalingkan diri. Violet tersenyum tipis, senyum yang terasa terlalu sayu untuk disebut sen
“Axel!” sentak Violet kaget. Untung saja benda kaca di tangannya tidak terlepas.Violet yang tadinya sedang mengambil sesuatu di atas lemari dapur terkejut saat berbalik dan mendapati Axel sudah berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum jahil dengan tatapan dalam dan ekspresi yang tampak tenang.“T
"Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—
Marko duduk gelisah di ruang kerja mewah ayahnya, Varko. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja, jari-jarinya meremas satu sama lain dengan gugup. Otaknya terus berputar mencari cara—cara bagaimana ia bisa membawa Violet keluar dari mansion Lucas seperti yang diperintahkan ayahnya. Namun,
Violet kaget. Matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat dirinya masuk mengikuti Jevir ke dalam ruangan VIP, sambil mendorong baby stroller tempat putri Tuan Lucas tertidur dengan nyenyak. Pemandangan di hadapannya sangat mengejutkan. Ia melihat Lucas duduk bersandar di at







