Share

Babysitter Kesayangan Mafia
Babysitter Kesayangan Mafia
Penulis: HALLOSEAN

Bab : 1

Penulis: HALLOSEAN
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 15:07:12

Butiran air mata terus mengalir membasahi wajah Violet. Ia tengah memandangi makam putra semata wayangnya. Ia berdiri terdiam dengan perasaan hancur berkeping-keping.

Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan dalam hidup Violet.

Bayi yang telah lama ia nantikan kehadirannya itu lebih dahulu diambil Tuhan kembali. Violet bahkan belum sempat mengenal buah hatinya dengan baik.

Lutut Violet melemas dan ia pun jatuh terduduk di atas tanah. Rasa sakit fisik tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kepedihan yang merobek jiwanya.

“Nak, kenapa kamu secepat ini meninggalkan mama?” ucapnya dengan suara bergetar.

Isakan pecah dari bibir pucatnya saat ia memeluk erat nisan kecil itu, seolah – olah batu dingin itu adalah tubuh mungil sang buah hati.

Violet tak sempat memeluk putranya. Ini karena Marko, suaminya, telah melarangnya menggendong putra mereka, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pun tak bisa.

Violet enggan menandatangani surat warisan dari mendiang ayahnya. Kemudian Marko menjadi marah besar sehingga melarang Violet untuk menyentuh putranya sekali pun.

Kekejaman itu kembali menikam hatinya. Marko sama sekali tidak menunjukkan kesedihan atas kematian anak mereka. Violet ingat bagaimana suaminya itu tidak meneteskan air mata sedikit pun.

Bahkan ia tidak hadir dalam pemakaman ini.

Terlebih lagi, Marko telah mengusirnya dari rumah hari ini. Ia diusir tanpa dasar kesalahan yang diperbuat.

Jari – jari Violet kembali menelusuri nama yang terukir di nisan, sementara air mata kembali memburamkan pandangannya.

Ia telah kehilangan segalanya anak, pernikahannya, rumahnya. Masa depan yang pernah ia impikan hancur menjadi debu dalam satu hari.

“Maafkan Mama yang tidak bisa melindungimu, Nak,” bisiknya pada itu. “Mama sangat menyesal.”

Langit kemudian mulai menggelap, awan kelabu berkumpul, terlihat akan segera turun hujan. Namun Violet tetap tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih dalam posisi yang sama, menangis dalam diam.

Tiba – tiba, ia merasakan nyeri yang menusuk di dadanya. Violet secara refleks menekan area tersebut dengan lembut sambil meringis menahan sakit.

“Apa yang terjadi?” gumamnya pelan sambil menggigit bibir bawahnya kuat – kuat.

Ini pertama kalinya ia merasakan nyeri seperti ini-sensasi penuh, panas, dan tekanan yang tidak nyaman di payudaranya.

Ia mengerutkan dahi, kemudian menyadari kemungkinan penyebabnya. Tentu saja.

Ia tidak pernah berkesempatan menyusui anaknya, menyebabkan dadanya sesak karena asi yang tidak pernah dikeluarkan. Tubuhnya telah mempersiapkan diri untuk menjadi ibu, namun tidak ada bayi yang akan ia susui.

“Aku harus ke rumah sakit,” bisiknya sambil perlahan bangkit berdiri.

Sebelum pergi, Violet menatap dalam – dalam nisan kecil di hadapannya. Matanya kosong, hampa, namun penuh dengan kesedihan. Setelah itu, ia berbalik dan melangkah meninggalkan pemakaman anaknya dengan langkah gontai.

Di sudut lain pemakaman, di bawah pohon besar yang rindang, terdapat area pemakaman eksklusif untuk keluarga – keluarga berkuasa. Di sanalah Lucas William Maverick berdiri.

Lucas, seorang mafia berdarah dingin yang memiliki kekayaan berlimpah dan kekuasan yang tersebar tidak hanya di Negara ini, tetapi juga di berbagai Negara lain.

Lucas dikenal sebagai mafia paling kejam yang pernah ada. Namun, tidak ada yang benar – benar mengetahui sosok asli dirinya.

Tidak seperti mafia lain yang dengan sombong memamerkan identitas mereka, Lucas selalu bergerak dalam bayang – bayang.

Kini ia berdiri di depan makam istrinya yang baru saja dimakamkan. Seorang ajudan dengan setia memayunginya, melindunginya dari gerimis yang mulai turun. Di sekeliling, puluhan pria berbaju serba hitam berdiri tegap-semuanya adalah anak buahnya, berjaga dalam keheningan yang penuh hormat.

Lucas menatap nisan sang istri dengan tatapan kosong. Ekspresi wajahnya dingin, tidak terbaca. Tidak ada yang bisa menebak apakah ia sedang berduka atau tidak. Wajahnya seperti topeng sempurna-tidak menempakkan emosi apa pun.

Dari kejauhan, Violet yang sedang berjalan keluar dari area pemakaman tanpa sengaja melihat sosok Lucas. Ia berhenti sejenak, menatap pria itu dari kejauhan.

Tatapan kosong pria itu membuat Violet merasa terlihat di dunia. Ada orang lain yang sama berdukanya hari ini. Meski hanya dari kejauhan dan tak saling mengenal, Violet tidak merasa sendiri.

Violet lantas melanjutkan langkahnya. Dadanya semakin nyeri. Ia harus pergi dari tempat ini.

Sementara hujan mulai turun lebih deras, dua jiwa yang hancur itu terpisah oleh jarak dan keadaan – namun terikat oleh kesedihan yang sama mendalam.

******

“Jadi, ini hal yang normal untuk seorang ibu yang telah melahirkan?” tanya Violet, masih terdengar ragu setelah mendengar penjelasan dokter wanita di hadapannya.

Dokter itu tersenyum tipis, penuh pengertian. “Ya, Bu Violet. Rasa nyeri itu memang akan datang,” jawabnya dengan lembut.

Violet menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dok?”

“Ibu Violet bisa mendonorkan ASI. Seperti saran yang telah saya jelaskan tadi,” sahut sang dokter. Ia kemudian menatap Violet. “Bu Violet bisa memompa ASI, kemudian silakan menuju meja administrasi di luar untuk proses pendataan donor ASI.”

Violet mengangguk, ia memompa ASI-nya terlebih dahulu. Setelah selesai dan nyeri di dada berangsur hilang, ia lantas berjalan ke luar ruangan.

Perasaannya masih begitu campur aduk sekarang. Nyeri di dada yang ternyata berhubungan dengan kematian putranya membuat hatinya meringis.

Lamunan Violet dipecah dengan suara beberapa perawat yang bercengkrama.

“Apa mereka belum menemukan seorang wanita yang menyusui untuk putrinya?” bisik perawat satu.

“Aku rasa belum.” sahut perawat lainnya.

Violet terdiam, pikirannya tiba-tiba berkecamuk.

Apa sebaiknya ia menawarkan diri?

Tanpa pikir panjang, Violet memberanikan diri untuk menghampiri perawat-perawat itu. “Maaf, saya tidak sengaja dengar… Apakah ada pasien yang membutuhkan ASI untuk anaknya?”

Kedua perawat itu menoleh.

“Apakah ibu ingin mendonorkan ASI?” tanya salah satu perawat.

“Ya, saya baru saja bertemu dokter dan diarahkan untuk mendonorkan ASI.”

“Kalau begitu,” kata perawat itu sambil mengarahkan jalan menuju meja administrasi. “Ibu bisa mendonorkan ASI ke pasien ini.”

Sang perawat memberikan kertas berisi sebuah alamat.

“Pasien ini juga membutuhkan seorang babysitter. Jika berkenan, ibu dapat pergi ke sana langsung untuk informasi lanjutan,” jelas sang perawat lagi.

Violet terdiam mendengarnya. Ia menimbang-nimbang.

Bekerja menjadi babysitter tidak terdengar buruk. Ia dapat merasakan menjadi seorang ibu.

Lebih dari itu, pekerjaan itu bisa menjadi jalan baginya untuk bertahan hidup. Sekarang ia tidak memiliki apa – apa lagi setelah diusir oleh Marko. Tidak ada rumah, tidak ada uang, tidak ada tempat tujuan. Pekerjaan itu mungkin satu – satunya harapannya.

Violet pun mengangguk dan menerima kertas itu, melipatnya dengan hati – hati. Ia membaca nama yang tercantum di atas alamat itu.

“Kediaman keluarga Maverick…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:79

    Akhirnya Violet bisa bernapas lega setelah melewati kerumunan karyawan Lucas di lobi yang tadi membuatnya begitu canggung. Hampir semua orang melirik ke arahnya, berbisik satu sama lain, entah membicarakan apa. Violet tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, namun ia cukup yakin bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan mereka, entah itu hal yang baik maupun sebaliknya. Yang terpenting, ia tidak perlu mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kini dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang terlihat luas dan tertata rapi. Sementara Lucas sudah fokus dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja kerja, Violet duduk di sofa dengan Azura dalam dekapannya, menyusuinya dengan dot setelah tadi sempat menangis. Kini Azura sudah mulai tenang. "Bagaimana?" Mendengar itu, Violet menoleh ke arah Lucas yang kini mengenakan kacamata, satu berkas kerja tergenggam di tangan kirinya. "Apanya, Tuan?" Tanya Violet bingung, tangannya masih memegang dot yang diisap

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:78

    Setibanya di kantor, Violet yang masih duduk di dalam mobil terasa sedikit tegang ketika Lucas menyuruhnya untuk turun bersama.Violet tidak tahu harus bagaimana. Rasa canggung dan malu menyelimuti dirinya, apalagi di luar sana banyak karyawan Lucas yang pasti akan memandangi dirinya begitu ia keluar.Lucas berdeham pelan. "Kenapa kau diam? Aku menyuruhmu keluar, bukan menjadi hiasan di dalam mobil ini." Kata Lucas yang kini memegang handle pintu mobil yang terbuka sedikit.Violet melirik Lucas dengan bibir yang ia lipat ke dalam. "Maaf, Tuan. Aku rasa aku tidak bisa ikut Tuan masuk ke dalam." Kata Violet pelan, matanya sekilas melirik Azura yang kini asyik menarik-narik helai rambutnya.Lucas yang mendengar itu menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Kedua mata tajamnya melirik Jiver yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar keluar. Tanpa berpikir panjang, Jiver langsung turun dari mobil.Lucas mencondongkan tubuhnya ke arah Violet, membuat Violet langsung tersentak

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:77

    "Sofia?"Sofia yang sedang sibuk dengan peralatan dapur kini tersentak kaget, mendengar panggilan tiba-tiba dari Violet yang langsung muncul di hadapannya dengan senyum lebar.Sofia berdecak pelan, melepaskan pisau yang ada di tangannya. "Violet, kamu ini bikin kaget saja." Ujar Sofia sambil mengelus dadanya.Violet terkikik kecil. "Maaf, kamu sedang sibuk ya?" Gumam Violet."Seperti yang kamu lihat, Violet. Aku kalau pagi-pagi begini pasti sibuk karena itu memang tugasku." Balas Sofia dengan mengangkat satu alisnya. "Lalu kamu ke sini ada perlu apa, ada yang bisa aku bantu?""Iya, Sofia. Aku mau kamu buatkan air panas, nanti simpan di termos kecil ini ya." Violet menyerahkan termos kecil yang ada di genggamannya."Siap, Violet." Seru Sofia sambil mengelap kedua tangannya di celemek. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia mengambil panci yang sudah terisi air."Sofia, aku juga mau bilang, kata Tuan Lucas pagi ini tidak usah membuat sarapan."Sofia yang baru saja menyalakan kompor kini

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:76

    Violet mengedipkan kedua matanya tanpa disadarinya. Ia masih terpaku dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Lucas, membuat dirinya terdiam seribu bahasa.Lucas hanya diam, tangannya bergerak membuka bungkus rokok yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Violet masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.Lucas berdeham pelan. Suara itu membuat Violet tersadar dari lamunannya, dan dalam gerakan kecil yang tak disengaja, kedua mata mereka bertemu.Bibir Violet bergerak kecil, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya."Jika kau tidak mau, itu hakmu." Suara Lucas terdengar datar dan dingin.Violet membeku, sedikit tersentak. "Tidak, Tuan?!" Ucap Violet terputus, napasnya naik turun.Ia melangkah kecil ke arah Lucas yang kini mendongak ke arahnya, jari-jarinya mendorong batang rokok masuk ke dalam mulutnya."Apakah yang Tuan ucapkan itu benar?" Tanya Violet dengan nada penuh harap.Lucas menghembuskan asap rokok, lalu berdeham p

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:75

    Violet terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya, jari-jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar amarah. "Jawab, Violet apa kau ingin membalas dendam kepada mantan suamimu itu?" tukas Lucas. Violet menoleh ke samping. Kedua matanya masih sedikit sembab, namun di balik tatapan sayu itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih keras sesuatu yang sudah lama ia pendam dan belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Ia menatap Lucas dengan perasaan yang kacau, karena mengingat semua itu terasa seperti membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. "Jika aku bilang iya, apa Tuan ingin membantuku?" suara Violet terdengar dingin, napasnya sedikit memburu. Lucas terdiam. Wajahnya datar, namun matanya menatap Violet dengan kedalaman yang tidak biasa. "Jadi kau memang ingin membalas dendam." Lucas menatap lekat wajah Violet yang kini juga menatap balik tanpa memalingkan diri. Violet tersenyum tipis, senyum yang terasa terlalu sayu untuk disebut sen

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:74

    Violet menceritakan semuanya dengan suara yang pelan namun berat. Masa lalunya bersama Axel dari awal pertemuan mereka yang tidak disengaja, tawa-tawa kecil yang pernah mengisi hari-harinya, hingga hari di mana Axel sendiri yang menghancurkan semuanya dengan memilih wanita lain di atas dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dan kau berakhir dengan suami brengsekmu itu." Lucas tersenyum tipis, melirik Violet yang terdiam dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Yang ternyata tidak ada bedanya dengan Axel, mantan kekasihmu itu. Sama-sama hanya pandai mempermainkanmu." Violet hanya mendengus pelan mendengar itu. Wajahnya menunduk, matanya kosong menatap lantai seolah di sana tersimpan semua jawaban yang tidak pernah ia temukan. "Mungkin aku memang ditakdirkan hidup seperti ini, selalu disakiti oleh orang yang aku percaya." kata Violet, suaranya tercekat di tenggorokan. Napasnya mendadak terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mencekiknya perlahan dari dalam dadanya sendiri. Luca

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:68

    “Axel!” sentak Violet kaget. Untung saja benda kaca di tangannya tidak terlepas.Violet yang tadinya sedang mengambil sesuatu di atas lemari dapur terkejut saat berbalik dan mendapati Axel sudah berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum jahil dengan tatapan dalam dan ekspresi yang tampak tenang.“T

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:63

    "Azura, kamu ini mirip siapa sih? Cantik sekali." Gumam Violet tersenyum ke arah Azura yang ia letakkan di atas kasur miliknya setelah memandikan bayi mungil itu. Azura yang mendengar suara Violet langsung memegang kedua jari telunjuknya dengan tangan mungilnya yang berbeda. Mulut mungil itu ber

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:62

    "Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:60

    Sementara itu, di mansion Lucas yang mewah dan megah, suasananya sangat berbeda. Di dalam kamar utama yang luas dan didominasi warna-warna lembut, terdengar suara permintaan maaf yang terus berulang. "Maafkan aku, Violet," pinta Sofia berulang kali mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang penuh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status