Mag-log inSetelah mendapat alamat yang dituju, Violet berjalan ke luar rumah sakit dengan langkah yang pasti. Lagipula, ia sudah tidak memiliki rumah untuk tinggal. Jadi, keputusannya untuk menjadi seorang babysitter sudah diolah matang di kepala.
Perjalanan dari rumah sakit ke tempat tujuannya tidak memakan waktu lama. Violet langsung disuguhi pemandangan sebuah mansion mewah. Ia berdiri di depannya, mengagumi kemewahan yang bahkan sudah terlihat dari luar pagar. Violet segera menghampiri penjaga berpakaian rapi di depan gerbang itu. “Permisi, saya ingin melamar sebagai seorang babysitter,” kata Violet singkat. Penjaga itu memerhatikan Violet sesaat. Pandangannya menyisir Violet dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Penjaga itu mengangguk setelahnya, mengizinkan Violet masuk. Setelah diizinkan masuk oleh penjaga di gerbang, Violet melangkah memasuki area mansion. Namun tepat di pintu utama, ia terhenti. Lima orang wanita yang tampak lebih tua darinya berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang penuh kekesalan bercampur kelelahan. Para wanita itu terdiam sejenak, melirik Violet dari atas ke bawah. Violet yang merasakan tatapan itu hanya tersenyum kecil, mencoba bersikap ramah. “Apa kamu juga mendaftarkan diri menjadi babysitter untuk menyusui bayi di sini?” tanya salah satu wanita dengan nada lelah. Violet mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Wanita itu menghela napas panjang, kemudian menatap Violet dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti campuran simpati dan peringatan. “Sebaiknya jangan. Kalau kamu tidak mau dihina dan dimaki – maki oleh mereka jika tidak bisa menenangkan nona kecil itu.” Violet masih terdiam, meremas kertas kecil di tangannya semakin erat. “Tapi kalau kamu tetap mau mencoba, silakan saja,” lanjut wanita itu dengan nada pasrah. “Cuma siapkan mental saja. Selamat berjuang ya, semoga berhasil.” Setelah mengucapkan itu, kelima wanita tersebut melangkah pergi meninggalkan Violet yang masih berdiri terpaku. Violet bimbang. Haruskah ia maju atau pulang saja? Namun jika ia pulang tanpa mencoba, itu akan membuat dirinya menyesal. Tetapi disisi lain, perkataan para wanita tadi membuat hatinya sedikit gentar. Tiba – tiba, suara tangisan bayi yang sangat keras terdengar dari dalam mansion. Violet tersentak kaget. Tangisan itu penuh keputusasann, seolah bayi itu sedang sangat kesakitan atau kelaparan. Hati Violet mencelos. Ia tidak tega mendengar suara bayi itu. Tanpa berpikir panjang, Violet melangkah membuka pintu mewah itu, melupakan semua keraguan yang tadi hinggap di pikirannya. Ia berjalan cepat mengikuti sumber suara tangisan bayi kecil itu. Koridor mansion ini sangat luas dan megah, tetapi Violet tidak sempat untuk mengaguminya. Ia hanya fokus pada tangisan yang semakin keras. Tanpa mengetuk, Violet membuka salah satu pintu kamar, membuat orang – orang yang ada di dalam tersentak kaget melihat kemunculannya. Terdapat beberapa pria dan wanita berpakaian rapi di dalam sana. “Kau siapa? Lancang sekali memasuki kamar nona kecil kami tanpa izin!” bentak seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri tidak jauh dari pintu. “Maaf sebelumnya,” kata Violet dengan hormat sambil sedikit membungkuk. “Saya Violet. Saya datang ke sini untuk melamar kerja. Tadi di luar, saya tidak sengaja mendengar suara tangisan bayi yang membuat saya secara refleks langsung mencari sumber suara itu.” Ia mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan. “Ketika saya masuk, tidak ada orang di area depan. Jadi saya langsung mencari kamar ini. Maafkan saya.” “Setidaknya kau jangan melakukan sesukamu di tempat orang lain kalau kau ingin selamat!” kata pria itu dengan suara berat yang mengancam. Violet mengangguk pelan. “Ya, Tuan. Maaf sudah membuat kalian marah.” Ia kemudian melirik bayi yang terbaring menangis di atas tempat tidur. Bayi itu masih menangis kencang, wajahnya memerah, tubuhnya menggeliat tidak nyaman. “Bolehkah saya menggendong bayi itu dan menyusui nya? Dia terlihat sangat lapar.” “Tidak bisa,” jawab pria itu tegas. “ Jika kau ingin menggendong dan menyusuinya, tunggu tuan kami datang ke sini dulu.” Violet mengernyitkan dahi. “Memangnya tuan kalian ke mana? Kasihan bayi ini! Biarkan saya menyusuinya dulu,” ujar Violet dengan nada memohon. “Tidak bisa. Ini perintah langsung dari beliau. Kau tidak boleh lancang melakukan apa pun tanpa seizinnya,” ketus pria itu. “Lagipula, kau sama seperti wanita – wanita sebelumnya, pasti tidak akan bisa menenangkan nona kecil kami!” Violet mulai kesal mendengar jawaban itu. “Kalau belum dicoba, bagaimana bisa tahu hasilnya?” ketusnya dengan nada sedikit naik. “Apa kalian tega melihat bayi ini menangis karena kelaparan?” Amarah tiba – tiba muncul di dalam dirinya-amarah yang muncul secara alami, seperti seorang ibu yang sedang memarahi orang yang ‘menganggu’ anaknya. Tanpa berpikir panjang, Violet melangkah cepat mendekati kasur dan mengambil bayi itu untuk menggendongnya. “Hei! Apa yang kau lakukan?!” orang-orang itu terkejut dan panik. Mereka takut jika nanti tuannya datang dan melihat ini, mereka pasti akan dimaki habis – habisan-atau lebih buruk lagi. Tetapi kejutan yang lebih besar menanti mereka. Begitu bayi itu berada dalam gendongan Violet, tangisannya perlahan mereda. Bayi perempuan mungil itu berhenti menangis, seolah merasakan kehangatan dan ketenangan yang selama ini ia cari. Mata Violet mengedar ke seluruh ruang. Ia berpaling, membelakangi para pria yang ada di sana, kemudian membuka bajunya dengan hati – hati dan mulai menyusui bayi di gendongannya. Bayi itu langsung mengisap dengan sangat lahap-tanda bahwa ia memang sangat lapar. Ruangan itu tiba – tiba hening. Pria dan wanita yang ada di sana hanya bisa terdiam, menatap pemandangan di depan mereka dengan mata terbelalak. Nona kecil mereka, bayi yang tidak pernah bisa tenang oleh siapa pun, yang menolak semua babysitter dan ibu susu yang datang, kini diam dengan damai dalam pelukan seorang wanita asing. “Bagaimana…mungkin?” bisik wanita itu tidak percaya. Violet hanya tersenyum lembut sambil membelai lembut kepala bayi di pelukannya. Untuk pertama kalinya sejak kelahirannya, bayi perempuan itu tertidur dengan tenang-dalam pelukan seorang wanita yang juga baru kehilangan bayinya sendiri. Tanpa mereka sadari, Jevir, asisten tuannya sudah berdiri di balik pintu sejak tadi. Pria dan wanita, pelayan-pelayan itu, langsung membungkuk sopan. Melihat itu, Violet berpaling. Ia membetulkan pakaiannya sebelum berkata, “A-apakah Anda Tuan Maverick?” “Bukan,” pria itu menggeleng. “Saya Jevir. Asisten Tuan Lucas. Lucas William Maverick.” “O-oh!” Violet sedikit gelagapan. Di gendongannya, bayi perempuan itu masih tenang. “Saya ke sini-” “Tuan Lucas ingin bertemu Anda, Nona. Ikut saya,” pinta Jevir. Violet sedikit kaget. Kenapa tiba – tiba ia dipanggil? Apakah Tuan mereka mengetahui bahwa dirinya masuk tanpa izin dan menggendong putrinya? Apakah ia akan diusir? Tetapi kali ini tanpa ragu, Violet mengangguk pelan. “Baik, Tuan,” gumamnya sambil memberikan bayi mungil itu dengan sangat hati – hati kepada wanita pelayan di sampingnya. Bayi itu tetap tertidur pulas tidak terganggu sama sekali. Violet melangkah mengikuti Jevir dengan perasaan campur aduk—gugup, penasaran, dan sedikit takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak membutuhkan waktu lama, kini Violet sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Lucas—ternyata letaknya tepat di samping kamar putri kecilnya. Jevir membuka pintu dengan gerakan yang terlatih. “Tuan Lucas ada di dalam. Silakan masuk,” ujar Jevir dengan sopan. Violet masih terdiam, kakinya seolah terpaku di tempat. Jevir yang paham dengan gerak-gerik Violet menyadari bahwa wanita itu ketakutan. "Tuan Lucas tidak akan memarahi Anda. Masuklah. Jangan membuat beliau menunggu terlalu lama," tambah Jevir dengan nada sedikit lebih lembut, mencoba menenangkan. "Baik, Tuan," gumam Violet akhirnya, lalu melangkah masuk dengan langkah pelan dan hati-hati. Begitu ia memasuki ruang kerja Lucas, suasana terasa sangat berbeda. Ruangan ini sedikit gelap meskipun ada beberapa lampu meja yang meneranginya dengan cahaya redup. Desain interiornya sangat maskulin—serba hitam, abu-abu, dan cokelat tua. Ada aroma kayu dan aroma samar whiskey di udara. Kedua mata Violet tertuju pada pria yang duduk di kursi kerja besar di belakang meja— itu adalah Lucas. Aura pria itu sangat berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui. Ada sesuatu yang kuat, berbahaya, namun terkendali. Matanya menatap Violet dengan santai, tetapi tatapan itu begitu tajam—seolah bisa membaca setiap pikiran yang melintas di kepalanya. Violet menyipitkan mata. Ada sesuatu yang familiar dari pria di hadapannya ini. Ia merasa pernah melihat pria ini sebelumnya, tetapi di mana? Ia mencoba mengingat-ingat. Lalu ingatannya melayang ke pemakaman kemarin. Pria yang berdiri di bawah pohon besar. Pria yang dikelilingi orang-orang berbaju hitam. Pria yang menatap makam dengan tatapan kosong. ‘Apa jangan-jangan... dia pria yang di pemakaman itu?’ batin Violet terkejut. "Siapa namamu?" Suara dingin itu membuat Violet tersadar dari pikirannya. Ia cepat-cepat melangkah mendekati meja kerja yang diduduki Lucas, berdiri dengan postur sopan. "Maaf, Tuan. Nama saya Violet Arabella., Tuan," katanya sambil sedikit membungkuk hormat. Lucas memandangi Violet dengan raut wajah yang tak terbaca. Ekspresinya tidak tampak jelas di wajahnya yang dingin itu. Suasana menjadi hening sejenak. Violet merasa canggung dengan keheningan itu. Sementara Lucas mengambil sebuah lembaran kertas dari dalam laci meja kerjanya. Ia membuka kertas itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Violet. "Kau datang untuk menjadi babysitter, bukan?" tanya Lucas dengan nada datar, tanpa basa-basi. "Tanda tangani kontrak ini.”Violet menceritakan semuanya dengan suara yang pelan namun berat. Masa lalunya bersama Axel dari awal pertemuan mereka yang tidak disengaja, tawa-tawa kecil yang pernah mengisi hari-harinya, hingga hari di mana Axel sendiri yang menghancurkan semuanya dengan memilih wanita lain di atas dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dan kau berakhir dengan suami brengsekmu itu." Lucas tersenyum tipis, melirik Violet yang terdiam dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Yang ternyata tidak ada bedanya dengan Axel, mantan kekasihmu itu. Sama-sama hanya pandai mempermainkanmu." Violet hanya mendengus pelan mendengar itu. Wajahnya menunduk, matanya kosong menatap lantai seolah di sana tersimpan semua jawaban yang tidak pernah ia temukan. "Mungkin aku memang ditakdirkan hidup seperti ini, selalu disakiti oleh orang yang aku percaya." kata Violet, suaranya tercekat di tenggorokan. Napasnya mendadak terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mencekiknya perlahan dari dalam dadanya sendiri. Luca
Violet terdiam. Tatapannya kosong, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Kenapa kau diam, Violet? Aku menyuruhmu membuka pakaianmu,bukan menyuruhmu berdiri seperti patung di depanku." kata Lucas, meneguk alkohol dengan santai, kakinya disilangkan. Kedua matanya menatap Violet dengan tenang, namun di balik tatapan itu tersimpan sesuatu yang tidak bisa begitu saja dibaca. Lucas tersenyum miring, mengamati tatapan Violet yang kini menatap balik seperti menatap musuh. Ia tahu Violet sedang sangat kesal, marah, dan tidak terima dengan apa yang baru saja ia minta. "Maaf, Tuan. Aku tidak mau." tolak Violet, nadanya sedikit tegas dan terdengar lebih kasar dari biasanya. "Itu sama saja Tuan melecehkan aku. Aku tidak terima." tekan Violet, genggamannya semakin kuat. Lucas mendengus berat, terkekeh kecil. "Kau memang berbeda dari yang lain, Violet." Ia mengamati wajah Violet sejenak, lalu bersuara lebih ringan. "Sudahlah — duduklah. Aku tahu kau lelah." Dengan ragu, Violet dudu
"Daddy, aku ingin menikah dengan Violet." kata Axel, langsung menerobos masuk ke ruang kerja Darren tanpa mengetuk.Darren yang tengah menandatangani dokumen mengangkat kepalanya perlahan. Ia menyipitkan mata ke arah Axel yang melangkah mendekatinya dengan langkah yang tergesa dan penuh amarah yang belum sepenuhnya tersembunyi."Sudah Daddy katakan, Axel,kau tidak bisa menikahinya." Darren membuka suara, melepaskan kacamatanya dan meletakkannya dengan tenang di atas meja."Kenapa, Daddy?!" Suara Axel meninggi, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, hampir saja ia menghantam meja kerja sang ayah.Darren mendengus pelan. "Duduk."Axel tidak duduk. Ia hanya tersenyum miring, tatapannya menajam. "Apa ini karena Lucas, Daddy? Sehingga kau berkata aku tidak bisa menikahinya?" tukas Axel — tangannya bergerak, menyapu semua benda di atas meja kerja Darren hingga berhamburan ke lantai.Darren menatap tajam ke arah Axel. "Apa yang kau lakukan, Axel? Kau tahu Daddy tidak menyukai hal se
"Jawab aku... apa kau masih perawan?" kata Lucas, mengangkat wajahnya dan menatap Violet yang kini tampak berantakan, pipinya basah oleh air mata yang tidak berhenti mengalir. "Jawab aku, Violet. Apa kau benar masih perawan?" ulang Lucas, suaranya lebih ditekankan kali ini. Violet tidak menjawab. Ia memalingkan wajah ke samping, menolak menatap Lucas. Lucas mulai geram. Kebisuan Violet justru semakin mengusik rasa penasarannya yang sudah tidak bisa dibendung. Tangannya bergerak memegang bahu kiri Violet yang masih terasa bergetar, mencengkeramnya dengan kuat hingga Violet mengeluarkan suara kecil kesakitan. Tidak berhenti di sana — Lucas menarik dagu Violet dengan kasar, memaksanya berhadapan dengannya, sementara tangannya telah kembali memasang celananya. Kedua mata Lucas menatap tajam langsung ke mata Violet. "Jawab aku, Violet jika kau tidak ingin aku memotong lidahmu itu." ucap Lucas, setiap kata ditekankan dengan dingin. "Apa benar kau masih perawan?" Violet menarik napas
Violet tersentak kaget, seluruh tubuhnya membeku seketika. Jantungnya berdetak sangat kencang seolah dialiri listrik, napasnya naik turun tidak beraturan, bahkan ia hampir tersedak mendengar apa yang dibisikkan Lucas tepat di telinganya. Lucas tersenyum sinis, matanya melirik wajah Violet yang tampak panik. "Kau kenapa terlihat panik, Violet? Apa perkataanku benar?" bisik Lucas dengan suara seraknya yang dalam. Violet langsung bergerak panik, tubuh mungilnya masih terkunci oleh Lucas yang berdiri begitu dekat dengannya. "Tidak, Tuan." kata Violet sedikit membentak dengan nada panik. "Saya panik—" Violet tergagap, suaranya terbata-bata. "—karena putri Tuan sedang menangis, jadi saya harus menenangkannya, Tuan." Apa yang dikatakan Violet memang benar. Azura, putrinya, tengah menangis karena dirinya sendirilah yang membuat sang putri kaget akibat suara hentakan nya tadi. "Iya, aku tahu putriku menangis. Tapi kau tidak bisa mengelak, Violet — kau panik karena ucapanku, bukan?" kata
Deg!Tubuh Violet terdiam kaku. Jantungnya berdetak sangat cepat, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Kedua tangannya yang semula terangkat kini terhenti di udara, sementara aliran darahnya terasa seperti berhenti sesaat.Kedua matanya membulat sempurna karena terkejut.Tatapan itu.Tatapan yang begitu tajam dan menyeramkan.Tuan Lucas kini berdiri tepat di depan pintu kamar Azura, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—dingin, marah, dan penuh tekanan.Violet tidak menyangka sama sekali bahwa Lucas berada di dalam kamar Azura saat dirinya baru saja membuka pintu.Perlahan, ia menggigit bibir bawahnya. Tatapannya tertuju pada Lucas dengan perasaan campur aduk—takut, gugup, dan kebingungan.Ia hendak membuka mulut untuk berbicara.Namun—Tiba-tiba tubuhnya tersentak.Lucas menarik tangannya dengan kuat.Gerakan itu begitu kasar hingga membuat tubuh Violet hampir kehilangan keseimbangan. Ia nyaris terjatuh jika saja Lucas tidak langsung menyeretnya lebih dekat.“Ah…”
“Apa? Menikah?” ulang Lucas, masih tidak percaya. Wajahnya menegang, keterkejutan jelas tergambar di sana.Darren mengangguk pelan dengan senyum tipis. “Iya. Axel, adikmu, ingin menikahi wanita yang menjadi babysitter keponakannya sendiri,” ujarnya tenang seraya menyalakan rokok yang baru saja diam
"Azura, kamu ini mirip siapa sih? Cantik sekali." Gumam Violet tersenyum ke arah Azura yang ia letakkan di atas kasur miliknya setelah memandikan bayi mungil itu. Azura yang mendengar suara Violet langsung memegang kedua jari telunjuknya dengan tangan mungilnya yang berbeda. Mulut mungil itu ber
"Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—
Pintu kamar Violet terbuka perlahan, membuat Violet yang tadinya hendak memejamkan mata kini membatalkan niatnya saat melihat Lucas memasuki kamar dengan wajah datar yang penuh ketegangan. Aura yang dibawa pria itu sangat berbeda dari biasanya—lebih gelap, lebih berbahaya, dan penuh dengan sesuatu







