共有

Bab: 2

作者: HALLOSEAN
last update 最終更新日: 2026-01-08 15:16:51

Setelah mendapat alamat yang dituju, Violet berjalan ke luar rumah sakit dengan langkah yang pasti. Lagipula, ia sudah tidak memiliki rumah untuk tinggal. Jadi, keputusannya untuk menjadi seorang babysitter sudah diolah matang di kepala.

Perjalanan dari rumah sakit ke tempat tujuannya tidak memakan waktu lama. Violet langsung disuguhi pemandangan sebuah mansion mewah. Ia berdiri di depannya, mengagumi kemewahan yang bahkan sudah terlihat dari luar pagar.

Violet segera menghampiri penjaga berpakaian rapi di depan gerbang itu.

“Permisi, saya ingin melamar sebagai seorang babysitter,” kata Violet singkat.

Penjaga itu memerhatikan Violet sesaat. Pandangannya menyisir Violet dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Penjaga itu mengangguk setelahnya, mengizinkan Violet masuk.

Setelah diizinkan masuk oleh penjaga di gerbang, Violet melangkah memasuki area mansion. Namun tepat di pintu utama, ia terhenti. Lima orang wanita yang tampak lebih tua darinya berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang penuh kekesalan bercampur kelelahan.

Para wanita itu terdiam sejenak, melirik Violet dari atas ke bawah. Violet yang merasakan tatapan itu hanya tersenyum kecil, mencoba bersikap ramah.

“Apa kamu juga mendaftarkan diri menjadi babysitter untuk menyusui bayi di sini?” tanya salah satu wanita dengan nada lelah.

Violet mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

Wanita itu menghela napas panjang, kemudian menatap Violet dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti campuran simpati dan peringatan. “Sebaiknya jangan. Kalau kamu tidak mau dihina dan dimaki – maki oleh mereka jika tidak bisa menenangkan nona kecil itu.”

Violet masih terdiam, meremas kertas kecil di tangannya semakin erat.

“Tapi kalau kamu tetap mau mencoba, silakan saja,” lanjut wanita itu dengan nada pasrah. “Cuma siapkan mental saja. Selamat berjuang ya, semoga berhasil.”

Setelah mengucapkan itu, kelima wanita tersebut melangkah pergi meninggalkan Violet yang masih berdiri terpaku.

Violet bimbang. Haruskah ia maju atau pulang saja? Namun jika ia pulang tanpa mencoba, itu akan membuat dirinya menyesal. Tetapi disisi lain, perkataan para wanita tadi membuat hatinya sedikit gentar.

Tiba – tiba, suara tangisan bayi yang sangat keras terdengar dari dalam mansion. Violet tersentak kaget. Tangisan itu penuh keputusasann, seolah bayi itu sedang sangat kesakitan atau kelaparan.

Hati Violet mencelos. Ia tidak tega mendengar suara bayi itu. Tanpa berpikir panjang, Violet melangkah membuka pintu mewah itu, melupakan semua keraguan yang tadi hinggap di pikirannya.

Ia berjalan cepat mengikuti sumber suara tangisan bayi kecil itu. Koridor mansion ini sangat luas dan megah, tetapi Violet tidak sempat untuk mengaguminya. Ia hanya fokus pada tangisan yang semakin keras.

Tanpa mengetuk, Violet membuka salah satu pintu kamar, membuat orang – orang yang ada di dalam tersentak kaget melihat kemunculannya. Terdapat beberapa pria dan wanita berpakaian rapi di dalam sana.

“Kau siapa? Lancang sekali memasuki kamar nona kecil kami tanpa izin!” bentak seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri tidak jauh dari pintu.

“Maaf sebelumnya,” kata Violet dengan hormat sambil sedikit membungkuk. “Saya Violet. Saya datang ke sini untuk melamar kerja. Tadi di luar, saya tidak sengaja mendengar suara tangisan bayi yang membuat saya secara refleks langsung mencari sumber suara itu.”

Ia mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan. “Ketika saya masuk, tidak ada orang di area depan. Jadi saya langsung mencari kamar ini. Maafkan saya.”

“Setidaknya kau jangan melakukan sesukamu di tempat orang lain kalau kau ingin selamat!” kata pria itu dengan suara berat yang mengancam.

Violet mengangguk pelan. “Ya, Tuan. Maaf sudah membuat kalian marah.”

Ia kemudian melirik bayi yang terbaring menangis di atas tempat tidur. Bayi itu masih menangis kencang, wajahnya memerah, tubuhnya menggeliat tidak nyaman. “Bolehkah saya menggendong bayi itu dan menyusui nya? Dia terlihat sangat lapar.”

“Tidak bisa,” jawab pria itu tegas. “ Jika kau ingin menggendong dan menyusuinya, tunggu tuan kami datang ke sini dulu.”

Violet mengernyitkan dahi. “Memangnya tuan kalian ke mana? Kasihan bayi ini! Biarkan saya menyusuinya dulu,” ujar Violet dengan nada memohon.

“Tidak bisa. Ini perintah langsung dari beliau. Kau tidak boleh lancang melakukan apa pun tanpa seizinnya,” ketus pria itu. “Lagipula, kau sama seperti wanita – wanita sebelumnya, pasti tidak akan bisa menenangkan nona kecil kami!”

Violet mulai kesal mendengar jawaban itu. “Kalau belum dicoba, bagaimana bisa tahu hasilnya?” ketusnya dengan nada sedikit naik. “Apa kalian tega melihat bayi ini menangis karena kelaparan?”

Amarah tiba – tiba muncul di dalam dirinya-amarah yang muncul secara alami, seperti seorang ibu yang sedang memarahi orang yang ‘menganggu’ anaknya.

Tanpa berpikir panjang, Violet melangkah cepat mendekati kasur dan mengambil bayi itu untuk menggendongnya.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” orang-orang itu terkejut dan panik. Mereka takut jika nanti tuannya datang dan melihat ini, mereka pasti akan dimaki habis – habisan-atau lebih buruk lagi.

Tetapi kejutan yang lebih besar menanti mereka.

Begitu bayi itu berada dalam gendongan Violet, tangisannya perlahan mereda. Bayi perempuan mungil itu berhenti menangis, seolah merasakan kehangatan dan ketenangan yang selama ini ia cari.

Mata Violet mengedar ke seluruh ruang. Ia berpaling, membelakangi para pria yang ada di sana, kemudian membuka bajunya dengan hati – hati dan mulai menyusui bayi di gendongannya. Bayi itu langsung mengisap dengan sangat lahap-tanda bahwa ia memang sangat lapar.

Ruangan itu tiba – tiba hening. Pria dan wanita yang ada di sana hanya bisa terdiam, menatap pemandangan di depan mereka dengan mata terbelalak.

Nona kecil mereka, bayi yang tidak pernah bisa tenang oleh siapa pun, yang menolak semua babysitter dan ibu susu yang datang, kini diam dengan damai dalam pelukan seorang wanita asing.

“Bagaimana…mungkin?” bisik wanita itu tidak percaya.

Violet hanya tersenyum lembut sambil membelai lembut kepala bayi di pelukannya.

Untuk pertama kalinya sejak kelahirannya, bayi perempuan itu tertidur dengan tenang-dalam pelukan seorang wanita yang juga baru kehilangan bayinya sendiri.

Tanpa mereka sadari, Jevir, asisten tuannya sudah berdiri di balik pintu sejak tadi. Pria dan wanita, pelayan-pelayan itu, langsung membungkuk sopan.

Melihat itu, Violet berpaling. Ia membetulkan pakaiannya sebelum berkata, “A-apakah Anda Tuan Maverick?”

“Bukan,” pria itu menggeleng. “Saya Jevir. Asisten Tuan Lucas. Lucas William Maverick.”

“O-oh!” Violet sedikit gelagapan. Di gendongannya, bayi perempuan itu masih tenang. “Saya ke sini-”

“Tuan Lucas ingin bertemu Anda, Nona. Ikut saya,” pinta Jevir.

Violet sedikit kaget. Kenapa tiba – tiba ia dipanggil? Apakah Tuan mereka mengetahui bahwa dirinya masuk tanpa izin dan menggendong putrinya? Apakah ia akan diusir?

Tetapi kali ini tanpa ragu, Violet mengangguk pelan. “Baik, Tuan,” gumamnya sambil memberikan bayi mungil itu dengan sangat hati – hati kepada wanita pelayan di sampingnya. Bayi itu tetap tertidur pulas tidak terganggu sama sekali.

Violet melangkah mengikuti Jevir dengan perasaan campur aduk—gugup, penasaran, dan sedikit takut. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tidak membutuhkan waktu lama, kini Violet sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Lucas—ternyata letaknya tepat di samping kamar putri kecilnya. Jevir membuka pintu dengan gerakan yang terlatih.

“Tuan Lucas ada di dalam. Silakan masuk,” ujar Jevir dengan sopan.

Violet masih terdiam, kakinya seolah terpaku di tempat. Jevir yang paham dengan gerak-gerik Violet menyadari bahwa wanita itu ketakutan.

"Tuan Lucas tidak akan memarahi Anda. Masuklah. Jangan membuat beliau menunggu terlalu lama," tambah Jevir dengan nada sedikit lebih lembut, mencoba menenangkan.

"Baik, Tuan," gumam Violet akhirnya, lalu melangkah masuk dengan langkah pelan dan hati-hati.

Begitu ia memasuki ruang kerja Lucas, suasana terasa sangat berbeda. Ruangan ini sedikit gelap meskipun ada beberapa lampu meja yang meneranginya dengan cahaya redup. Desain interiornya sangat maskulin—serba hitam, abu-abu, dan cokelat tua. Ada aroma kayu dan aroma samar whiskey di udara.

Kedua mata Violet tertuju pada pria yang duduk di kursi kerja besar di belakang meja— itu adalah Lucas. Aura pria itu sangat berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui. Ada sesuatu yang kuat, berbahaya, namun terkendali. Matanya menatap Violet dengan santai, tetapi tatapan itu begitu tajam—seolah bisa membaca setiap pikiran yang melintas di kepalanya.

Violet menyipitkan mata. Ada sesuatu yang familiar dari pria di hadapannya ini. Ia merasa pernah melihat pria ini sebelumnya, tetapi di mana? Ia mencoba mengingat-ingat.

Lalu ingatannya melayang ke pemakaman kemarin. Pria yang berdiri di bawah pohon besar. Pria yang dikelilingi orang-orang berbaju hitam. Pria yang menatap makam dengan tatapan kosong.

‘Apa jangan-jangan... dia pria yang di pemakaman itu?’ batin Violet terkejut.

"Siapa namamu?"

Suara dingin itu membuat Violet tersadar dari pikirannya. Ia cepat-cepat melangkah mendekati meja kerja yang diduduki Lucas, berdiri dengan postur sopan.

"Maaf, Tuan. Nama saya Violet Arabella., Tuan," katanya sambil sedikit membungkuk hormat.

Lucas memandangi Violet dengan raut wajah yang tak terbaca. Ekspresinya tidak tampak jelas di wajahnya yang dingin itu.

Suasana menjadi hening sejenak. Violet merasa canggung dengan keheningan itu.

Sementara Lucas mengambil sebuah lembaran kertas dari dalam laci meja kerjanya. Ia membuka kertas itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Violet.

"Kau datang untuk menjadi babysitter, bukan?" tanya Lucas dengan nada datar, tanpa basa-basi. "Tanda tangani kontrak ini.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:64

    “Apa? Menikah?” ulang Lucas, masih tidak percaya. Wajahnya menegang, keterkejutan jelas tergambar di sana.Darren mengangguk pelan dengan senyum tipis. “Iya. Axel, adikmu, ingin menikahi wanita yang menjadi babysitter keponakannya sendiri,” ujarnya tenang seraya menyalakan rokok yang baru saja diambil dari saku jasnya.“Aku tidak menyangka putra keduaku jatuh cinta pada wanita rendahan itu. Padahal dia yang paling membenci perempuan seperti itu. Sekarang dia justru menelan ucapannya sendiri.” Darren tertawa kecil, sementara Lucas terdiam mematung.“Jadi itu alasan mengapa dia betah pergi ke mansion-mu, Lucas. Ternyata hanya untuk melihat wanita itu.”Kedua tangan Lucas mengepal kuat. Napasnya memburu, dadanya terasa membara ketika mengetahui Axel ingin menikahi Violet. Kedua telinganya terasa panas. Bukan semata karena Violet hanyalah seorang pengasuh anak—ada perasaan lain yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang sulit ia akui.Darren yang menyadari perubahan putra sulungnya itu mena

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:63

    "Azura, kamu ini mirip siapa sih? Cantik sekali." Gumam Violet tersenyum ke arah Azura yang ia letakkan di atas kasur miliknya setelah memandikan bayi mungil itu. Azura yang mendengar suara Violet langsung memegang kedua jari telunjuknya dengan tangan mungilnya yang berbeda. Mulut mungil itu berceloteh tidak jelas, kaki kecilnya melengkung ke bawah dengan kedua kakinya sedikit terangkat. "Kamu itu mirip Tuan Lucas atau mama kamu ya, Azura?" tanya Violet seperti orang bodoh karena bertanya pada bayi yang belum sama sekali bisa melafalkan kata-kata. Violet tersenyum sambil memakaikan Azura sebuah dress kecil yang begitu mewah tanpa motif. "Tapi Bibi yakin kalau kamu itu pasti lebih mirip mama kamu, Sayang," celoteh Violet sambil mencubit hidung mancung Azura. Azura yang diperlakukan seperti itu tersenyum kecil dengan celotehan lucunya. "Nah, sekarang sudah cantik, Azura," pinta Violet setelah mengoles sedikit bedak di pipi gembul Azura. "Oh iya, Bibi lupa kasih kamu parfum." Vi

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:62

    "Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—sebuah kebiasaan yang selalu Sofia lakukan saat ia merasa gugup atau tidak yakin. "Violet, Tuan Lucas kenapa?" tanya Sofia sambil langsung berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang Violet dengan gerakan yang hati-hati, berusaha tidak membangunkan Azura yang masih tertidur pulas di samping Violet. Violet menghela napas panjang, dadanya terasa berat dengan semua pikiran yang berkecamuk di kepalanya. "Memangnya dia kenapa, Sofia?" ujar Violet sambil berbalik bertanya, mencoba terlihat tidak mengerti apa yang Sofia maksud, meskipun sebenarnya ia tahu persis apa yang akan Sofia tanyakan. "Tuan Lucas terlihat seperti sedang marah atau sangat kesal saat aku melihat ekspresinya keluar dari kamarmu

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:61

    Pintu kamar Violet terbuka perlahan, membuat Violet yang tadinya hendak memejamkan mata kini membatalkan niatnya saat melihat Lucas memasuki kamar dengan wajah datar yang penuh ketegangan. Aura yang dibawa pria itu sangat berbeda dari biasanya—lebih gelap, lebih berbahaya, dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Violet artikan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya dengan santai, namun setiap langkahnya memancarkan kekuasaan dan dominasi yang sangat kuat. Lucas menarik kursi hias milik Violet dengan gerakan yang tenang namun penuh kepastian. Setelah itu, ia duduk di samping ranjang Violet dengan posisi yang sangat rileks, seolah ia adalah raja yang sedang duduk di singgasananya. "Apa kau tidak merasa sakit lagi?" tanya Lucas dengan nada basa-basi yang terdengar tidak biasa keluar dari mulutnya. Violet yang mendengar pertanyaan itu langsung mengambil posisi duduk dengan tubuh bersandar ke belakang, mencoba menciptakan jarak yang aman di antara mereka. Jantung

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:60

    Sementara itu, di mansion Lucas yang mewah dan megah, suasananya sangat berbeda. Di dalam kamar utama yang luas dan didominasi warna-warna lembut, terdengar suara permintaan maaf yang terus berulang. "Maafkan aku, Violet," pinta Sofia berulang kali mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang penuh penyesalan, membuat Violet berdesis kesal. Violet mengundurkan kepalanya sedikit dan terus memukul kecil lengan Sofia dengan tangan kanannya dalam gesture yang lebih menunjukkan rasa gemas daripada kemarahan. "Sudah berapa kali kamu mengucapkan itu, Sofia? Sudah hampir seratus kali!" ujar Violet dengan sedikit berdecak sebal, meskipun nada suaranya sebenarnya tidak benar-benar marah. "Apa mulutmu tidak capek mengucapkan kata yang sama berulang kali seperti itu?" Violet sangat paham bahwa semua masalah yang terjadi pagi tadi sama sekali bukan karena kesalahan Sofia. Sofia juga tidak tahu apa-apa tentang rencana jahat Marko untuk menculiknya. Gadis itu juga menjadi korban dalam permainan lic

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:59

    "Bagaimana? Apa kamu sudah melakukan itu kepada Violet?" tanya Varko saat melihat Marko memasuki ruangan kerja mewahnya dengan langkah terburu-buru. Marko tidak merespons pertanyaan ayahnya. Ia terus berjalan menuju meja kerja besar berbahan kayu jati yang mendominasi ruangan itu dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal, bercampur dengan berbagai emosi lain yang sulit diartikan. Tangannya bergerak gelisah, mengusap wajah dan rambutnya dengan penuh frustrasi yang dipenuhi kemarahan yang membara. Varko yang menyadari ekspresi putra sulungnya yang tidak biasa itu perlahan meletakkan pena mewah bermerek terkenal dan buku dokumen yang sedang ia baca. Setelah itu, ia membuka kacamatanya dengan gerakan yang terukur. Kedua matanya menyipit penuh selidik ke arah Marko yang terlihat sangat tidak tenang. Kedua tangannya ia letakkan di bawah dagu dengan posisi yang menunjukkan keseriusan dan antisipasi akan jawaban yang akan ia dengar. "Apa kau berhasil, Marko?" tanya Varko dengan nada yang t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status