MasukPagi ini, di Pengadilan Negeri, proses sidang perceraian Violet dan Marko yang telah berlangsung sejak tadi pagi akhirnya selesai. Keputusan hakim sudah dijatuhkan—mereka berdua resmi bercerai dan bukan lagi sepasang suami istri.
Violet melirik ke arah Marko yang tersenyum manis ke arahnya—senyum yang membuat perutnya mual. Ia mengepal kuat kedua tangannya, menahan keinginan untuk menonjok bibir sialan itu agar tidak bisa tersenyum lagi. Apalagi saat ini ia juga melihat Clear—sahabat setia yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri—yang ternyata menusuknya dari belakang. Wanita itu kini berpelukan manja di dalam dekapan Marko dan terlihat sangat bahagia setelah tahu bahwa Marko dan Violet resmi bercerai. “Sayang, akhirnya kamu bercerai juga,” kata Clear dengan suara manjanya yang membuat Violet ingin muntah. Marko tersenyum tipis sambil mengecup singkat bibir Clear. “Iya, sayang. Akhirnya setelah ini kita bisa menikah,” ucap Marko sambil melirik ke arah Violet yang kini menatap mereka dengan ekspresi sulit ditebak. Namun Marko tahu—mantan istrinya sedang menahan amarah yang sangat besar. Violet langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat pemandangan menjijikkan itu lebih lama lagi. Ia juga harus segera pulang karena datang ke sini tanpa memberi tahu Lucas, tuannya. Karena Lucas tidak berada di mansion sejak semalam, Violet tidak sempat meminta izin kepadanya. Saat Violet hampir sampai di pintu keluar gedung pengadilan, tiba-tiba dua orang pria berjas hitam berdiri menghadangnya. “Maaf, Nona,” sapa mereka dengan nada formal. Violet spontan berhenti melangkah, ekspresinya berubah waspada. “Apakah benar Nona Violet Arabella?” tanya salah satu pria itu dengan nada serius. Violet mengerutkan dahi. “Ya, benar. Ada apa?” jawabnya hati-hati. “Baik kalau begitu,” kata pria itu sambil bertukar pandang dengan rekannya. “Kami ke sini untuk menagih utang Anda, Nona.” Violet terlonjak kaget. Selama hidupnya, ia tidak pernah berutang ke mana pun—ia adalah wanita kaya dengan aset berlimpah. “Maaf, mungkin kalian salah orang,” ujar Violet tegas. “Saya tidak pernah berutang kepada siapa pun.” “Apakah benar Nona adalah istri Tuan Marko?” tanya pria itu lagi. Violet mengangguk pelan, rahangnya mengeras. “Benar. Tapi sekarang dia bukan suami saya lagi.” “Nah, berarti memang Nona orangnya,” kata pria itu sambil mengambil selembar dokumen dari dalam koper kerjanya. Ia menyerahkan kertas itu kepada Violet. Violet menerimanya dengan tangan yang mulai gemetar—entah karena marah atau firasat buruk. “Nona bisa membaca isi dokumen ini agar memahami situasinya,” ujar pria itu profesional. Violet membaca isi dokumen tersebut dengan napas yang mulai memburu. “Saya tahu Nona dan Tuan Marko sudah bercerai. Karena itu, kami diminta Tuan Marko untuk menagih utangnya yang kini telah beralih atas nama Nona Violet Arabella,” jelas pria itu datar. Darah Violet mendidih. Terlebih saat ia melihat dokumen itu—perjanjian pembayaran utang Marko dengan nominal yang sangat besar. Dan di sana, tertera tanda tangannya. Violet meremas kertas itu kuat-kuat. Marko benar-benar licik. Ia telah menjebaknya hingga ke titik terendah. Padahal seluruh harta dan warisan Violet sudah ia serahkan pada pria itu—menyisakan dirinya tanpa apa pun. Tiba-tiba Marko dan Clear sudah berdiri di sampingnya dengan senyum licik yang menjengkelkan. “Bagaimana? Suka dengan hadiah perce—” PLAK! Ucapan Marko terpotong saat tamparan Violet mendarat keras di pipinya. Kepala Marko terhempas ke samping. Suara itu menggema di lorong pengadilan, membuat banyak orang menoleh. Violet menatapnya dengan kebencian yang tidak lagi bisa dibendung. “Berani sekali kau—!” Clear spontan mendorong kasar punggung Violet hingga tubuhnya terdorong ke belakang. Untungnya, Violet masih bisa menjaga keseimbangan. “Kamu sudah gila, Violet?!” bentak Clear sambil memegang wajah Marko yang memerah. Violet tersenyum sinis—senyum yang dipenuhi ironi dan amarah membara. “Itu belum seberapa,” tukasnya tajam. “Kau memang licik, Marko.” “Jangan sok berkuasa!” lanjut Violet lantang. “Semua kekayaan yang kau miliki sekarang adalah hasil pemberianku!” Ia mendesis penuh amarah. “Kau ingin aku membayar utangmu? Utang bodoh yang kau buat sendiri?!” Violet tertawa pahit. “Kau pikir aku tidak mampu membayarnya karena semua hartaku ada di tanganmu?” Tatapannya meremehkan. “Kamu bodoh, Marko. Kau lupa satu hal.” Ia melangkah mendekat, suaranya merendah, menusuk. “Kalau kau masih miskin seperti dulu, mungkin aku akan kasihan.” Marko mengepal tangannya kuat-kuat. Kata miskin menghantam egonya tanpa ampun. Tanpa ingin berdebat lebih lama, Violet mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya—tabungan pribadinya yang selama ini ia simpan diam-diam. Dengan gerakan tegas, ia melempar kartu itu tepat ke wajah Marko. “Ambil itu dan bayar utangmu sendiri!” bentaknya. “PIN-nya tanggal lahir anakku yang kau biarkan mati tanpa pernah kupeluk!” Setelah itu, Violet berbalik dan melangkah pergi—meninggalkan Marko yang terpaku dengan kartu di tangannya, Clear yang membeku tak percaya, dan dua penagih utang yang berdiri canggung. Violet tidak menoleh lagi. Air mata mengalir di pipinya—bukan karena sedih, melainkan karena amarah dan kelegaan. Saat keluar dari gedung pengadilan dan tersentuh sinar matahari pagi, Violet mengusap air matanya kasar. “Aku tidak akan menangis lagi untuk orang sepertimu, Marko,” bisiknya. “Mulai sekarang, aku hidup untuk diriku sendiri. Dan suatu hari nanti...aku akan mengambil kembali semua yang kau curi dariku.” Dengan tekad mengeras, Violet melangkah menuju halte bus terdekat. Ia harus segera kembali ke mansion Lucas sebelum ketidakhadirannya disadari. Hidup barunya telah dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya lagi.Suara berat dan dingin itu membuat Sofia dan Stella terdiam seketika. Suasana langsung berubah tegang. Bahkan Stella yang tadi terlihat percaya diri, kini wajahnya sedikit pucat. Lucas. Pria itu berdiri di ujung koridor dengan Jevir di sampingnya. Auranya sangat kuat—begitu menakutkan hingga siapa pun yang berada di dekatnya langsung merasa tertekan. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, dan ekspresinya… sangat, sangat marah. Lucas melangkah mendekati dengan langkah pelan tetapi penuh wibawa. Setiap langkahnya terdengar menggema di koridor yang kini sunyi senyap—semua orang menahan napas, tidak ada yang berani bergerak. Saat Lucas sampai di tempat kejadian, matanya langsung tertuju pada Violet yang terduduk di lantai dengan luka-luka di tubuhnya, pakaian yang basah karena kopi, serta ekspresi wajah yang menahan sakit. Namun, tanpa ada rasa kasihan—karena Lucas bukanlah orang yang berbaik hati kepada siapa pun, apalagi kepada para pelayannya—ia langsung mengalihkan pandangannya k
PYAAARR— “Aw!” Violet terjatuh dengan posisi duduk menyamping. Ia merintih kecil ketika air panas dan pecahan gelas kaca mengenai sisi tubuhnya. Lutut kiri dan telapak tangan kanannya terluka akibat tergores pecahan kaca yang tajam. Darah mulai merembes keluar dari luka-luka itu. Sementara itu, Stella yang berdiri di depannya langsung menutup mulut dengan kedua tangan, pura-pura memasang ekspresi kaget—seolah-olah bukan dirinya yang sengaja menjatuhkan Violet. Stella memang sengaja menabrak Violet saat Violet baru saja turun dari tangga lantai dua. Padahal, seharusnya Stella sedang naik ke lantai dua untuk mengantarkan kopi kepada Tuan Lucas. Kini, ia memiliki rencana licik terhadap Violet—rencana untuk menjatuhkannya sekali lagi di mata semua orang. Ia sengaja berjalan tanpa melihat, seolah-olah Violet tidak ada di hadapannya. Akibatnya, ia menabrak bahu Violet dengan keras. Cangkir kopi di tangannya terjatuh, bersamaan dengan Violet yang terhempas ke lantai marmer yang dingin.
Di sore yang indah ini, Sofia mengajak Violet berkeliling area mansion besar milik tuan mereka. Sofia ingin Violet mengenal seluruh sudut mansion agar sewaktu-waktu Violet tidak kebingungan jika ingin berjalan-jalan atau mencari sesuatu di sekitar mansion yang sangat luas ini. Saat ini mereka berada di area taman belakang yang tidak jauh dari kolam renang. Taman ini sangat luas, dipenuhi berbagai jenis bunga yang tertata indah, sebuah air mancur kecil di tengahnya, serta pohon-pohon besar yang memberikan keteduhan. Violet terdiam takjub melihat taman seindah ini. Ia tidak menyangka akan menemukan pemandangan seindah ini di dalam area mansion. Bahkan semua yang sudah ditunjukkan Sofia sebelumnya—mulai dari perpustakaan pribadi, ruang musik, ruang makan mewah, hingga berbagai ruangan lainnya—membuatnya terpesona dan sulit percaya. “Sofia, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua yang sudah kau tunjukkan di sekitar mansion ini begitu indah,” ujar Violet dengan senyum senang. Pikir
Di dalam mansion megah milik Lucas, semua pelayan yang ada di sana saling berbisik, membicarakan kejadian ketika Violet—yang baru saja bekerja di sana—berani keluar tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas. Kejadian itu membuat tuan mereka murka besar kepada Violet, dan gosip tersebut pun menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru mansion. Violet dan Sofia yang baru saja turun dari lantai dua dan berjalan menuju dapur untuk makan siang, tanpa sengaja mendengar beberapa pelayan lain sedang membicarakan Violet. Suara mereka memang tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas terdengar di koridor yang sepi. Sofia tampak kesal mendengarnya, sementara Violet hanya melirik sekilas tanpa menegur ataupun marah. Ia memilih untuk tetap diam dan melanjutkan langkahnya. “Parah, kan, dia? Baru saja diterima kerja di sini, sudah sok berkuasa,” kata salah satu pelayan wanita dengan nada mengejek. “Emangnya dia pikir Tuan Lucas tertarik sama dia?” sahut yang lain dengan nada meremehkan. Mereka tertawa—
“Kamu dari mana saja, Violet?” tanya Sofia dengan nada penuh kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya. Ia begitu takut jika Violet sampai dimarahi Lucas. Apalagi Violet keluar dari mansion tanpa izin terlebih dahulu kepada Lucas—sesuatu yang sangat dilarang keras. Kemarahan Lucas pagi tadi benar-benar menakutkan. Pria itu murka saat mengetahui Violet dengan lancang keluar tanpa izin. Lucas tidak suka jika orang-orang yang bekerja di mansion-nya pergi tanpa sepengetahuan dan persetujuannya—itu adalah aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar. “Kamu tahu, Violet? Aku takut sekali saat kamu tidak ada di mansion tadi pagi,” gumam Sofia sambil duduk di tepi tempat tidur. “Dan aku benar-benar takut saat Tuan Lucas memarahimu tadi.” Sofia benar-benar ketakutan ketika mendengar dari orang-orang di mansion bahwa Violet dimarahi habis-habisan oleh Lucas. Ia tahu betul bagaimana Lucas jika sudah marah—meskipun kali ini memang Violet yang bersalah. Namun, yang membuat Sofia takut adalah ke
Pagi ini, di Pengadilan Negeri, proses sidang perceraian Violet dan Marko yang telah berlangsung sejak tadi pagi akhirnya selesai. Keputusan hakim sudah dijatuhkan—mereka berdua resmi bercerai dan bukan lagi sepasang suami istri. Violet melirik ke arah Marko yang tersenyum manis ke arahnya—senyum yang membuat perutnya mual. Ia mengepal kuat kedua tangannya, menahan keinginan untuk menonjok bibir sialan itu agar tidak bisa tersenyum lagi. Apalagi saat ini ia juga melihat Clear—sahabat setia yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri—yang ternyata menusuknya dari belakang. Wanita itu kini berpelukan manja di dalam dekapan Marko dan terlihat sangat bahagia setelah tahu bahwa Marko dan Violet resmi bercerai. “Sayang, akhirnya kamu bercerai juga,” kata Clear dengan suara manjanya yang membuat Violet ingin muntah. Marko tersenyum tipis sambil mengecup singkat bibir Clear. “Iya, sayang. Akhirnya setelah ini kita bisa menikah,” ucap Marko sambil melirik ke arah Violet yang kini menatap







