共有

Bab: 5

作者: HALLOSEAN
last update 公開日: 2026-01-08 15:18:05

Pagi ini, di Pengadilan Negeri, proses sidang perceraian Violet dan Marko yang telah berlangsung sejak tadi pagi akhirnya selesai. Keputusan hakim sudah dijatuhkan—mereka berdua resmi bercerai dan bukan lagi sepasang suami istri.

Violet melirik ke arah Marko yang tersenyum manis ke arahnya—senyum yang membuat perutnya mual. Ia mengepal kuat kedua tangannya, menahan keinginan untuk menonjok bibir sialan itu agar tidak bisa tersenyum lagi.

Apalagi saat ini ia juga melihat Clear—sahabat setia yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri—yang ternyata menusuknya dari belakang. Wanita itu kini berpelukan manja di dalam dekapan Marko dan terlihat sangat bahagia setelah tahu bahwa Marko dan Violet resmi bercerai.

“Sayang, akhirnya kamu bercerai juga,” kata Clear dengan suara manjanya yang membuat Violet ingin muntah.

Marko tersenyum tipis sambil mengecup singkat bibir Clear.

“Iya, sayang. Akhirnya setelah ini kita bisa menikah,” ucap Marko sambil melirik ke arah Violet yang kini menatap mereka dengan ekspresi sulit ditebak. Namun Marko tahu—mantan istrinya sedang menahan amarah yang sangat besar.

Violet langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat pemandangan menjijikkan itu lebih lama lagi. Ia juga harus segera pulang karena datang ke sini tanpa memberi tahu Lucas, tuannya. Karena Lucas tidak berada di mansion sejak semalam, Violet tidak sempat meminta izin kepadanya.

Saat Violet hampir sampai di pintu keluar gedung pengadilan, tiba-tiba dua orang pria berjas hitam berdiri menghadangnya.

“Maaf, Nona,” sapa mereka dengan nada formal.

Violet spontan berhenti melangkah, ekspresinya berubah waspada.

“Apakah benar Nona Violet Arabella?” tanya salah satu pria itu dengan nada serius.

Violet mengerutkan dahi.

“Ya, benar. Ada apa?” jawabnya hati-hati.

“Baik kalau begitu,” kata pria itu sambil bertukar pandang dengan rekannya. “Kami ke sini untuk menagih utang Anda, Nona.”

Violet terlonjak kaget. Selama hidupnya, ia tidak pernah berutang ke mana pun—ia adalah wanita kaya dengan aset berlimpah.

“Maaf, mungkin kalian salah orang,” ujar Violet tegas. “Saya tidak pernah berutang kepada siapa pun.”

“Apakah benar Nona adalah istri Tuan Marko?” tanya pria itu lagi.

Violet mengangguk pelan, rahangnya mengeras.

“Benar. Tapi sekarang dia bukan suami saya lagi.”

“Nah, berarti memang Nona orangnya,” kata pria itu sambil mengambil selembar dokumen dari dalam koper kerjanya.

Ia menyerahkan kertas itu kepada Violet. Violet menerimanya dengan tangan yang mulai gemetar—entah karena marah atau firasat buruk.

“Nona bisa membaca isi dokumen ini agar memahami situasinya,” ujar pria itu profesional.

Violet membaca isi dokumen tersebut dengan napas yang mulai memburu.

“Saya tahu Nona dan Tuan Marko sudah bercerai. Karena itu, kami diminta Tuan Marko untuk menagih utangnya yang kini telah beralih atas nama Nona Violet Arabella,” jelas pria itu datar.

Darah Violet mendidih. Terlebih saat ia melihat dokumen itu—perjanjian pembayaran utang Marko dengan nominal yang sangat besar. Dan di sana, tertera tanda tangannya.

Violet meremas kertas itu kuat-kuat. Marko benar-benar licik. Ia telah menjebaknya hingga ke titik terendah. Padahal seluruh harta dan warisan Violet sudah ia serahkan pada pria itu—menyisakan dirinya tanpa apa pun.

Tiba-tiba Marko dan Clear sudah berdiri di sampingnya dengan senyum licik yang menjengkelkan.

“Bagaimana? Suka dengan hadiah perce—”

PLAK!

Ucapan Marko terpotong saat tamparan Violet mendarat keras di pipinya. Kepala Marko terhempas ke samping. Suara itu menggema di lorong pengadilan, membuat banyak orang menoleh.

Violet menatapnya dengan kebencian yang tidak lagi bisa dibendung.

“Berani sekali kau—!”

Clear spontan mendorong kasar punggung Violet hingga tubuhnya terdorong ke belakang. Untungnya, Violet masih bisa menjaga keseimbangan.

“Kamu sudah gila, Violet?!” bentak Clear sambil memegang wajah Marko yang memerah.

Violet tersenyum sinis—senyum yang dipenuhi ironi dan amarah membara.

“Itu belum seberapa,” tukasnya tajam. “Kau memang licik, Marko.”

“Jangan sok berkuasa!” lanjut Violet lantang. “Semua kekayaan yang kau miliki sekarang adalah hasil pemberianku!”

Ia mendesis penuh amarah. “Kau ingin aku membayar utangmu? Utang bodoh yang kau buat sendiri?!”

Violet tertawa pahit.

“Kau pikir aku tidak mampu membayarnya karena semua hartaku ada di tanganmu?” Tatapannya meremehkan. “Kamu bodoh, Marko. Kau lupa satu hal.”

Ia melangkah mendekat, suaranya merendah, menusuk.

“Kalau kau masih miskin seperti dulu, mungkin aku akan kasihan.”

Marko mengepal tangannya kuat-kuat. Kata miskin menghantam egonya tanpa ampun.

Tanpa ingin berdebat lebih lama, Violet mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya—tabungan pribadinya yang selama ini ia simpan diam-diam. Dengan gerakan tegas, ia melempar kartu itu tepat ke wajah Marko.

“Ambil itu dan bayar utangmu sendiri!” bentaknya.

“PIN-nya tanggal lahir anakku yang kau biarkan mati tanpa pernah kupeluk!”

Setelah itu, Violet berbalik dan melangkah pergi—meninggalkan Marko yang terpaku dengan kartu di tangannya, Clear yang membeku tak percaya, dan dua penagih utang yang berdiri canggung.

Violet tidak menoleh lagi. Air mata mengalir di pipinya—bukan karena sedih, melainkan karena amarah dan kelegaan.

Saat keluar dari gedung pengadilan dan tersentuh sinar matahari pagi, Violet mengusap air matanya kasar.

“Aku tidak akan menangis lagi untuk orang sepertimu, Marko,” bisiknya.

“Mulai sekarang, aku hidup untuk diriku sendiri. Dan suatu hari nanti...aku akan mengambil kembali semua yang kau curi dariku.”

Dengan tekad mengeras, Violet melangkah menuju halte bus terdekat. Ia harus segera kembali ke mansion Lucas sebelum ketidakhadirannya disadari.

Hidup barunya telah dimulai.

Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya lagi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
keputusan yang bagus Violet..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:80

    "Violet?!" Pekik Livara kaget, tangannya refleks menutup mulutnya yang masih terbuka kecil. Ia bangkit dari kursinya dengan cepat.Violet yang mendengar pekikan itu hanya terdiam, kepalanya tidak juga ia dongakkan."Kamu mengenalnya?" Tanya Lucas dengan satu alis terangkat.Livara mendelik ke arah Lucas. "Dia sahabatku, Lucas." Ucapnya tegas.Lucas berdecih. "Apa? Sahabatmu?"Livara mengangguk cepat dengan senyum tipis, matanya sekilas melirik ke arah Violet. "Kamu tidak pernah menceritakan bahwa dia sahabatmu.""Itu karena kamu selalu sibuk, Lucas. Waktu itu kamu tidak pernah punya waktu untukku, makanya aku tidak pernah menceritakan tentang dia kepadamu." Jelas Livara, matanya kembali melirik Violet sebelum akhirnya ia melangkah lebar dengan perasaan senang yang tergambar jelas di wajah cantiknya.Violet masih menunduk, tidak bergerak."Ini benar-benar kamu, Violet?" Kata Livara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, kini berdiri tepat di hadapan Violet.Violet mend

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:79

    Akhirnya Violet bisa bernapas lega setelah melewati kerumunan karyawan Lucas di lobi yang tadi membuatnya begitu canggung. Hampir semua orang melirik ke arahnya, berbisik satu sama lain, entah membicarakan apa. Violet tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan, namun ia cukup yakin bahwa dirinya menjadi bahan pembicaraan mereka, entah itu hal yang baik maupun sebaliknya. Yang terpenting, ia tidak perlu mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kini dirinya sudah berada di dalam ruang kerja Lucas yang terlihat luas dan tertata rapi. Sementara Lucas sudah fokus dengan tumpukan berkas-berkas pekerjaannya di atas meja kerja, Violet duduk di sofa dengan Azura dalam dekapannya, menyusuinya dengan dot setelah tadi sempat menangis. Kini Azura sudah mulai tenang. "Bagaimana?" Mendengar itu, Violet menoleh ke arah Lucas yang kini mengenakan kacamata, satu berkas kerja tergenggam di tangan kirinya. "Apanya, Tuan?" Tanya Violet bingung, tangannya masih memegang dot yang diisap

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:78

    Setibanya di kantor, Violet yang masih duduk di dalam mobil terasa sedikit tegang ketika Lucas menyuruhnya untuk turun bersama.Violet tidak tahu harus bagaimana. Rasa canggung dan malu menyelimuti dirinya, apalagi di luar sana banyak karyawan Lucas yang pasti akan memandangi dirinya begitu ia keluar.Lucas berdeham pelan. "Kenapa kau diam? Aku menyuruhmu keluar, bukan menjadi hiasan di dalam mobil ini." Kata Lucas yang kini memegang handle pintu mobil yang terbuka sedikit.Violet melirik Lucas dengan bibir yang ia lipat ke dalam. "Maaf, Tuan. Aku rasa aku tidak bisa ikut Tuan masuk ke dalam." Kata Violet pelan, matanya sekilas melirik Azura yang kini asyik menarik-narik helai rambutnya.Lucas yang mendengar itu menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Kedua mata tajamnya melirik Jiver yang masih duduk di kursi pengemudi, memberi isyarat agar keluar. Tanpa berpikir panjang, Jiver langsung turun dari mobil.Lucas mencondongkan tubuhnya ke arah Violet, membuat Violet langsung tersentak

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:77

    "Sofia?"Sofia yang sedang sibuk dengan peralatan dapur kini tersentak kaget, mendengar panggilan tiba-tiba dari Violet yang langsung muncul di hadapannya dengan senyum lebar.Sofia berdecak pelan, melepaskan pisau yang ada di tangannya. "Violet, kamu ini bikin kaget saja." Ujar Sofia sambil mengelus dadanya.Violet terkikik kecil. "Maaf, kamu sedang sibuk ya?" Gumam Violet."Seperti yang kamu lihat, Violet. Aku kalau pagi-pagi begini pasti sibuk karena itu memang tugasku." Balas Sofia dengan mengangkat satu alisnya. "Lalu kamu ke sini ada perlu apa, ada yang bisa aku bantu?""Iya, Sofia. Aku mau kamu buatkan air panas, nanti simpan di termos kecil ini ya." Violet menyerahkan termos kecil yang ada di genggamannya."Siap, Violet." Seru Sofia sambil mengelap kedua tangannya di celemek. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia mengambil panci yang sudah terisi air."Sofia, aku juga mau bilang, kata Tuan Lucas pagi ini tidak usah membuat sarapan."Sofia yang baru saja menyalakan kompor kini

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:76

    Violet mengedipkan kedua matanya tanpa disadarinya. Ia masih terpaku dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Lucas, membuat dirinya terdiam seribu bahasa.Lucas hanya diam, tangannya bergerak membuka bungkus rokok yang terletak di atas meja kaca di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Violet masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.Lucas berdeham pelan. Suara itu membuat Violet tersadar dari lamunannya, dan dalam gerakan kecil yang tak disengaja, kedua mata mereka bertemu.Bibir Violet bergerak kecil, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya."Jika kau tidak mau, itu hakmu." Suara Lucas terdengar datar dan dingin.Violet membeku, sedikit tersentak. "Tidak, Tuan?!" Ucap Violet terputus, napasnya naik turun.Ia melangkah kecil ke arah Lucas yang kini mendongak ke arahnya, jari-jarinya mendorong batang rokok masuk ke dalam mulutnya."Apakah yang Tuan ucapkan itu benar?" Tanya Violet dengan nada penuh harap.Lucas menghembuskan asap rokok, lalu berdeham p

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:75

    Violet terdiam. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya, jari-jarinya memutih menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar amarah. "Jawab, Violet apa kau ingin membalas dendam kepada mantan suamimu itu?" tukas Lucas. Violet menoleh ke samping. Kedua matanya masih sedikit sembab, namun di balik tatapan sayu itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih keras sesuatu yang sudah lama ia pendam dan belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun. Ia menatap Lucas dengan perasaan yang kacau, karena mengingat semua itu terasa seperti membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. "Jika aku bilang iya, apa Tuan ingin membantuku?" suara Violet terdengar dingin, napasnya sedikit memburu. Lucas terdiam. Wajahnya datar, namun matanya menatap Violet dengan kedalaman yang tidak biasa. "Jadi kau memang ingin membalas dendam." Lucas menatap lekat wajah Violet yang kini juga menatap balik tanpa memalingkan diri. Violet tersenyum tipis, senyum yang terasa terlalu sayu untuk disebut sen

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:68

    “Axel!” sentak Violet kaget. Untung saja benda kaca di tangannya tidak terlepas.Violet yang tadinya sedang mengambil sesuatu di atas lemari dapur terkejut saat berbalik dan mendapati Axel sudah berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum jahil dengan tatapan dalam dan ekspresi yang tampak tenang.“T

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:62

    "Violet," panggil Sofia dari ambang pintu dengan suara yang sedikit ragu-ragu. Violet yang mendengar suara Sofia itu langsung tersadar dari lamunannya yang dalam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sofia yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal—

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab:51

    Marko duduk gelisah di ruang kerja mewah ayahnya, Varko. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja, jari-jarinya meremas satu sama lain dengan gugup. Otaknya terus berputar mencari cara—cara bagaimana ia bisa membawa Violet keluar dari mansion Lucas seperti yang diperintahkan ayahnya. Namun,

  • Babysitter Kesayangan Mafia   Bab: 31

    Violet membuka matanya dengan perlahan. Jantungnya berhenti sedetik mendengar suara itu. Lucas. Violet berbalik dan melihat Lucas berdiri tidak jauh di belakangnya. Wajah pria itu sangat dingin, lebih dingin dari es. Tatapannya yang tajam tertuju kepada Marko dengan aura yang sangat menakutka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status