Bab 8: Penolakan Tak TerdugaKeheningan yang menyusul setelah kata "Tidak" dari bibir Aiko terasa lebih memekakkan telinga daripada teriakan massa wartawan di luar gerbang. Hiroshi Tanaka, pria yang selama ini menganggap perintahnya adalah hukum alam di rumah ini, terpaku di tempatnya. Ia menatap istrinya seolah-olah wanita itu baru saja berbicara dalam bahasa asing yang tidak ia mengerti."Apa kau bilang?" Suara Hiroshi rendah, bergetar antara ketidakpercayaan dan kemarahan yang tertahan. "Coba ulangi sekali lagi, Aiko."Aiko tidak bergeming. Ia berdiri dengan punggung tegak, dagu sedikit terangkat—sebuah gestur yang biasanya hanya ia tunjukkan saat mendampingi Hiroshi di acara kenegaraan, namun kali ini, martabat itu bukan untuk menyokong suaminya. Martabat itu adalah senjatanya."Aku tidak akan pergi," ulang Aiko, suaranya jernih dan setajam silet. "Aku tidak akan berdiri di depan kamera, memakai topeng istri yang bahagia, dan membohongi dunia hanya untuk menyelamatkan kursi CEO-mu
Read more