Bab 18: Kecemasan Sang CEOKeheningan di kamar utama malam itu terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Hiroshi masih bersimpuh di atas marmer yang dingin, lututnya terasa sakit, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan debaran jantungnya yang liar. Di hadapannya, Aiko berdiri tegak, diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela balkon. Di tangannya, sebuah ponsel pintar tergenggam erat—benda kecil yang kini memegang kendali penuh atas hidup dan mati martabat Hiroshi."Aiko, aku bisa jelaskan," suara Hiroshi keluar sebagai bisikan parau. Ia mendongak, menatap bayangan istrinya. "Wanita itu... dia menjebakku. Dia mengancam akan menghancurkan segalanya."Aiko tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya, lalu jarinya bergerak menyentuh tombol play.Seketika, suara statis terdengar, diikuti oleh gema percakapan yang sangat jernih. Itu adalah suara Hiroshi beberapa bulan lalu—suara yang penuh dengan kesombongan dan nada meremehkan."...Aiko? Dia hanya pajanga
Ler mais