INICIAR SESIÓN“Cinta bagiku hanyalah bayangan semu.
Namun entah mengapa aku ingin tenggelam di dalamnya, seolah di balik semunya tersimpan kehangatan yang selama ini kucari.” Clairhaven adalah kota pesisir di utara Prancis yang indah, tenang, dan memikat siapa pun yang datang. Laut biru membentang luas di satu sisi, sementara bukit hijau melandai lembut di sisi lain. Jalan-jalan berbatu dihiasi taman kecil penuh bunga liar yang tumbuh tanpa diminta, seakan tanahnya sendiri menyukai keindahan yang sederhana. Setiap pagi angin asin menyapu kota dengan lembut. Cahaya matahari menari di atas permukaan air, memantulkan kilau keemasan yang membuat Clairhaven tampak seperti lukisan hidup yang tak pernah selesai digambar. Di pelabuhan, camar berteriak riuh, kapal-kapal kayu bergoyang pelan, dan para pedagang membuka lapak dengan senyum yang akrab. Suara tawa anak-anak yang berlari di dermaga menambah kehidupan pada pagi yang damai itu. Kota itu hidup dalam ritme yang pelan namun hangat. Ia tidak pernah tergesa, tidak pernah memaksa. Clairhaven seperti pelukan bagi jiwa yang lelah, tempat seseorang bisa berhenti tanpa merasa dikejar waktu. Di salah satu tebing yang menghadap laut, Evelune duduk sendirian. Buku catatan terbuka di pangkuannya. Pena kecil bergerak perlahan mengikuti irama pikirannya yang sering kali lebih ramai daripada yang terlihat di wajahnya. Angin laut mengibaskan rambut panjangnya. Ia membiarkannya. Laut di hadapannya beriak lembut, memantulkan cahaya keperakan. Di sana, di antara garis cakrawala yang tak berujung, ia sering merasa seolah dunia menjadi lebih luas dari rasa takutnya sendiri. “Laut tak pernah lelah,” gumamnya pelan. Ia mulai menulis. Laut berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti siapa pun. Tentang kehilangan yang ia simpan di kedalamannya. Tentang cinta yang ia jaga di antara riak dan gelombangnya. Tangannya berhenti sesaat. Pandangannya terangkat ke cakrawala, seolah menunggu jawaban dari sesuatu yang tak terlihat. Aku sering iri pada laut. Ia tak pernah benar-benar sendiri. Selalu memeluk langit di atasnya dan pasir di bawahnya. Sementara aku hanya punya sunyi yang datang dan pergi sesuka hati. Evelune menutup bukunya perlahan. Matanya tidak menangis, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di dadanya, seperti kenangan yang belum selesai dipahami. “Laut selalu tahu cara menyembunyikan luka,” bisiknya. “Dan tetap terlihat indah meski menyimpannya dalam.” Langkah kaki terdengar mendekat di atas pasir dan batu kecil. Ia menoleh. Seorang lelaki berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tenang, sorot matanya hangat namun tidak berlebihan, seakan ia juga terbiasa menyimpan pikirannya sendiri. “Selamat siang,” sapanya sopan. “Maaf jika saya mengganggu.” Evelune menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Tidak apa-apa.” Lelaki itu tersenyum kecil. “Pemandangan di sini terlalu indah untuk dinikmati sendirian.” Ada jeda singkat. Angin berembus di antara mereka, membawa aroma asin yang samar. “Saya Neriel,” katanya kemudian. Evelune ragu sesaat sebelum menjawab, “Evelune.” Nama itu membuat Neriel mengangguk pelan, seolah mengingatnya dengan hati-hati dan tidak ingin melupakannya begitu saja. “Saya sering datang ke tebing ini,” lanjutnya. “Tapi baru kali ini melihat seseorang menulis puisi di tepi laut.” “Saya hanya menulis untuk diri sendiri,” jawab Evelune tenang, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Neriel memperhatikan buku kecil di tangannya. “Laut memang pandai membuat orang ingin berbicara.” “Kadang laut lebih jujur daripada manusia,” ucap Evelune tanpa sadar. Setelah mengatakan itu, ia sendiri terkejut pada keterbukaannya. Neriel tidak membantah. Ia duduk di batu yang tak jauh darinya, tetap menjaga jarak yang sopan. “Saya baru pindah ke Clairhaven,” katanya. “Awalnya hanya ingin mencari tempat yang tenang. Tapi kota ini terasa berbeda.” “Berbeda bagaimana?” “Saat pertama kali membuka pagar rumah yang saya sewa, seluruh pekarangannya dipenuhi bunga biru. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat saya berhenti beberapa detik. Rasanya seperti disambut tanpa kata.” Evelune terdiam. Bunga biru selalu punya makna yang tak bisa ia jelaskan pada orang lain. “Mungkin Fleur d’Azur,” katanya pelan. “Bunga liar yang tumbuh di tanah lembap dekat pesisir. Tidak banyak yang memperhatikannya, tapi ia selalu kembali.” Neriel tersenyum. “Kedengarannya seperti seseorang yang saya temui hari ini.” Evelune mengalihkan pandangan ke laut, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. “Clairhaven memang punya caranya sendiri untuk memeluk orang,” ujarnya pelan. “Ia tidak bertanya kenapa kau datang. Ia hanya memberi tempat untuk bernapas dan perlahan belajar pulih.” “Dan lautnya,” tambah Neriel, “seakan menyuruh kita berhenti menyimpan semuanya sendiri.” Kata-kata itu membuat Evelune menatapnya lagi. Ada ketulusan yang tidak terasa memaksa, hanya hadir seperti ombak yang datang tanpa suara keras. “Nama lengkap saya Neriel Calian Merovyn,” katanya kemudian. “Evelune Arséline D’Amour.” Neriel tertawa kecil. “Nama yang indah.” Evelune menunduk tipis. “Nama hanya rangkaian huruf.” “Kadang nama adalah harapan,” sahutnya lembut. Sunyi kembali turun di antara mereka. Namun sunyi itu tidak canggung. Untuk pertama kalinya, Evelune merasa keheningan tidak selalu berarti kesepian. “Bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya Neriel hati-hati. Evelune mengangguk. “Apa yang membuatmu duduk sendirian di sini hampir setiap hari?” Evelune memandang laut cukup lama sebelum menjawab. Ombak berkejaran, lalu pecah dengan lembut di bebatuan bawah tebing. “Di sini saya tidak perlu menjelaskan apa pun,” katanya. “Tidak perlu menjadi kuat. Tidak perlu takut kehilangan lagi.” Neriel menerima jawaban itu tanpa memaksa lebih jauh. “Kalau begitu,” ujarnya pelan, “kau tak perlu berbicara kaku denganku.” Evelune sedikit mengernyit, lalu tersenyum tipis. “Kita bisa berbicara seperti dua orang yang sama-sama belajar mendengarkan laut,” lanjutnya. Angin sore berembus lebih lembut. Matahari mulai condong, memberi warna keemasan pada permukaan air dan siluet mereka di atas tebing. Evelune menarik napas pelan, merasakan sesuatu yang berbeda mengendap di dadanya. “Baik, Neriel.” Senyum lelaki itu melebar tipis, bukan karena kemenangan, tetapi karena ia tahu jarak di antara mereka telah berubah. Laut terus bergerak di hadapan mereka. Ombak datang dan pergi seperti napas panjang yang tak pernah selesai. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Evelune tidak merasa sendirian dalam sunyinya. Ia belum percaya pada cinta. Namun di bawah langit Clairhaven yang memudar keemasan, ada sesuatu yang mulai tumbuh pelan di dalam dirinya. Seperti bunga biru yang diam-diam bertahan di tanah lembap, menunggu musimnya tiba.Kata-kata itu menggantung di udara.Bukan barang.Seseorang.Evelune menatap Madam Rouselle, napasnya terasa tertahan di dada.“Maksud Anda… manusia?” tanyanya pelan.Madam Rouselle mengangguk. “Ya.”Sunyi jatuh di antara mereka, hanya diisi suara pelan daun-daun yang bergesekan karena angin dari jendela.Evelune mencoba mencerna. “Pengiriman… manusia… untuk apa?”Madam Rouselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dekat jendela, memandang keluar sejenak sebelum kembali berbicara.“Dua puluh tahun lalu, laut bukan hanya soal perdagangan barang,” katanya. “Ada informasi. Ada rahasia. Dan ada orang-orang… yang lebih berharga dari emas.”Evelune mendekat sedikit. “Orang seperti apa?”Madam Rouselle menoleh. “Anak.”Jantung Evelune langsung berdegup lebih keras.“Seorang anak yang membawa sesuatu,” lanjutnya. “Bukan di tangannya… tapi dalam dirinya.”Evelune menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya mengerti. “Saya tidak mengerti.”Madam Rouselle menatapnya dalam-dalam. “Anak i
Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. “Evelune…” katanya pelan. “Kalau semua ini melibatkan ayah kita… kau siap untuk mengetahui hal-hal yang mungkin tidak ingin kau tahu?” Evelune menatapnya balik. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena tidak tahu,” katanya. “Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi.” Kata-kata itu tegas. Tapi juga berat. Neriel terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “kita cari tahu semuanya.” — Keesokan harinya, mereka tidak menuju pelabuhan. Mereka menuju tempat yang lebih sunyi. Arsip lama kota. Bangunan tua dengan dinding batu dan jendela tinggi. Tempat di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Perjanjian, catatan kapal, dan sejarah yang hampir dilupakan. Seorang penjaga tua menatap mereka curiga. “Tempat ini tidak untuk sembarang orang.” Evelune melangkah maju. Ia menunjukkan cincin keluarganya. “Aku mencari catatan tentang Jacques D’Amour, Aedron Merovyn, dan Elric Marquette.”
Sore itu, langit pelabuhan berwarna keemasan. Cahaya matahari jatuh miring di antara tiang-tiang kapal, menciptakan bayangan panjang di atas air yang bergerak pelan.Evelune berdiri di balkon kantor sementara yang diberikan dewan dagang. Tangannya bertumpu ringan di pagar besi, matanya menatap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan.Sekarang, sebagian dari semua itu… adalah miliknya.Namun rasa tenang itu tidak benar-benar datang.Di belakangnya, pintu terbuka pelan.Neriel masuk tanpa suara.“Aku sudah bicara dengan beberapa awak kapal,” katanya. “Serangan tadi pagi bukan kebetulan. Mereka tahu jadwal keberangkatan kita.”Evelune tidak langsung menoleh. “Orang dalam?”“Bisa jadi,” jawab Neriel.Beberapa detik mereka diam.“Ini baru beberapa hari,” kata Evelune pelan. “Dan mereka sudah mulai masuk.”Neriel mendekat sedikit. “Karena mereka tahu kau bukan ancaman kecil lagi.”Evelune akhirnya menoleh. “Dan itu membuat semuanya lebih berbahaya.”Neriel menatapnya. “Dan membuatmu lebih p
Evelune mendekati meja, menyentuh kelopak bunga yang baru saja dirangkai. Kali ini bukan mawar saja. Ada lily putih, anyelir pucat, bunga liar kecil dari bukit, dan beberapa tangkai lavender.Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, memperbaiki posisi satu batang bunga.Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu, napasnya terasa benar-benar tenang.Pintu kembali terbuka.Lonceng berbunyi.Neriel masuk.Ia tidak berkata apa-apa dulu. Hanya berdiri beberapa detik di dekat pintu, memandang Evelune di antara bunga-bunga.Seperti pertama kali ia melihatnya.“Jadi ini tempatmu kembali,” katanya pelan.Evelune menoleh. “Ini tempatku tetap.”Neriel berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. “Aku mulai mengerti kenapa kau tidak mau meninggalkan ini.”Alira menyenggol Elian yang baru masuk di belakang. “Lihat. Ini fase ‘aku mengerti duniamu’.”Elian berbisik, “Diam.”Evelune tersenyum tipis, lalu kembali ke meja. “Aku tidak bisa terus berada di kantor dagang. Kal
Pelukan itu tidak lama, tetapi cukup untuk menahan semua emosi yang sejak tadi Evelune tahan.Ketika ia melepaskan pelukan itu, ruangan masih ramai oleh suara orang-orang yang membicarakan keputusan tadi. Namun bagi mereka berempat, dunia seolah mengecil hanya pada lingkar kecil di sekitar mereka.Alira masih tersenyum lebar. “Aku tidak percaya ini. Dari toko kecil sampai… ini.”Elian mengangguk. “Sekarang semua jalur dagang itu secara hukum milikmu.”Evelune menatap tangannya sendiri, cincin di jarinya kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kenangan, tetapi tanggung jawab yang nyata.“Ini baru awal,” katanya pelan.Di sisi lain ruangan, Elmar masih berdiri. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketenangan seperti sebelumnya. Ia menatap Evelune beberapa detik, lalu akhirnya berjalan mendekat.Semua langsung waspada.“Kau menang,” kata Elmar dingin. “Secara hukum.”Evelune tidak mundur. “Aku tidak butuh pengakuanmu.”Elmar tersenyum tipis, tetapi kali ini tanpa kehangatan. “Kau pikir ini se
Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin dengan lambang keluarganya.Ia memakainya kembali.Bukan karena simbol.Tetapi karena ia ingin mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan siapa yang ia perjuangkan sekarang.“Aku tidak akan mengambil tawaran itu,” katanya akhirnya, suaranya tenang.Alira langsung mengangguk. “Bagus.”Elian menarik napas panjang. “Berarti hari ini kita benar-benar bergantung pada bukti dan keberanian.”Neriel tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat sedikit ke Evelune. “Kau siap?”Evelune menatapnya. Ada ras
Pelabuhan barat jauh lebih bising dari yang dibayangkan Evelune. Orang-orang berjalan cepat, para buruh mengangkat peti, pedagang berteriak menawarkan barang, dan kapal datang pergi tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar peduli pada satu kapal kecil yang baru datang, dan itu justru menguntungkan m
Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.Kapal kecil milik Neriel tidak terl
Malam itu, Evelune tidak langsung pulang ke rumah.Ia meminta Neriel dan Elian berhenti sebentar di jalan yang menghadap laut. Dari sana, lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti garis cahaya panjang yang mengambang di atas air hitam.Angin malam cukup dingin, membuat rambut Evelune berantakan tertiu
Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.Evelune hampir tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang gudang di pelabuhan utara. Tentang orang yang datang ke tokonya beberapa waktu lalu. D







