Accueil / Romansa / Bunga Biru / Chapter 3: Bunga biru

Share

Chapter 3: Bunga biru

Auteur: Feyaa
last update Dernière mise à jour: 2026-03-03 14:52:13

“Cinta bagiku hanyalah bayangan semu.

Namun entah mengapa aku ingin tenggelam di dalamnya, seolah di balik semunya tersimpan kehangatan yang selama ini kucari.”

Clairhaven adalah kota pesisir di utara Prancis yang indah, tenang, dan memikat siapa pun yang datang.

Laut biru membentang luas di satu sisi, sementara bukit hijau melandai lembut di sisi lain. Jalan-jalan berbatu dihiasi taman kecil penuh bunga liar yang tumbuh tanpa diminta, seakan tanahnya sendiri menyukai keindahan yang sederhana.

Setiap pagi angin asin menyapu kota dengan lembut. Cahaya matahari menari di atas permukaan air, memantulkan kilau keemasan yang membuat Clairhaven tampak seperti lukisan hidup yang tak pernah selesai digambar. Di pelabuhan, camar berteriak riuh, kapal-kapal kayu bergoyang pelan, dan para pedagang membuka lapak dengan senyum yang akrab. Suara tawa anak-anak yang berlari di dermaga menambah kehidupan pada pagi yang damai itu.

Kota itu hidup dalam ritme yang pelan namun hangat. Ia tidak pernah tergesa, tidak pernah memaksa. Clairhaven seperti pelukan bagi jiwa yang lelah, tempat seseorang bisa berhenti tanpa merasa dikejar waktu.

Di salah satu tebing yang menghadap laut, Evelune duduk sendirian. Buku catatan terbuka di pangkuannya. Pena kecil bergerak perlahan mengikuti irama pikirannya yang sering kali lebih ramai daripada yang terlihat di wajahnya.

Angin laut mengibaskan rambut panjangnya. Ia membiarkannya. Laut di hadapannya beriak lembut, memantulkan cahaya keperakan. Di sana, di antara garis cakrawala yang tak berujung, ia sering merasa seolah dunia menjadi lebih luas dari rasa takutnya sendiri.

“Laut tak pernah lelah,” gumamnya pelan.

Ia mulai menulis.

Laut berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti siapa pun.

Tentang kehilangan yang ia simpan di kedalamannya.

Tentang cinta yang ia jaga di antara riak dan gelombangnya.

Tangannya berhenti sesaat. Pandangannya terangkat ke cakrawala, seolah menunggu jawaban dari sesuatu yang tak terlihat.

Aku sering iri pada laut.

Ia tak pernah benar-benar sendiri.

Selalu memeluk langit di atasnya dan pasir di bawahnya.

Sementara aku hanya punya sunyi yang datang dan pergi sesuka hati.

Evelune menutup bukunya perlahan. Matanya tidak menangis, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di dadanya, seperti kenangan yang belum selesai dipahami.

“Laut selalu tahu cara menyembunyikan luka,” bisiknya. “Dan tetap terlihat indah meski menyimpannya dalam.”

Langkah kaki terdengar mendekat di atas pasir dan batu kecil. Ia menoleh.

Seorang lelaki berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tenang, sorot matanya hangat namun tidak berlebihan, seakan ia juga terbiasa menyimpan pikirannya sendiri.

“Selamat siang,” sapanya sopan. “Maaf jika saya mengganggu.”

Evelune menatapnya sebentar sebelum menjawab, “Tidak apa-apa.”

Lelaki itu tersenyum kecil. “Pemandangan di sini terlalu indah untuk dinikmati sendirian.”

Ada jeda singkat. Angin berembus di antara mereka, membawa aroma asin yang samar.

“Saya Neriel,” katanya kemudian.

Evelune ragu sesaat sebelum menjawab, “Evelune.”

Nama itu membuat Neriel mengangguk pelan, seolah mengingatnya dengan hati-hati dan tidak ingin melupakannya begitu saja.

“Saya sering datang ke tebing ini,” lanjutnya. “Tapi baru kali ini melihat seseorang menulis puisi di tepi laut.”

“Saya hanya menulis untuk diri sendiri,” jawab Evelune tenang, meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Neriel memperhatikan buku kecil di tangannya. “Laut memang pandai membuat orang ingin berbicara.”

“Kadang laut lebih jujur daripada manusia,” ucap Evelune tanpa sadar. Setelah mengatakan itu, ia sendiri terkejut pada keterbukaannya.

Neriel tidak membantah. Ia duduk di batu yang tak jauh darinya, tetap menjaga jarak yang sopan.

“Saya baru pindah ke Clairhaven,” katanya. “Awalnya hanya ingin mencari tempat yang tenang. Tapi kota ini terasa berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Saat pertama kali membuka pagar rumah yang saya sewa, seluruh pekarangannya dipenuhi bunga biru. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat saya berhenti beberapa detik. Rasanya seperti disambut tanpa kata.”

Evelune terdiam. Bunga biru selalu punya makna yang tak bisa ia jelaskan pada orang lain.

“Mungkin Fleur d’Azur,” katanya pelan. “Bunga liar yang tumbuh di tanah lembap dekat pesisir. Tidak banyak yang memperhatikannya, tapi ia selalu kembali.”

Neriel tersenyum. “Kedengarannya seperti seseorang yang saya temui hari ini.”

Evelune mengalihkan pandangan ke laut, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul.

“Clairhaven memang punya caranya sendiri untuk memeluk orang,” ujarnya pelan. “Ia tidak bertanya kenapa kau datang. Ia hanya memberi tempat untuk bernapas dan perlahan belajar pulih.”

“Dan lautnya,” tambah Neriel, “seakan menyuruh kita berhenti menyimpan semuanya sendiri.”

Kata-kata itu membuat Evelune menatapnya lagi. Ada ketulusan yang tidak terasa memaksa, hanya hadir seperti ombak yang datang tanpa suara keras.

“Nama lengkap saya Neriel Calian Merovyn,” katanya kemudian.

“Evelune Arséline D’Amour.”

Neriel tertawa kecil. “Nama yang indah.”

Evelune menunduk tipis. “Nama hanya rangkaian huruf.”

“Kadang nama adalah harapan,” sahutnya lembut.

Sunyi kembali turun di antara mereka. Namun sunyi itu tidak canggung. Untuk pertama kalinya, Evelune merasa keheningan tidak selalu berarti kesepian.

“Bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya Neriel hati-hati.

Evelune mengangguk.

“Apa yang membuatmu duduk sendirian di sini hampir setiap hari?”

Evelune memandang laut cukup lama sebelum menjawab. Ombak berkejaran, lalu pecah dengan lembut di bebatuan bawah tebing.

“Di sini saya tidak perlu menjelaskan apa pun,” katanya. “Tidak perlu menjadi kuat. Tidak perlu takut kehilangan lagi.”

Neriel menerima jawaban itu tanpa memaksa lebih jauh.

“Kalau begitu,” ujarnya pelan, “kau tak perlu berbicara kaku denganku.”

Evelune sedikit mengernyit, lalu tersenyum tipis.

“Kita bisa berbicara seperti dua orang yang sama-sama belajar mendengarkan laut,” lanjutnya.

Angin sore berembus lebih lembut. Matahari mulai condong, memberi warna keemasan pada permukaan air dan siluet mereka di atas tebing.

Evelune menarik napas pelan, merasakan sesuatu yang berbeda mengendap di dadanya.

“Baik, Neriel.”

Senyum lelaki itu melebar tipis, bukan karena kemenangan, tetapi karena ia tahu jarak di antara mereka telah berubah.

Laut terus bergerak di hadapan mereka. Ombak datang dan pergi seperti napas panjang yang tak pernah selesai.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Evelune tidak merasa sendirian dalam sunyinya.

Ia belum percaya pada cinta.

Namun di bawah langit Clairhaven yang memudar keemasan, ada sesuatu yang mulai tumbuh pelan di dalam dirinya.

Seperti bunga biru yang diam-diam bertahan di tanah lembap, menunggu musimnya tiba.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 10: Pria dan Laut

    Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”

  • Bunga Biru   chapter 9: Pelabuhan Clairhaven

    Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann

  • Bunga Biru   Chapter 8: Toko Bunga

    Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb

  • Bunga Biru   Chapter 7: Keluarga Vervelle

    Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu

  • Bunga Biru   Chapter 6: Fleur Bleue

    Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu

  • Bunga Biru   Chapter 5: Fajar Laut

    Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status