Accueil / Romansa / Bunga Biru / chapter 9: Pelabuhan Clairhaven

Share

chapter 9: Pelabuhan Clairhaven

Auteur: Feyaa
last update Date de publication: 2026-03-10 17:09:56

Malam semakin dalam di Clairhaven.

Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.

Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.

Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.

Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 55: Arsip Lama

    Kata-kata itu menggantung di udara.Bukan barang.Seseorang.Evelune menatap Madam Rouselle, napasnya terasa tertahan di dada.“Maksud Anda… manusia?” tanyanya pelan.Madam Rouselle mengangguk. “Ya.”Sunyi jatuh di antara mereka, hanya diisi suara pelan daun-daun yang bergesekan karena angin dari jendela.Evelune mencoba mencerna. “Pengiriman… manusia… untuk apa?”Madam Rouselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dekat jendela, memandang keluar sejenak sebelum kembali berbicara.“Dua puluh tahun lalu, laut bukan hanya soal perdagangan barang,” katanya. “Ada informasi. Ada rahasia. Dan ada orang-orang… yang lebih berharga dari emas.”Evelune mendekat sedikit. “Orang seperti apa?”Madam Rouselle menoleh. “Anak.”Jantung Evelune langsung berdegup lebih keras.“Seorang anak yang membawa sesuatu,” lanjutnya. “Bukan di tangannya… tapi dalam dirinya.”Evelune menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya mengerti. “Saya tidak mengerti.”Madam Rouselle menatapnya dalam-dalam. “Anak i

  • Bunga Biru   Chapter 54: Hubungan

    Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. “Evelune…” katanya pelan. “Kalau semua ini melibatkan ayah kita… kau siap untuk mengetahui hal-hal yang mungkin tidak ingin kau tahu?” Evelune menatapnya balik. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena tidak tahu,” katanya. “Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi.” Kata-kata itu tegas. Tapi juga berat. Neriel terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “kita cari tahu semuanya.” — Keesokan harinya, mereka tidak menuju pelabuhan. Mereka menuju tempat yang lebih sunyi. Arsip lama kota. Bangunan tua dengan dinding batu dan jendela tinggi. Tempat di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Perjanjian, catatan kapal, dan sejarah yang hampir dilupakan. Seorang penjaga tua menatap mereka curiga. “Tempat ini tidak untuk sembarang orang.” Evelune melangkah maju. Ia menunjukkan cincin keluarganya. “Aku mencari catatan tentang Jacques D’Amour, Aedron Merovyn, dan Elric Marquette.”

  • Bunga Biru   Chapter 53: Laurent Vervelle

    Sore itu, langit pelabuhan berwarna keemasan. Cahaya matahari jatuh miring di antara tiang-tiang kapal, menciptakan bayangan panjang di atas air yang bergerak pelan.Evelune berdiri di balkon kantor sementara yang diberikan dewan dagang. Tangannya bertumpu ringan di pagar besi, matanya menatap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan.Sekarang, sebagian dari semua itu… adalah miliknya.Namun rasa tenang itu tidak benar-benar datang.Di belakangnya, pintu terbuka pelan.Neriel masuk tanpa suara.“Aku sudah bicara dengan beberapa awak kapal,” katanya. “Serangan tadi pagi bukan kebetulan. Mereka tahu jadwal keberangkatan kita.”Evelune tidak langsung menoleh. “Orang dalam?”“Bisa jadi,” jawab Neriel.Beberapa detik mereka diam.“Ini baru beberapa hari,” kata Evelune pelan. “Dan mereka sudah mulai masuk.”Neriel mendekat sedikit. “Karena mereka tahu kau bukan ancaman kecil lagi.”Evelune akhirnya menoleh. “Dan itu membuat semuanya lebih berbahaya.”Neriel menatapnya. “Dan membuatmu lebih p

  • Bunga Biru   Chapter 52: Pengadilan

    Evelune mendekati meja, menyentuh kelopak bunga yang baru saja dirangkai. Kali ini bukan mawar saja. Ada lily putih, anyelir pucat, bunga liar kecil dari bukit, dan beberapa tangkai lavender.Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, memperbaiki posisi satu batang bunga.Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu, napasnya terasa benar-benar tenang.Pintu kembali terbuka.Lonceng berbunyi.Neriel masuk.Ia tidak berkata apa-apa dulu. Hanya berdiri beberapa detik di dekat pintu, memandang Evelune di antara bunga-bunga.Seperti pertama kali ia melihatnya.“Jadi ini tempatmu kembali,” katanya pelan.Evelune menoleh. “Ini tempatku tetap.”Neriel berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. “Aku mulai mengerti kenapa kau tidak mau meninggalkan ini.”Alira menyenggol Elian yang baru masuk di belakang. “Lihat. Ini fase ‘aku mengerti duniamu’.”Elian berbisik, “Diam.”Evelune tersenyum tipis, lalu kembali ke meja. “Aku tidak bisa terus berada di kantor dagang. Kal

  • Bunga Biru   Chapter 51: Valmont

    Pelukan itu tidak lama, tetapi cukup untuk menahan semua emosi yang sejak tadi Evelune tahan.Ketika ia melepaskan pelukan itu, ruangan masih ramai oleh suara orang-orang yang membicarakan keputusan tadi. Namun bagi mereka berempat, dunia seolah mengecil hanya pada lingkar kecil di sekitar mereka.Alira masih tersenyum lebar. “Aku tidak percaya ini. Dari toko kecil sampai… ini.”Elian mengangguk. “Sekarang semua jalur dagang itu secara hukum milikmu.”Evelune menatap tangannya sendiri, cincin di jarinya kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kenangan, tetapi tanggung jawab yang nyata.“Ini baru awal,” katanya pelan.Di sisi lain ruangan, Elmar masih berdiri. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketenangan seperti sebelumnya. Ia menatap Evelune beberapa detik, lalu akhirnya berjalan mendekat.Semua langsung waspada.“Kau menang,” kata Elmar dingin. “Secara hukum.”Evelune tidak mundur. “Aku tidak butuh pengakuanmu.”Elmar tersenyum tipis, tetapi kali ini tanpa kehangatan. “Kau pikir ini se

  • Bunga Biru   Chapter 50: Sidang

    Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin dengan lambang keluarganya.Ia memakainya kembali.Bukan karena simbol.Tetapi karena ia ingin mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan siapa yang ia perjuangkan sekarang.“Aku tidak akan mengambil tawaran itu,” katanya akhirnya, suaranya tenang.Alira langsung mengangguk. “Bagus.”Elian menarik napas panjang. “Berarti hari ini kita benar-benar bergantung pada bukti dan keberanian.”Neriel tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat sedikit ke Evelune. “Kau siap?”Evelune menatapnya. Ada ras

  • Bunga Biru   Chapter 20: Neriel

    Alira mengangkat alisnya sedikit lebih tinggi.“Seseorang?” ulangnya lagi dengan nada yang jelas lebih penasaran.Evelune tetap memusatkan perhatiannya pada bunga di tangannya. Ia memutar vas kecil itu sedikit agar rangkaiannya terlihat lebih seimbang.“Seorang pria,” jawabnya singkat.Alira mendek

  • Bunga Biru   Chapter 19: Tebing dan kisahnya

    Angin laut kembali terdengar jelas setelah Elian menyelesaikan ceritanya. Ombak memukul batuan di bawah tebing dengan irama yang pelan namun terus-menerus, seolah waktu sendiri ikut berjalan bersama suara itu. Tidak ada yang langsung berbicara. Evelune berdiri dengan tenang, matanya masih tertuju

  • Bunga Biru   Chapter 18: Sekejap Masa lalu 2

    Angin tebing berembus lembut ketika Elian berhenti berbicara. Laut tetap bergerak perlahan di bawah mereka, memantulkan cahaya pagi yang mulai semakin terang. Namun beberapa saat kemudian, Elian melanjutkan lagi dengan suara yang lebih tenang, seolah masih membawa sudut pandang yang sama dari ceri

  • Bunga Biru   Chapter 17: Sekejap Masa Lalu

    Angin pagi terus bergerak di tepi tebing Clairhaven. Ombak di bawah sana pecah perlahan, suaranya naik turun seperti napas laut yang panjang.Elian masih berdiri dengan tangan di saku mantel, memperhatikan Evelune dengan rasa ingin tahu yang kini berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.“Evelune

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status