Accueil / Romansa / Bunga Biru / Chapter 5: Fajar Laut

Share

Chapter 5: Fajar Laut

Auteur: Feyaa
last update Dernière mise à jour: 2026-03-06 14:54:24

Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga.

Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Bukan sekadar laut.

Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas.

Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus.

Ia berhenti sejenak di puncak.

Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju batu-batu di bawah tebing.

Evelune menarik napas panjang.

Tempat ini masih sama.

Namun pagi ini terasa sedikit berbeda.

Mungkin karena ia datang bukan untuk mencari ketenangan, melainkan hanya untuk melihat laut.

Ia berjalan mendekati batu tempat ia biasa duduk. Tangannya menyentuh permukaan batu yang masih dingin. Embun pagi membuatnya sedikit lembap.

Saat itulah ia menyadari sesuatu.

Seseorang sudah berada di sana.

Seorang pria berdiri beberapa langkah dari tepi tebing, membelakangi jalan setapak. Mantel gelapnya bergerak pelan tertiup angin. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia juga datang terlalu pagi untuk peduli pada hal-hal kecil seperti itu.

Evelune berhenti.

Untuk beberapa detik ia mempertimbangkan untuk berbalik.

Tebing ini cukup luas. Ia bisa berjalan sedikit menjauh tanpa perlu menyapa siapa pun.

Namun pria itu tampaknya mendengar langkahnya.

Ia menoleh.

Dan untuk sesaat, keduanya sama-sama terdiam.

Pria itu adalah orang yang sama dari toko bunga kemarin.

Matanya tampak sedikit terkejut, lalu berubah menjadi senyum kecil yang tidak berlebihan.

“Pagi,” katanya.

Suara itu tenang, seperti seseorang yang tidak merasa perlu mengisi kesunyian dengan terlalu banyak kata.

Evelune mengangguk pelan.

“Pagi.”

Angin laut melewati mereka, membawa suara ombak yang pecah jauh di bawah.

Pria itu melangkah sedikit menjauh dari tepi, memberi ruang tanpa harus diminta.

“Sepertinya aku bukan satu-satunya yang suka datang ke sini terlalu pagi,” katanya ringan.

Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.

“Aku biasanya datang sore.”

“Biasanya?” pria itu mengulang.

“Ya.”

Jawaban itu singkat, namun cukup.

Pria itu tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menatap laut lagi, seolah memahami bahwa beberapa orang lebih nyaman berbicara dengan jeda.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.

Evelune duduk di batu yang biasa ia tempati. Dari sudut matanya, ia bisa melihat pria itu masih berdiri beberapa langkah darinya.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

“Apakah mawar itu selamat?” tanyanya tiba-tiba.

Evelune menoleh.

“Mawar?”

“Mawar merah yang kau bawa pulang kemarin.”

Nada suaranya santai, namun ada sedikit rasa ingin tahu yang jujur di dalamnya.

Evelune mengingat kembali kelopak merah yang kini berada di vas kecil di rumah kaca.

“Ia masih hidup,” jawabnya.

Pria itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Kenapa?” Evelune bertanya.

Ia sendiri sedikit heran mengapa ia menanyakan itu.

Pria itu mengangkat bahu kecil.

“Karena mawar sering kali tidak diberi kesempatan kedua.”

Evelune memandangnya sejenak.

“Apa maksudnya?”

“Banyak orang membeli mawar hanya untuk satu hari,” katanya. “Lalu melupakannya ketika kelopaknya mulai jatuh.”

Angin meniup ujung mantel pria itu.

“Tapi kadang,” lanjutnya, “satu tangkai yang tersisa bisa bertahan lebih lama dari yang kita kira.”

Evelune tidak langsung menjawab.

Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih dari sekadar pembicaraan tentang bunga.

Ia memalingkan pandangannya kembali ke laut.

“Rumah kacaku dipenuhi bunga putih dan biru,” katanya pelan.

Pria itu menoleh sedikit.

“Kenapa?”

“Warna yang lebih tenang.”

“Dan merah tidak?”

Evelune terdiam sebentar.

“Merah terlalu jujur.”

Pria itu tertawa kecil. Bukan tawa keras, hanya hembusan napas yang terdengar seperti setuju.

“Kadang kejujuran memang membuat orang tidak nyaman.”

Matahari kini mulai naik lebih tinggi, memantulkan cahaya ke permukaan laut hingga tampak seperti serpihan kaca yang berkilau.

Evelune menutup matanya sebentar, merasakan angin yang menyentuh wajahnya.

Beberapa saat kemudian ia membuka mata kembali.

Pria itu masih berdiri di sana, menatap laut dengan ekspresi yang sama tenangnya seperti kemarin.

Evelune menyadari sesuatu yang aneh.

Ia tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.

Padahal biasanya ia lebih memilih kesendirian.

“Mengapa kau datang ke sini sepagi ini?” tanyanya.

Pria itu berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Kebiasaan lama.”

“Kebiasaan?”

“Melihat laut sebelum hari benar-benar dimulai.”

Ia menoleh sedikit ke arah Evelune.

“Menurutku laut di pagi hari lebih jujur daripada di sore hari.”

Evelune mengangkat alis tipis.

“Bagaimana bisa?”

“Karena belum ada yang datang dengan harapan,” katanya. “Belum ada yang datang membawa cerita.”

Ia menunjuk permukaan laut dengan gerakan kecil.

“Yang ada hanya laut.”

Evelune memandang laut itu lagi.

Tenang. Luas. Tidak meminta apa pun dari siapa pun.

Mungkin itulah sebabnya ia selalu kembali ke sini.

Beberapa saat kemudian, suara lonceng gereja kecil di kota terdengar samar terbawa angin.

Tanda pagi benar-benar dimulai.

Evelune berdiri dari batu.

“Aku harus membuka toko,” katanya.

Pria itu mengangguk.

“Bunga tidak bisa menunggu terlalu lama.”

Evelune hampir tersenyum.

Ia mulai berjalan kembali ke jalan setapak. Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti.

Ia menoleh.

Pria itu masih berdiri di tempatnya.

“Jika mawar itu mati,” katanya tiba-tiba, “aku akan memberitahumu.”

Pria itu tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum lebih jelas dari sebelumnya.

“Kalau begitu aku berharap ia hidup lama.”

Evelune tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil sebelum melanjutkan langkahnya menuruni jalan menuju kota.

Angin pagi terus berembus di tebing itu.

Dan untuk kedua kalinya dalam dua hari, laut menjadi saksi pertemuan yang bahkan belum diberi nama.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 10: Pria dan Laut

    Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”

  • Bunga Biru   chapter 9: Pelabuhan Clairhaven

    Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann

  • Bunga Biru   Chapter 8: Toko Bunga

    Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb

  • Bunga Biru   Chapter 7: Keluarga Vervelle

    Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu

  • Bunga Biru   Chapter 6: Fleur Bleue

    Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu

  • Bunga Biru   Chapter 5: Fajar Laut

    Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status