Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 4: Mawar Merah

Share

Chapter 4: Mawar Merah

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-03-06 14:53:54

Angin malam berembus lebih dingin ketika Evelune akhirnya berdiri dari batu tempatnya duduk. Ia menatap laut untuk beberapa detik terakhir, seolah memastikan sesuatu di dalam dirinya benar-benar telah tenang.

Lalu ia turun perlahan menuju rumah kaca.

Pintu kayu itu berderit pelan saat ia membukanya.

Aroma tanah lembap dan daun segar langsung menyambutnya. Cahaya lampu kecil yang tergantung di sudut ruangan memantulkan bayangan bunga-bunga di dinding kaca, menciptakan siluet yang bergerak lembut setiap kali angin menyentuh permukaannya.

Di tempat inilah ia selalu kembali.

Di tempat inilah ia merasa paling aman.

Evelune meletakkan jeruk kecil itu di meja kayu

panjang, lalu menyentuh kelopak mawar merah yang tadi ia bawa pulang dari toko. Mawar itu belum ia pangkas. Duri-durinya masih utuh, tajam, seolah menjaga dirinya sendiri.

Ia teringat kembali bagaimana mawar itu sampai ke tangannya.

Bukan karena direncanakan.

Bukan karena diminta.

Hanya diberikan begitu saja.

“Lucu sekali,” gumamnya pelan. “Seseorang yang baru bertemu sekali bisa meninggalkan kesan sepanjang hari.”

Ia mengambil gunting kecil, memangkas duri mawar itu satu per satu dengan hati-hati. Setiap potongan kecil jatuh ke meja seperti keputusan-keputusan kecil yang selama ini ia hindari.

Tidak semua yang datang harus ditolak.

Tidak semua yang baru berarti berbahaya.

Tangannya berhenti sesaat.

Kenangan tentang ayahnya muncul sekilas. Jacques dengan suara kerasnya. Dengan tatapan yang membuat rumah terasa seperti penjara. Dengan bayangan yang terlalu lama melekat pada hidupnya.

Evelune menutup mata sebentar.

“Aku tidak lagi di sana,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Rumah kaca ini bukan tempat pelarian. Ini tempat ia membangun ulang hidupnya.

Ia menaruh mawar merah itu ke dalam vas bening kecil dan mengisinya dengan air. Mawar itu tampak kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang mendominasi ruangan. Warna merahnya tidak mengganggu, justru memberi titik tegas yang anehnya menenangkan.

Baru kali ini ia membiarkan warna itu tinggal.

Langkah kaki pelan terdengar dari luar. Pintu diketuk ringan.

“Evelune?” suara Madam Rouselle terdengar lembut dari balik kaca.

Evelune segera menghampiri dan membukakan pintu.

“Aku melihat lampumu masih menyala,” ujar wanita tua itu sambil tersenyum tipis. “Kukira kau sudah beristirahat.”

“Aku hanya ingin memastikan bunga-bunga tidak kekurangan air,” jawab Evelune tenang.

Madam Rouselle mengangguk, lalu pandangannya jatuh pada vas kecil di meja.

“Ah. Mawar merah.” Ia tersenyum samar. “Sudah lama kau tidak menyimpan warna itu di sini.”

Evelune mengikuti arah pandangan itu. “Hanya satu tangkai.”

“Satu tangkai pun tetap merah, sayang.”

Tidak ada nada menggoda dalam suara Madam. Hanya pernyataan sederhana yang terasa lebih dalam dari yang terlihat.

Madam melangkah mendekat, memeriksa daun-daun hydrangea di sudut ruangan dan menatapnya lembut.

Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Madam Rouselle pamit kembali ke rumah utama. Evelune kembali sendirian.

Namun malam itu, kesendirian terasa berbeda.

Ia duduk di bangku kecil dekat jendela kaca dan membuka kembali buku puisinya. Halaman terakhir masih memuat tulisan tentang laut.

Ia membaca ulang perlahan.

Laut tak pernah benar-benar sendiri.

Tangannya bergerak lagi, menambahkan satu kalimat di bawahnya.

Mungkin aku juga tidak harus selalu begitu.

Ia menatap kalimat itu cukup lama. Tidak ada senyum besar. Tidak ada getaran dramatis.

Hanya penerimaan kecil yang lahir tanpa suara.

Di luar, ombak terus bergerak seperti biasa. Angin malam menggesek kaca dengan lembut. Bulan menggantung tinggi, menerangi Clairhaven yang mulai tertidur.

Evelune menutup bukunya dan mematikan lampu satu per satu. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, ia menoleh sekali lagi pada mawar merah di atas meja.

Warnanya tetap tegas dalam remang.

Bukan simbol cinta.

Belum.

Hanya pengingat bahwa hidup kadang mengetuk pelan, tidak untuk menghancurkan pertahanan, tetapi untuk melihat apakah pintu itu masih bisa dibuka sedikit saja.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian

lama, Evelune tidak menutup pintunya sepenuhnya.

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyusup melalui kaca-kaca rumah kaca. Embun masih menggantung di ujung daun, berkilau seperti butiran kecil yang enggan jatuh.

Evelune sudah terjaga sebelum matahari benar-benar naik.

Ia berdiri di depan meja kayu tempat mawar merah itu diletakkan semalam. Kelopaknya masih segar. Warnanya tetap pekat, seolah tidak terpengaruh oleh udara dingin malam.

Ia menyentuh ujung kelopaknya dengan hati-hati.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Biasanya aku tidak membiarkan sesuatu yang tak direncanakan tinggal.”

Namun mawar itu tetap di sana.

Di luar, suara kota mulai hidup. Roda kereta kayu melintas di jalan berbatu. Panggilan pedagang terdengar samar dari arah pasar. Angin pagi membawa aroma asin laut yang lebih tajam dari semalam.

Evelune mengambil buku puisinya dan duduk di bangku kecil dekat jendela. Ia membuka halaman kosong.

Beberapa detik ia hanya menatap kertas putih itu.

Lalu ia menulis.

Tidak semua pertemuan adalah badai.

Sebagian hanya angin kecil yang menggeser arah daun.

Pelan, hampir tak terasa.

Namun cukup untuk membuat kita sadar bahwa kita sedang bergerak.

Tangannya berhenti.

Ia tidak menulis nama apa pun. Tidak menyebut siapa pun.

Hanya perasaan yang belum ia beri arti.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tebing. Laut pagi. Cahaya yang berbeda dari sore kemarin.

Ada dorongan kecil dalam dirinya, bukan rasa rindu, bukan pula harapan yang besar. Hanya keinginan sederhana untuk melihat laut lagi.

Evelune menutup buku itu perlahan.

“Tidak ada salahnya berjalan sebentar sebelum toko buka,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia mengambil mantel tipisnya, memastikan pintu rumah kaca terkunci dengan baik, lalu melangkah keluar. Udara pagi menyentuh wajahnya, segar dan jernih.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Ia tidak tahu apakah akan bertemu siapa pun di tebing nanti.

Ia juga tidak berharap apa pun.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak pergi ke laut untuk melarikan diri dari kesunyian.

Ia pergi karena ingin berada di sana.

Dan perbedaan kecil itu, entah mengapa, terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 55: Arsip Lama

    Kata-kata itu menggantung di udara.Bukan barang.Seseorang.Evelune menatap Madam Rouselle, napasnya terasa tertahan di dada.“Maksud Anda… manusia?” tanyanya pelan.Madam Rouselle mengangguk. “Ya.”Sunyi jatuh di antara mereka, hanya diisi suara pelan daun-daun yang bergesekan karena angin dari jendela.Evelune mencoba mencerna. “Pengiriman… manusia… untuk apa?”Madam Rouselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dekat jendela, memandang keluar sejenak sebelum kembali berbicara.“Dua puluh tahun lalu, laut bukan hanya soal perdagangan barang,” katanya. “Ada informasi. Ada rahasia. Dan ada orang-orang… yang lebih berharga dari emas.”Evelune mendekat sedikit. “Orang seperti apa?”Madam Rouselle menoleh. “Anak.”Jantung Evelune langsung berdegup lebih keras.“Seorang anak yang membawa sesuatu,” lanjutnya. “Bukan di tangannya… tapi dalam dirinya.”Evelune menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya mengerti. “Saya tidak mengerti.”Madam Rouselle menatapnya dalam-dalam. “Anak i

  • Bunga Biru   Chapter 54: Hubungan

    Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. “Evelune…” katanya pelan. “Kalau semua ini melibatkan ayah kita… kau siap untuk mengetahui hal-hal yang mungkin tidak ingin kau tahu?” Evelune menatapnya balik. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena tidak tahu,” katanya. “Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi.” Kata-kata itu tegas. Tapi juga berat. Neriel terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “kita cari tahu semuanya.” — Keesokan harinya, mereka tidak menuju pelabuhan. Mereka menuju tempat yang lebih sunyi. Arsip lama kota. Bangunan tua dengan dinding batu dan jendela tinggi. Tempat di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Perjanjian, catatan kapal, dan sejarah yang hampir dilupakan. Seorang penjaga tua menatap mereka curiga. “Tempat ini tidak untuk sembarang orang.” Evelune melangkah maju. Ia menunjukkan cincin keluarganya. “Aku mencari catatan tentang Jacques D’Amour, Aedron Merovyn, dan Elric Marquette.”

  • Bunga Biru   Chapter 53: Laurent Vervelle

    Sore itu, langit pelabuhan berwarna keemasan. Cahaya matahari jatuh miring di antara tiang-tiang kapal, menciptakan bayangan panjang di atas air yang bergerak pelan.Evelune berdiri di balkon kantor sementara yang diberikan dewan dagang. Tangannya bertumpu ringan di pagar besi, matanya menatap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan.Sekarang, sebagian dari semua itu… adalah miliknya.Namun rasa tenang itu tidak benar-benar datang.Di belakangnya, pintu terbuka pelan.Neriel masuk tanpa suara.“Aku sudah bicara dengan beberapa awak kapal,” katanya. “Serangan tadi pagi bukan kebetulan. Mereka tahu jadwal keberangkatan kita.”Evelune tidak langsung menoleh. “Orang dalam?”“Bisa jadi,” jawab Neriel.Beberapa detik mereka diam.“Ini baru beberapa hari,” kata Evelune pelan. “Dan mereka sudah mulai masuk.”Neriel mendekat sedikit. “Karena mereka tahu kau bukan ancaman kecil lagi.”Evelune akhirnya menoleh. “Dan itu membuat semuanya lebih berbahaya.”Neriel menatapnya. “Dan membuatmu lebih p

  • Bunga Biru   Chapter 52: Pengadilan

    Evelune mendekati meja, menyentuh kelopak bunga yang baru saja dirangkai. Kali ini bukan mawar saja. Ada lily putih, anyelir pucat, bunga liar kecil dari bukit, dan beberapa tangkai lavender.Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, memperbaiki posisi satu batang bunga.Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu, napasnya terasa benar-benar tenang.Pintu kembali terbuka.Lonceng berbunyi.Neriel masuk.Ia tidak berkata apa-apa dulu. Hanya berdiri beberapa detik di dekat pintu, memandang Evelune di antara bunga-bunga.Seperti pertama kali ia melihatnya.“Jadi ini tempatmu kembali,” katanya pelan.Evelune menoleh. “Ini tempatku tetap.”Neriel berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. “Aku mulai mengerti kenapa kau tidak mau meninggalkan ini.”Alira menyenggol Elian yang baru masuk di belakang. “Lihat. Ini fase ‘aku mengerti duniamu’.”Elian berbisik, “Diam.”Evelune tersenyum tipis, lalu kembali ke meja. “Aku tidak bisa terus berada di kantor dagang. Kal

  • Bunga Biru   Chapter 51: Valmont

    Pelukan itu tidak lama, tetapi cukup untuk menahan semua emosi yang sejak tadi Evelune tahan.Ketika ia melepaskan pelukan itu, ruangan masih ramai oleh suara orang-orang yang membicarakan keputusan tadi. Namun bagi mereka berempat, dunia seolah mengecil hanya pada lingkar kecil di sekitar mereka.Alira masih tersenyum lebar. “Aku tidak percaya ini. Dari toko kecil sampai… ini.”Elian mengangguk. “Sekarang semua jalur dagang itu secara hukum milikmu.”Evelune menatap tangannya sendiri, cincin di jarinya kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar kenangan, tetapi tanggung jawab yang nyata.“Ini baru awal,” katanya pelan.Di sisi lain ruangan, Elmar masih berdiri. Wajahnya tidak lagi menunjukkan ketenangan seperti sebelumnya. Ia menatap Evelune beberapa detik, lalu akhirnya berjalan mendekat.Semua langsung waspada.“Kau menang,” kata Elmar dingin. “Secara hukum.”Evelune tidak mundur. “Aku tidak butuh pengakuanmu.”Elmar tersenyum tipis, tetapi kali ini tanpa kehangatan. “Kau pikir ini se

  • Bunga Biru   Chapter 50: Sidang

    Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin dengan lambang keluarganya.Ia memakainya kembali.Bukan karena simbol.Tetapi karena ia ingin mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan siapa yang ia perjuangkan sekarang.“Aku tidak akan mengambil tawaran itu,” katanya akhirnya, suaranya tenang.Alira langsung mengangguk. “Bagus.”Elian menarik napas panjang. “Berarti hari ini kita benar-benar bergantung pada bukti dan keberanian.”Neriel tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat sedikit ke Evelune. “Kau siap?”Evelune menatapnya. Ada ras

  • Bunga Biru   Chapter 47: Pengadilan

    Pelabuhan barat jauh lebih bising dari yang dibayangkan Evelune. Orang-orang berjalan cepat, para buruh mengangkat peti, pedagang berteriak menawarkan barang, dan kapal datang pergi tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar peduli pada satu kapal kecil yang baru datang, dan itu justru menguntungkan m

  • Bunga Biru   Chapter 38: Laut dan Rahasianya

    Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.Kapal kecil milik Neriel tidak terl

  • Bunga Biru   Chapter 33: Hubungan

    Malam itu, Evelune tidak langsung pulang ke rumah.Ia meminta Neriel dan Elian berhenti sebentar di jalan yang menghadap laut. Dari sana, lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti garis cahaya panjang yang mengambang di atas air hitam.Angin malam cukup dingin, membuat rambut Evelune berantakan tertiu

  • Bunga Biru   Chapter 31: Gudang Tua

    Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.Evelune hampir tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang gudang di pelabuhan utara. Tentang orang yang datang ke tokonya beberapa waktu lalu. D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status