Se connecterAngin malam berembus lebih dingin ketika Evelune akhirnya berdiri dari batu tempatnya duduk. Ia menatap laut untuk beberapa detik terakhir, seolah memastikan sesuatu di dalam dirinya benar-benar telah tenang.
Lalu ia turun perlahan menuju rumah kaca. Pintu kayu itu berderit pelan saat ia membukanya. Aroma tanah lembap dan daun segar langsung menyambutnya. Cahaya lampu kecil yang tergantung di sudut ruangan memantulkan bayangan bunga-bunga di dinding kaca, menciptakan siluet yang bergerak lembut setiap kali angin menyentuh permukaannya. Di tempat inilah ia selalu kembali. Di tempat inilah ia merasa paling aman. Evelune meletakkan jeruk kecil itu di meja kayu panjang, lalu menyentuh kelopak mawar merah yang tadi ia bawa pulang dari toko. Mawar itu belum ia pangkas. Duri-durinya masih utuh, tajam, seolah menjaga dirinya sendiri. Ia teringat kembali bagaimana mawar itu sampai ke tangannya. Bukan karena direncanakan. Bukan karena diminta. Hanya diberikan begitu saja. “Lucu sekali,” gumamnya pelan. “Seseorang yang baru bertemu sekali bisa meninggalkan kesan sepanjang hari.” Ia mengambil gunting kecil, memangkas duri mawar itu satu per satu dengan hati-hati. Setiap potongan kecil jatuh ke meja seperti keputusan-keputusan kecil yang selama ini ia hindari. Tidak semua yang datang harus ditolak. Tidak semua yang baru berarti berbahaya. Tangannya berhenti sesaat. Kenangan tentang ayahnya muncul sekilas. Jacques dengan suara kerasnya. Dengan tatapan yang membuat rumah terasa seperti penjara. Dengan bayangan yang terlalu lama melekat pada hidupnya. Evelune menutup mata sebentar. “Aku tidak lagi di sana,” bisiknya pada dirinya sendiri. Rumah kaca ini bukan tempat pelarian. Ini tempat ia membangun ulang hidupnya. Ia menaruh mawar merah itu ke dalam vas bening kecil dan mengisinya dengan air. Mawar itu tampak kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang mendominasi ruangan. Warna merahnya tidak mengganggu, justru memberi titik tegas yang anehnya menenangkan. Baru kali ini ia membiarkan warna itu tinggal. Langkah kaki pelan terdengar dari luar. Pintu diketuk ringan. “Evelune?” suara Madam Rouselle terdengar lembut dari balik kaca. Evelune segera menghampiri dan membukakan pintu. “Aku melihat lampumu masih menyala,” ujar wanita tua itu sambil tersenyum tipis. “Kukira kau sudah beristirahat.” “Aku hanya ingin memastikan bunga-bunga tidak kekurangan air,” jawab Evelune tenang. Madam Rouselle mengangguk, lalu pandangannya jatuh pada vas kecil di meja. “Ah. Mawar merah.” Ia tersenyum samar. “Sudah lama kau tidak menyimpan warna itu di sini.” Evelune mengikuti arah pandangan itu. “Hanya satu tangkai.” “Satu tangkai pun tetap merah, sayang.” Tidak ada nada menggoda dalam suara Madam. Hanya pernyataan sederhana yang terasa lebih dalam dari yang terlihat. Madam melangkah mendekat, memeriksa daun-daun hydrangea di sudut ruangan dan menatapnya lembut. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Madam Rouselle pamit kembali ke rumah utama. Evelune kembali sendirian. Namun malam itu, kesendirian terasa berbeda. Ia duduk di bangku kecil dekat jendela kaca dan membuka kembali buku puisinya. Halaman terakhir masih memuat tulisan tentang laut. Ia membaca ulang perlahan. Laut tak pernah benar-benar sendiri. Tangannya bergerak lagi, menambahkan satu kalimat di bawahnya. Mungkin aku juga tidak harus selalu begitu. Ia menatap kalimat itu cukup lama. Tidak ada senyum besar. Tidak ada getaran dramatis. Hanya penerimaan kecil yang lahir tanpa suara. Di luar, ombak terus bergerak seperti biasa. Angin malam menggesek kaca dengan lembut. Bulan menggantung tinggi, menerangi Clairhaven yang mulai tertidur. Evelune menutup bukunya dan mematikan lampu satu per satu. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, ia menoleh sekali lagi pada mawar merah di atas meja. Warnanya tetap tegas dalam remang. Bukan simbol cinta. Belum. Hanya pengingat bahwa hidup kadang mengetuk pelan, tidak untuk menghancurkan pertahanan, tetapi untuk melihat apakah pintu itu masih bisa dibuka sedikit saja. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Evelune tidak menutup pintunya sepenuhnya. — Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyusup melalui kaca-kaca rumah kaca. Embun masih menggantung di ujung daun, berkilau seperti butiran kecil yang enggan jatuh. Evelune sudah terjaga sebelum matahari benar-benar naik. Ia berdiri di depan meja kayu tempat mawar merah itu diletakkan semalam. Kelopaknya masih segar. Warnanya tetap pekat, seolah tidak terpengaruh oleh udara dingin malam. Ia menyentuh ujung kelopaknya dengan hati-hati. “Aneh,” gumamnya pelan. “Biasanya aku tidak membiarkan sesuatu yang tak direncanakan tinggal.” Namun mawar itu tetap di sana. Di luar, suara kota mulai hidup. Roda kereta kayu melintas di jalan berbatu. Panggilan pedagang terdengar samar dari arah pasar. Angin pagi membawa aroma asin laut yang lebih tajam dari semalam. Evelune mengambil buku puisinya dan duduk di bangku kecil dekat jendela. Ia membuka halaman kosong. Beberapa detik ia hanya menatap kertas putih itu. Lalu ia menulis. Tidak semua pertemuan adalah badai. Sebagian hanya angin kecil yang menggeser arah daun. Pelan, hampir tak terasa. Namun cukup untuk membuat kita sadar bahwa kita sedang bergerak. Tangannya berhenti. Ia tidak menulis nama apa pun. Tidak menyebut siapa pun. Hanya perasaan yang belum ia beri arti. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Tebing. Laut pagi. Cahaya yang berbeda dari sore kemarin. Ada dorongan kecil dalam dirinya, bukan rasa rindu, bukan pula harapan yang besar. Hanya keinginan sederhana untuk melihat laut lagi. Evelune menutup buku itu perlahan. “Tidak ada salahnya berjalan sebentar sebelum toko buka,” bisiknya pada diri sendiri. Ia mengambil mantel tipisnya, memastikan pintu rumah kaca terkunci dengan baik, lalu melangkah keluar. Udara pagi menyentuh wajahnya, segar dan jernih. Langkahnya tidak terburu-buru. Ia tidak tahu apakah akan bertemu siapa pun di tebing nanti. Ia juga tidak berharap apa pun. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak pergi ke laut untuk melarikan diri dari kesunyian. Ia pergi karena ingin berada di sana. Dan perbedaan kecil itu, entah mengapa, terasa jauh lebih besar dari yang seharusnya.Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”
Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann
Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb
Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu
Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu
Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba







