Beberapa hari kemudian, pagi di rumah terasa biasa saja. Nadia dan Dava sedang sarapan di meja makan panjang bersama ibu dan Rian. Aurelia keluar dari kamarnya dengan tampilan santai tapi rapi: crop top krem longgar yang memperlihatkan bahu mulus dan sedikit garis payudara, celana jeans high-waist yang membentuk pinggul lebar dan pinggang ramping, sneakers putih, rambut tergerai bergelombang, dan tas selempang kecil. Makeup natural — hanya eyeliner tipis dan lip tint merah muda. Nadia menoleh dari piring bubur ayamnya. “Lia, kamu mau kemana? Cantik banget pagi-pagi.” Aurelia tersenyum kecil, agak malu. “Ada yang ajak jalan-jalan. Cuma sekedar keliling kota, foto-foto buat konten. Nggak lama kok.” Dava mengangguk sambil menyesap kopi. “Hati-hati ya. Kalau butuh dijemput atau apa, telepon aja.” Aurelia mengangguk. “Iya, Dav. Makasih.” Ia keluar rumah pukul 09:15. Di depan gang, mobil SUV hitam Reza sudah menunggu. Reza turun, membukakan pintu penumpang dengan senyum hangat. Pria it
続きを読む