Pesawat mendarat mulus pukul 08:15 pagi. Udara yang lembab langsung menyambut mereka begitu pintu keluar dibuka. Nadia menarik napas dalam, merasakan kelegaan yang campur aduk—senang kembali ke tanah air, tapi tubuh dan pikirannya masih membawa beban berat dari Milan. Aurelia berjalan di sampingnya, tangan saling bergandengan dengan Reza, sementara Dava mendorong troli bagasi di belakang. Saat mereka menuju pintu keluar, Reza tiba-tiba berhenti di dekat area penjemputan. Ia menarik Aurelia ke samping, suaranya pelan tapi tegas. “Sayang… aku punya rencana lain. Kita nggak langsung pulang ke rumah.” Aurelia mengerutkan kening, tapi matanya langsung berbinar saat Reza melanjutkan. “Aku punya vila kecil di Puncak. Udara dingin, view pegunungan, kebun teh, danau kecil di belakang. Aku beli tahun lalu pas lagi banyak job. Tempatnya sepi, cuma ada vila itu di atas bukit kecil. Aku mau ajak kalian menginap dulu 3–4 hari. Istirahat total, jalan-jalan, hilangin capek Milan. Kita nggak buru
Read more