Beberapa hari setelah malam penuh rasa bersalah itu, rumah gang kecil di kota terasa seperti dipenuhi kabut tak terlihat. Udara pagi masih dingin, embun menempel di daun mangga di halaman depan, dan suara ayam berkokok dari tetangga terdengar samar-samar. Nadia bangun lebih dulu seperti biasa, sibuk menyiapkan sarapan untuk Rian sebelum anak itu berangkat sekolah. Ia batuk-batuk kering lagi pagi ini, tapi hanya menggeleng kecil saat ibu bertanya, “Kamu kenapa, Nak? Kok batuk terus?” “Nggak apa-apa, Bu. Masuk angin aja,” jawab Nadia sambil tersenyum lemah. “Nanti juga sembuh.” Dava duduk di teras dengan secangkir kopi tubruk yang sudah dingin, matanya kosong memandang ke jalan kecil yang sepi. Ia jarang bicara dengan Aurelia sejak malam itu. Setiap kali Aurelia lewat di ruang tengah, Dava hanya menyapa singkat “Pagi” atau “Makan dulu”, lalu menunduk lagi. Aurelia juga sama—ia menghindari tatapan Dava, selalu buru-buru ke dapur atau kamar saat Dava ada di ruangan yang sama. Mereka s
Read more