Pagi itu berubah cepat setelah telepon Reza. Aurelia akhirnya mengangkat panggilan itu di depan Dava, suaranya dibuat biasa saja. “Reza… iya, aku dengar. Nanti aku kabari ya.” Ia tutup telepon cepat, tapi Dava sudah melihat ekspresi wajahnya yang tegang. Dava tidak bertanya banyak. Ia hanya berkata pelan, “Kalau ada apa-apa, bilang saja, Lia,” lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap kerja. Tapi Aurelia tahu, curiga kecil sudah mulai tumbuh di mata Dava. Jam 09.15, suara mobil berhenti di mulut gang. Reza datang lebih awal dari janji. Ia tidak turun, hanya mengirim pesan singkat: “Aku sudah di depan. Keluar sekarang, sayang. Aku tunggu 5 menit.” Aurelia berdiri di depan cermin kamar, tangannya gemetar. Ia memakai tangtop hitam belahan rendah seperti yang Reza suka, dipadu celana jeans pendek. Rambutnya dikuncir tinggi. Ia tahu menolak kali ini akan membuat Reza semakin marah. Dengan napas berat, ia keluar rumah, meninggalkan pesan pendek di meja untuk Dava: “Ada urusan sebentar denga
Read more