Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, meski lampu kamar sudah menyala redup. Hujan gerimis masih turun pelan di luar, suaranya seperti bisikan yang tak pernah berhenti. Di atas ranjang yang berantakan, Aurelia terbaring telanjang, tubuhnya gemetar hebat. Memar-merah baru terlihat jelas di lehernya, dada, pinggul, dan paha bagian dalam. Air matanya terus mengalir tanpa suara, wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar menahan isak yang tertahan di tenggorokan. Dava berbaring di sampingnya, tubuhnya sendiri penuh luka dan memar dari pukulan preman Reza. Rusuknya sakit setiap kali bernapas, bibirnya pecah, dan ada luka robek di alis. Tapi ia tidak peduli pada dirinya sendiri. Dengan tangan yang gemetar karena sakit, ia menarik selimut tipis menutupi tubuh Aurelia, lalu memeluknya dari samping dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakitinya lebih lagi. “Lia… maaf… maafkan aku…” bisik Dava, suaranya pecah. Air matanya jatuh ke rambut Aurelia. “Aku nggak bisa lindungin kamu… aku lema
Read more