Share

BAB 338

Penulis: Rainina
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 12:28:11

Di tengah sorak-sorai ribuan prajurit kekaisaran yang bersimbah darah dan kelelahan, seekor elang pembawa pesan dilepaskan ke udara.

Burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, menembus awan kelabu utara, membawa gulungan perkamen yang berisi berita kemenangan menuju istana kekaisaran di ibu kota.

Perang perbatasan yang menguras darah dan air mata itu akhirnya usai.

Di perkemahan utama, perayaan kemenangan telah dimulai. Tong-tong bir gandum yang sebelumnya dijaga ketat kini dibuka.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 343

    Keputusan itu meluncur dari bibir Elizabeth dengan suara yang begitu lirih, namun ketegasannya seakan membekukan udara di sekeliling mereka."Tidak, Lady Alice." Elizabeth menggeleng pelan, meremas gaun sutranya dengan jemari yang masih bergetar. Ia menundukkan pandangannya, menolak menatap mata utusan Permaisuri itu. "Aku akan tinggal dan menikah."Alice terkesiap. Hatinya mencelos mendengar nada pasrah yang begitu pekat dari Elizabeth. Ia bisa melihat dengan jelas dinding ketakutan yang dibangun sang Duke di sekeliling pikiran Elizabeth. "Lady Elizabeth, sadarlah!" Alice melangkah maju, kembali meraih tangan Elizabeth dan menggenggamnya erat-erat, menyalurkan seluruh sisa kehangatan dan keberanian yang ia miliki. "Setidaknya temui dia dulu! Tidakkah kau mendengar perkataanku? Sir Rowan melakukan semua kegilaan di medan perang itu murni demi sebuah permintaan pada Yang Mulia Kaisar. Siapa yang tahu apa isi permintaan itu?""Aku..." Elizabeth menelan ludah dengan susah payah. Matany

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 342

    Dengan disebutkannya nama Permaisuri dan Kaisar, bahkan seorang penguasa sekuat Duke Mountford sekalipun tidak memiliki pilihan lain selain menundukkan kepalanya dan membuka pintu kastilnya lebar-lebar. Menolak utusan langsung paviliun dalam sama saja dengan mengibarkan bendera pemberontakan, dan sang Duke belum siap untuk menghadapi murka sang Kaisar secara terang-terangan.Dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah karena menahan amarah, Duke Mountford terpaksa membiarkan Elizabeth keluar untuk menyambut rombongan yang memaksa bertemu dengannya tersebut.Alice melangkah masuk dengan mantel perjalanan yang basah dan kotor oleh lumpur, namun dagunya terangkat tinggi, memancarkan otoritas penuh dari junjungannya. Saat pandangan dayang bersurai coklat terang itu akhirnya menemukan sosok Elizabeth, langkah Alice seketika terhenti.Hatinya mencelos. Gadis yang berdiri di depannya ini... ini sama sekali bukan Lady Elizabeth yang ia kenal.Di hadapannya, berdiri seorang gadis yang tamp

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 341

    Langit di atas Duchy Mountford tampak muram, seolah-olah awan kelabu yang menggantung rendah sengaja datang untuk menyaksikan upacara penyerahan jiwa seorang putri bangsawan. kastil utama yang megah itu kini dipenuhi oleh aroma lilin wangi dan bunga-bunga yang dipetik segar, namun bagi Elizabeth, segala kemewahan itu tak lebih dari sekadar dekorasi pemakaman bagi masa depannya.Di foyer utama, seluruh pelayan senior berdiri berjejer dengan kepala menunduk. Duke Mountford berdiri di barisan paling depan, sosoknya menjulang dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, Caesar berdiri dengan wajah kaku, matanya sesekali melirik ke arah adiknya.Elizabeth berdiri di antara mereka, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang senada dengan warna matanya yang kini redup. Ia tidak lagi bersuara. Wanita itu hanya berdiri di sana, menyerupai patung yang indah namun hampa. Di dalam benaknya, hanya ada satu pikiran yang berulang seperti kutukan, Rowan sudah mati. Segalanya sudah be

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 340

    Pagi itu, cahaya fajar perlahan menyapu sisa-sisa awan badai yang kelabu di atas langit ibu kota kekaisaran. Namun, kehangatan pagi yang sesungguhnya bukan berasal dari sinar matahari, melainkan dari seekor elang pembawa pesan yang menukik tajam melewati jendela ruang kerja Kaisar.Di dalam ruangan itu, Permaisuri Sienna berdiri di samping meja kerja suaminya. Tangannya memegang sebuah gulungan perkamen. Matanya birunya memindai deretan kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas.Semakin jauh ia membaca, ujung-ujung bibir sang Permaisuri perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang luar biasa lega."Dewa kematian rupanya menolak mencabut nyawa pria keras kepala itu." gumam Sienna pelan. Sebuah tawa kecil yang penuh kelegaan meluncur dari bibirnya.Lucian, yang duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya sambil menatap istrinya dengan senyuman tipis. Sienna membaca ulang baris yang menyebutkan nama ksatria itu. Sir Rowan, pahlawan penentu kemenangan. D

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 339

    Di dalam ruang kerja Duke Mountford yang temaram, sang penguasa wilayah selatan itu duduk dengan tenang di balik meja mahoninya. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Elizabeth di ibu kota kertas yang secara instan merenggut seluruh cahaya dari mata putrinya dan membuatnya pingsan seketika.Duke Mountford menatap deretan tulisan di atas kertas itu dengan senyuman miring yang luar biasa dingin.Kenyataannya, perkamen itu sama sekali bukan berisi berita kematian dari garis depan medan perang. Tidak ada nama Rowan di sana, tidak ada laporan eksekusi, bahkan tidak ada stempel militer yang sah. Itu hanyalah laporan logistik biasa mengenai pengiriman gandum ke wilayah pelosok di Duchy.Bagi sang Duke, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang Elizabeth percayai. Dan dengan satu kebohongan kejam itu, ia telah berhasil mematahkan sayap putrinya, membawanya pulang, dan menjauhkannya dari pengaruh Permaisuri Sienna.Tok! Tok! Tok!Pintu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 338

    Di tengah sorak-sorai ribuan prajurit kekaisaran yang bersimbah darah dan kelelahan, seekor elang pembawa pesan dilepaskan ke udara. Burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, menembus awan kelabu utara, membawa gulungan perkamen yang berisi berita kemenangan menuju istana kekaisaran di ibu kota.Perang perbatasan yang menguras darah dan air mata itu akhirnya usai.Di perkemahan utama, perayaan kemenangan telah dimulai. Tong-tong bir gandum yang sebelumnya dijaga ketat kini dibuka. Daging hasil buruan dipanggang di atas api unggun raksasa. Para ksatria saling merangkul, menyanyikan lagu-lagu kemenangan, dan meneteskan air mata haru karena akhirnya mereka bisa kembali melihat keluarga mereka di rumah.Di tengah lautan manusia yang tengah dimabuk euforia itu, Rowan duduk di atas sebuah batang kayu tumbang.Zirah peraknya penyok di sana-sini dan jubahnya robek oleh tebasan pedang, namun pria itu masih bernapas. Beberapa ksatria dari batalyon lain terus berdatangan, menepuk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 53

    "Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Alexandria dingin, membelah kebisingan jalanan di sore hari itu. Tatapannya menyapu gaun katun lusuh yang dikenakan Sienna dengan sorot mata penuh penghinaan.Sienna menelan ludah, berusaha mempertahankan ketenangannya di hadapan wanita bangsawan itu. Ia meneku

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 58

    Tubuh Sienna membeku, jantungnya kini seolah berhenti berdetak sesaat.Apa yang baru saja dikatakan pria itu? Wanitanya? Mata Sienna mengerjap cepat. Tidak. Pasti ia salah dengar. Mungkin Lucian bermaksud mengatakan "wanita di kastilku" atau "tamu wanitaku". Kata-kata itu terdengar terlalu tidak m

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 56

    Sienna sesekali mencuri pandang pada Lucian yang kini berkonsentrasi penuh menatap hamparan tanaman herbal di depannya.Pemandangan di hadapan Sienna itu terasa begitu tidak nyata. Jubah hitam mewah yang tadi dikenakan pria itu sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas tanah. Kini, Lucian h

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 36

    "Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status