Share

BAB 340

Author: Rainina
last update publish date: 2026-04-29 15:51:11

Pagi itu, cahaya fajar perlahan menyapu sisa-sisa awan badai yang kelabu di atas langit ibu kota kekaisaran.

Namun, kehangatan pagi yang sesungguhnya bukan berasal dari sinar matahari, melainkan dari seekor elang pembawa pesan yang menukik tajam melewati jendela ruang kerja Kaisar.

Di dalam ruangan itu, Permaisuri Sienna berdiri di samping meja kerja suaminya. Tangannya memegang sebuah gulungan perkamen. Matanya birunya memindai deretan kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas.

Semak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 343

    Keputusan itu meluncur dari bibir Elizabeth dengan suara yang begitu lirih, namun ketegasannya seakan membekukan udara di sekeliling mereka."Tidak, Lady Alice." Elizabeth menggeleng pelan, meremas gaun sutranya dengan jemari yang masih bergetar. Ia menundukkan pandangannya, menolak menatap mata utusan Permaisuri itu. "Aku akan tinggal dan menikah."Alice terkesiap. Hatinya mencelos mendengar nada pasrah yang begitu pekat dari Elizabeth. Ia bisa melihat dengan jelas dinding ketakutan yang dibangun sang Duke di sekeliling pikiran Elizabeth. "Lady Elizabeth, sadarlah!" Alice melangkah maju, kembali meraih tangan Elizabeth dan menggenggamnya erat-erat, menyalurkan seluruh sisa kehangatan dan keberanian yang ia miliki. "Setidaknya temui dia dulu! Tidakkah kau mendengar perkataanku? Sir Rowan melakukan semua kegilaan di medan perang itu murni demi sebuah permintaan pada Yang Mulia Kaisar. Siapa yang tahu apa isi permintaan itu?""Aku..." Elizabeth menelan ludah dengan susah payah. Matany

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 342

    Dengan disebutkannya nama Permaisuri dan Kaisar, bahkan seorang penguasa sekuat Duke Mountford sekalipun tidak memiliki pilihan lain selain menundukkan kepalanya dan membuka pintu kastilnya lebar-lebar. Menolak utusan langsung paviliun dalam sama saja dengan mengibarkan bendera pemberontakan, dan sang Duke belum siap untuk menghadapi murka sang Kaisar secara terang-terangan.Dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah karena menahan amarah, Duke Mountford terpaksa membiarkan Elizabeth keluar untuk menyambut rombongan yang memaksa bertemu dengannya tersebut.Alice melangkah masuk dengan mantel perjalanan yang basah dan kotor oleh lumpur, namun dagunya terangkat tinggi, memancarkan otoritas penuh dari junjungannya. Saat pandangan dayang bersurai coklat terang itu akhirnya menemukan sosok Elizabeth, langkah Alice seketika terhenti.Hatinya mencelos. Gadis yang berdiri di depannya ini... ini sama sekali bukan Lady Elizabeth yang ia kenal.Di hadapannya, berdiri seorang gadis yang tamp

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 341

    Langit di atas Duchy Mountford tampak muram, seolah-olah awan kelabu yang menggantung rendah sengaja datang untuk menyaksikan upacara penyerahan jiwa seorang putri bangsawan. kastil utama yang megah itu kini dipenuhi oleh aroma lilin wangi dan bunga-bunga yang dipetik segar, namun bagi Elizabeth, segala kemewahan itu tak lebih dari sekadar dekorasi pemakaman bagi masa depannya.Di foyer utama, seluruh pelayan senior berdiri berjejer dengan kepala menunduk. Duke Mountford berdiri di barisan paling depan, sosoknya menjulang dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, Caesar berdiri dengan wajah kaku, matanya sesekali melirik ke arah adiknya.Elizabeth berdiri di antara mereka, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang senada dengan warna matanya yang kini redup. Ia tidak lagi bersuara. Wanita itu hanya berdiri di sana, menyerupai patung yang indah namun hampa. Di dalam benaknya, hanya ada satu pikiran yang berulang seperti kutukan, Rowan sudah mati. Segalanya sudah be

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 340

    Pagi itu, cahaya fajar perlahan menyapu sisa-sisa awan badai yang kelabu di atas langit ibu kota kekaisaran. Namun, kehangatan pagi yang sesungguhnya bukan berasal dari sinar matahari, melainkan dari seekor elang pembawa pesan yang menukik tajam melewati jendela ruang kerja Kaisar.Di dalam ruangan itu, Permaisuri Sienna berdiri di samping meja kerja suaminya. Tangannya memegang sebuah gulungan perkamen. Matanya birunya memindai deretan kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas.Semakin jauh ia membaca, ujung-ujung bibir sang Permaisuri perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang luar biasa lega."Dewa kematian rupanya menolak mencabut nyawa pria keras kepala itu." gumam Sienna pelan. Sebuah tawa kecil yang penuh kelegaan meluncur dari bibirnya.Lucian, yang duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya sambil menatap istrinya dengan senyuman tipis. Sienna membaca ulang baris yang menyebutkan nama ksatria itu. Sir Rowan, pahlawan penentu kemenangan. D

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 339

    Di dalam ruang kerja Duke Mountford yang temaram, sang penguasa wilayah selatan itu duduk dengan tenang di balik meja mahoninya. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Elizabeth di ibu kota kertas yang secara instan merenggut seluruh cahaya dari mata putrinya dan membuatnya pingsan seketika.Duke Mountford menatap deretan tulisan di atas kertas itu dengan senyuman miring yang luar biasa dingin.Kenyataannya, perkamen itu sama sekali bukan berisi berita kematian dari garis depan medan perang. Tidak ada nama Rowan di sana, tidak ada laporan eksekusi, bahkan tidak ada stempel militer yang sah. Itu hanyalah laporan logistik biasa mengenai pengiriman gandum ke wilayah pelosok di Duchy.Bagi sang Duke, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang Elizabeth percayai. Dan dengan satu kebohongan kejam itu, ia telah berhasil mematahkan sayap putrinya, membawanya pulang, dan menjauhkannya dari pengaruh Permaisuri Sienna.Tok! Tok! Tok!Pintu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 338

    Di tengah sorak-sorai ribuan prajurit kekaisaran yang bersimbah darah dan kelelahan, seekor elang pembawa pesan dilepaskan ke udara. Burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, menembus awan kelabu utara, membawa gulungan perkamen yang berisi berita kemenangan menuju istana kekaisaran di ibu kota.Perang perbatasan yang menguras darah dan air mata itu akhirnya usai.Di perkemahan utama, perayaan kemenangan telah dimulai. Tong-tong bir gandum yang sebelumnya dijaga ketat kini dibuka. Daging hasil buruan dipanggang di atas api unggun raksasa. Para ksatria saling merangkul, menyanyikan lagu-lagu kemenangan, dan meneteskan air mata haru karena akhirnya mereka bisa kembali melihat keluarga mereka di rumah.Di tengah lautan manusia yang tengah dimabuk euforia itu, Rowan duduk di atas sebuah batang kayu tumbang.Zirah peraknya penyok di sana-sini dan jubahnya robek oleh tebasan pedang, namun pria itu masih bernapas. Beberapa ksatria dari batalyon lain terus berdatangan, menepuk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 65

    "LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 68

    "Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" Lucian menatap tajam ke arah sang Putra Mahkota. Ia tidak repot-repot membungkuk atau memberikan salam formal pada sepupunya itu. Arthur tersenyum miring, tidak tersinggung dengan ketidaksopanan itu. Ia justru melangkah santai, mendekat pada Lucian."Aku sed

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 63

    "KYAAA!" Jeritan histeris salah seorang wanita bangsawan yang hadir di sana memecahkan keheningan yang sempat menggantung selama beberapa detik.Kepanikan meledak seketika. Kursi-kursi berdecit keras dan berjatuhan saat para wanita bangsawan itu melompat berdiri, menjauh dari meja seolah-olah penya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 57

    Alexandria tidak mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu oleh amarah. Namun, tangannya yang mencengkeram pagar pembatas batu itu bergetar hebat. Ia menekan jemarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit telapak tangannya terasa perih tergores permukaan batu yang kasar.Matanya y

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status