Teilen

BAB 337

last update Veröffentlichungsdatum: 28.04.2026 12:28:03

Perkataan itu menghantam dada Caesar dengan keras.

Sang pewaris takhta Duchy itu terpaku di tempatnya. Ia sempat mengira adiknya hanyalah seorang gadis bangsawan naif yang dibutakan oleh cinta dan cerita romansa picisan.

Ia mengira Elizabeth menangis histeris karena 'mainannya' direbut oleh ayahnya.

Namun kenyataannya, Elizabeth luar biasa rasional. Adiknya sangat memahami realitas kejam dari dunia kelas sosial yang mereka tinggali.

"Aku tidak memintanya untuk membawaku pergi." bisik Elizabet
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 339

    Di dalam ruang kerja Duke Mountford yang temaram, sang penguasa wilayah selatan itu duduk dengan tenang di balik meja mahoninya. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Elizabeth di ibu kota kertas yang secara instan merenggut seluruh cahaya dari mata putrinya dan membuatnya pingsan seketika.Duke Mountford menatap deretan tulisan di atas kertas itu dengan senyuman miring yang luar biasa dingin.Kenyataannya, perkamen itu sama sekali bukan berisi berita kematian dari garis depan medan perang. Tidak ada nama Rowan di sana, tidak ada laporan eksekusi, bahkan tidak ada stempel militer yang sah. Itu hanyalah laporan logistik biasa mengenai pengiriman gandum ke wilayah pelosok di Duchy.Bagi sang Duke, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang Elizabeth percayai. Dan dengan satu kebohongan kejam itu, ia telah berhasil mematahkan sayap putrinya, membawanya pulang, dan menjauhkannya dari pengaruh Permaisuri Sienna.Tok! Tok! Tok!Pintu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 338

    Di tengah sorak-sorai ribuan prajurit kekaisaran yang bersimbah darah dan kelelahan, seekor elang pembawa pesan dilepaskan ke udara. Burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, menembus awan kelabu utara, membawa gulungan perkamen yang berisi berita kemenangan menuju istana kekaisaran di ibu kota.Perang perbatasan yang menguras darah dan air mata itu akhirnya usai.Di perkemahan utama, perayaan kemenangan telah dimulai. Tong-tong bir gandum yang sebelumnya dijaga ketat kini dibuka. Daging hasil buruan dipanggang di atas api unggun raksasa. Para ksatria saling merangkul, menyanyikan lagu-lagu kemenangan, dan meneteskan air mata haru karena akhirnya mereka bisa kembali melihat keluarga mereka di rumah.Di tengah lautan manusia yang tengah dimabuk euforia itu, Rowan duduk di atas sebuah batang kayu tumbang.Zirah peraknya penyok di sana-sini dan jubahnya robek oleh tebasan pedang, namun pria itu masih bernapas. Beberapa ksatria dari batalyon lain terus berdatangan, menepuk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 337

    Perkataan itu menghantam dada Caesar dengan keras.Sang pewaris takhta Duchy itu terpaku di tempatnya. Ia sempat mengira adiknya hanyalah seorang gadis bangsawan naif yang dibutakan oleh cinta dan cerita romansa picisan. Ia mengira Elizabeth menangis histeris karena 'mainannya' direbut oleh ayahnya.Namun kenyataannya, Elizabeth luar biasa rasional. Adiknya sangat memahami realitas kejam dari dunia kelas sosial yang mereka tinggali. "Aku tidak memintanya untuk membawaku pergi." bisik Elizabeth, menenggelamkan wajahnya kembali ke lututnya, menangis dalam kesunyian yang memilukan. "Aku hanya ingin tahu... bahwa dia hidup dan masih bernafas. Bahwa dia bahagia di luar sana... meski tidak bersamaku."=Jauh dari kediaman Mountford, langit malam seolah ikut merasakan keputusasaan yang tengah terjadi.Hujan terus mengguyur dengan deras, angin menderu buas, menyapu pepohonan dan mengubah jalanan tanah rute selatan menjadi rawa lumpur yang mematikan.Di tengah amukan alam tersebut, rombongan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 336

    Di dalam kamar tidur yang kini terasa bagaikan sel tahanan mewah, isak tangis Elizabeth perlahan mereda menjadi rintihan tertahan.Caesar berlutut di atas karpet tebal, kedua tangannya yang berlapis sarung tangan kulit mencengkram bahu adiknya yang bergetar. Wajah keras sang pewaris Duchy itu menegang, berusaha mencari kebohongan di mata adiknya."Apa yang dikatakan Ayah benar, Elizabeth?" tanya Caesar. "Apa kau... benar-benar mencintai Rowan?"Elizabeth membuang mukanya ke arah perapian yang padam. Ia menolak menatap mata kakaknya, apalagi menjawab pertanyaan itu. Namun, bagi Caesar, keheningan adiknya dan air mata yang terus mengalir membasahi pipi pucat itu adalah jawaban yang paling lantang.Caesar menghela napas panjang, merenggut frustasi hingga rahangnya bergemeretak.Sebagai seorang kakak, ia sangat menyayangi Elizabeth. Dan sebagai seorang pria, ia sangat menghargai Rowan. Mereka tumbuh bersama, Rowan adalah teman masa kecilnya, rekan tanding yang paling tangguh, dan ksatr

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 335

    "Apa maksudmu, Ayah?" tuntut Caesar, suaranya meninggi, menolak untuk mundur meski berhadapan dengan sang penguasa wilayah. "Kerusakan apa?! Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti!"Wajah Duke Mountford mengeras. Alih-alih menjawab pertanyaan putra sulungnya, rahang pria paruh baya itu menegang. Ia memutar bola matanya dengan muak dan menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri kaku di dekat pintu masuk semenjak menyambut kedatangannya tadi."Kumpulkan semua surat dan dokumen dari keluarga bangsawan yang pernah meminta putriku untuk menjadi istri mereka." titah Duke Mountford dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Bawa semuanya ke ruang kerjaku malam ini juga. Aku akan menyeleksi mereka dan menentukan tanggal pernikahannya secepat mungkin."Caesar mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya terbelalak tak percaya."Apa?!" seru Caesar, benar-benar kehilangan ketenangannya. Ia menatap ayahnya seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Pernikahan?

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 334

    Gerbang besi raksasa yang dihiasi ukiran lambang kebanggaan klan Mountford, terbuka dengan bunyi derit yang memekakkan telinga, menyambut kepulangan sang penguasa wilayah selatan. Namun, kepulangan kali ini sama sekali tidak terasa seperti sebuah kemenangan. Suasana di kediaman utama Duchy Mountford mendadak berubah mencekam, seolah awan hitam dari ibu kota ikut berarak mengikuti rombongan tersebut.Lord Caesar Mountford, putra sulung sekaligus pewaris takhta Duchy, berdiri di selasar lantai dua saat ia melihat kereta kuda ayahnya memasuki pelataran. Ia baru saja kembali dari peninjauan perbatasan wilayah selatan dan bermaksud menyapa ayahnya, meski hubungan mereka selalu dibatasi oleh tembok formalitas yang dingin.Caesar turun ke aula utama tepat saat pintu besar mansion terbuka. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang tegas memberikan impresi pria yang hanya hidup untuk aturan dan logika."Selamat datang kembali, Ayah." ucap Caesar dengan nada datar, nyaris tanpa emosi. Ia berdiri

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 56

    Sienna sesekali mencuri pandang pada Lucian yang kini berkonsentrasi penuh menatap hamparan tanaman herbal di depannya.Pemandangan di hadapan Sienna itu terasa begitu tidak nyata. Jubah hitam mewah yang tadi dikenakan pria itu sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas tanah. Kini, Lucian h

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-21
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 36

    "Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-19
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 13

    Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 16

    Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-17
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status