LOGIN"Apa maksudmu, Ayah?" tuntut Caesar, suaranya meninggi, menolak untuk mundur meski berhadapan dengan sang penguasa wilayah. "Kerusakan apa?! Tolong jelaskan dengan bahasa yang bisa kumengerti!"Wajah Duke Mountford mengeras. Alih-alih menjawab pertanyaan putra sulungnya, rahang pria paruh baya itu menegang. Ia memutar bola matanya dengan muak dan menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri kaku di dekat pintu masuk semenjak menyambut kedatangannya tadi."Kumpulkan semua surat dan dokumen dari keluarga bangsawan yang pernah meminta putriku untuk menjadi istri mereka." titah Duke Mountford dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru aula. "Bawa semuanya ke ruang kerjaku malam ini juga. Aku akan menyeleksi mereka dan menentukan tanggal pernikahannya secepat mungkin."Caesar mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya terbelalak tak percaya."Apa?!" seru Caesar, benar-benar kehilangan ketenangannya. Ia menatap ayahnya seolah pria itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Pernikahan?
Gerbang besi raksasa yang dihiasi ukiran lambang kebanggaan klan Mountford, terbuka dengan bunyi derit yang memekakkan telinga, menyambut kepulangan sang penguasa wilayah selatan. Namun, kepulangan kali ini sama sekali tidak terasa seperti sebuah kemenangan. Suasana di kediaman utama Duchy Mountford mendadak berubah mencekam, seolah awan hitam dari ibu kota ikut berarak mengikuti rombongan tersebut.Lord Caesar Mountford, putra sulung sekaligus pewaris takhta Duchy, berdiri di selasar lantai dua saat ia melihat kereta kuda ayahnya memasuki pelataran. Ia baru saja kembali dari peninjauan perbatasan wilayah selatan dan bermaksud menyapa ayahnya, meski hubungan mereka selalu dibatasi oleh tembok formalitas yang dingin.Caesar turun ke aula utama tepat saat pintu besar mansion terbuka. Wajahnya yang kaku dan rahangnya yang tegas memberikan impresi pria yang hanya hidup untuk aturan dan logika."Selamat datang kembali, Ayah." ucap Caesar dengan nada datar, nyaris tanpa emosi. Ia berdiri
Kertas perkamen di tangan Lucian remuk sepenuhnya dalam kepalan tangannya yang kuat. Urat-urat di lengan sang Kaisar menonjol, memancarkan kemarahan yang coba ia tahan."Lucian... dia melakukan itu tanpa izinku." ucap Sienna. "Membawa pergi Dayang Permaisuri tanpa izinku. Dan aku yakin alasan sakit itu sangat dibuat-buat. Elizabeth baik-baik saja saat ia meninggalkan istana.."Lucian melempar remasan surat itu ke lantai seolah benda itu adalah sampah yang menjijikkan. "Tindakan ini tidak bisa dibiarkan." ucap Lucian. "Seorang Duke, tidak peduli apa statusnya, tidak memiliki hak untuk mencuri orang dari sisi Permaisuri. Aku akan mengirimkan ksatria dan pembawa pesan resmi kekaisaran saat ini juga. Jika dia menolak menyerahkan Elizabeth, itu akan dianggap sebagai pemberontakan terbuka."Sienna melangkah maju, menyentuh lengan suaminya. "Lucian, izinkan aku pergi secara langsung."Lucian seketika menoleh, tatapannya menajam. "Apa?""Aku harus menjemputnya sendiri." desak Sienna, matany
Rombongan Duke Mountford melaju membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris tidak masuk akal. Kuda-kuda berpacu tanpa ampun, roda-roda kereta berderak kasar melindas bebatuan dan lumpur sisa hujan, meninggalkan ibu kota kekaisaran secepat dan sejauh mungkin.Malam itu, mereka mengambil alih sebuah penginapan besar yang terletak di kota persinggahan pertama menuju wilayah selatan. Seluruh tamu reguler telah diusir paksa, dan puluhan ksatria berzirah kini berjaga ketat membentuk barikade di setiap pintu dan jendela bangunan kayu tersebut.Di kamarnya, Duke Mountford duduk di kursi berlengan. Jubah bulu beruangnya disampirkan di bahu. Suara derap langkah sepatu bot yang terburu-buru memecah keheningan ruangan itu. Felix, ajudan kepercayaan sang Duke yang telah mengabdi selama belasan tahun, melangkah masuk. Pria paruh baya itu tampak kelelahan, debu jalanan masih menempel tebal di jubahnya."Tuan Duke." panggil Felix, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Surat pemberitahuan Anda tela
Dunia Elizabeth seketika berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja yang pengap itu terasa ditarik habis dalam satu kedipan mata, mencekik paru-parunya hingga ia tak bisa lagi menarik napas. Wajah Rowan senyum tipisnya yang selalu menenangkan, tatapan matanya saat pria itu bersumpah untuk melindunginya, akhirnya hancur berkeping-keping menjadi abu.Segala kekuatan yang menopang tubuh gadis itu menguap tak bersisa.Kakinya yang gemetar hebat tak lagi sanggup menahan berat badannya. Gaun sutranya berdesir saat tubuh ramping sang putri Duke itu ambruk sepenuhnya, membentur lantai dengan bunyi dentuman yang cukup keras.Kegelapan yang pekat langsung menelan kesadarannya, membawanya lari dari realitas yang terlalu kejam untuk ditanggung oleh hatinya."Lady Elizabeth!"Seorang pelayan tua yang sejak tadi berdiri gemetar di ujung ruangan memekik tertahan. Melupakan sejenak ketakutannya pada sang majikan, pelayan itu berlari tergesa-gesa menghampiri tubuh Elizabeth yang tergeletak tak ber
Persidangan berdarah itu telah usai, namun badai di hati Lady Elizabeth sama sekali belum mereda.Mengetahui bahwa ayahnya, sang Duke Mountford, tidak langsung kembali ke wilayah selatan dan masih berada di kediaman mereka di ibu kota, kepanikan Elizabeth semakin memuncak. Ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menghentikan pasukan pembunuh itu.Elizabeth tidak membuang waktu untuk menemui Permaisuri Sienna yang baru saja kembali ke ruang pribadinya."Yang Mulia, izinkan saya menemui ayah saya sekarang juga." mohon Elizabeth dengan suara bergetar dan wajah pucat pasi.Sienna menatap dayangnya dengan penuh simpati. Ia tahu seberapa berbahaya Duke Mountford. "Bersabarlah sebentar, Elizabeth. Tunggu hingga urusanku di sini selesai. Aku sendiri yang akan menemanimu menghadap Duke, agar ayahmu tidak berani bertindak macam-macam padamu."Namun, teror telah menguasai akal sehat Elizabeth. Waktu terus berjalan, dan setiap detiknya bisa berarti nyawa Rowan melayang di medan perang
Anna membalikkan badannya dengan kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sakit.Di ambang pintu, Marta berdiri dengan tatapan tajam. Pelayan itu tidak langsung masuk, hanya mematung di sana dengan satu alis terangkat."Apa yang sedang kau lakukan di meja itu?" tanya Marta, suar
"LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma
"Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" Lucian menatap tajam ke arah sang Putra Mahkota. Ia tidak repot-repot membungkuk atau memberikan salam formal pada sepupunya itu. Arthur tersenyum miring, tidak tersinggung dengan ketidaksopanan itu. Ia justru melangkah santai, mendekat pada Lucian."Aku sed
"KYAAA!" Jeritan histeris salah seorang wanita bangsawan yang hadir di sana memecahkan keheningan yang sempat menggantung selama beberapa detik.Kepanikan meledak seketika. Kursi-kursi berdecit keras dan berjatuhan saat para wanita bangsawan itu melompat berdiri, menjauh dari meja seolah-olah penya







