Hari-hari setelah itu berjalan seperti air yang mengalir di bawah permukaan—tenang di atas, namun menyimpan arus yang sulit ditebak.Ia kembali pada rutinitasnya. Bangun sebelum cahaya menyentuh jendela, mengenakan pakaian kerja yang sama, menyusuri lorong-lorong yang telah dihafal kakinya. Namun kini, setiap langkah terasa sedikit lebih diperhatikan. Bukan oleh satu pasang mata saja, melainkan oleh banyak kesadaran yang diam-diam mengamati.Pada suatu titik, ia berhenti di depan pintu ruang penyimpanan, menunggu pelayan lain keluar terlebih dahulu. Biasanya, hal itu tidak perlu. Namun kini, ada jeda yang tak terucap—keraguan singkat sebelum seseorang memilih untuk berjalan melewatinya atau memberi jalan.Seorang pelayan perempuan sempat membuka mulut, seolah hendak menyapa, namun menutupnya kembali. Ia menunduk cepat, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun.Ia tidak merasa tersinggung. Namun, ia mencatatnya. Hal-hal kecil seperti itu tidak muncul tanpa sebab.Ia tahu, jarak sedang diaja
Huling Na-update : 2026-01-07 Magbasa pa