Mereka tidak berencana bertemu. Itulah yang membuatnya berbahaya. Lorong itu hampir gelap, hanya diterangi oleh satu lentera yang tergantung rendah. Bayangan mereka menari samar di dinding, bergeser saat keduanya bergerak. Langkah tuan muda terhenti ketika ia melihat sosok di ujung lorong—berdiri dengan lentera di tangan, tubuh tegap, namun mata menunduk, menahan sesuatu. Cahaya lentera menyorot sebagian wajahnya, cukup untuk menyingkap garis rahang dan lekuk mata yang membuatnya tersentak—tanpa alasan logis. Ia bisa berbalik. Ia bisa menahan diri. Ia tidak melakukannya. Di sisi lain, perempuan itu menyadari kehadirannya hampir bersamaan. Tubuhnya menegang sepersekian detik, lalu ia menurunkan sedikit lentera, menundukkan wajah. Beberapa helai rambutnya menutupi sebagian pipi, namun matanya tetap tertangkap di cahaya—mata yang sama yang menahan ketegangan siang tadi. “Tuan,” ucapnya, suara lembut tapi tetap menjaga jarak. Tidak ada orang lain. Tidak ada suara lain. Hanya merek
Read more