MasukAslan menutup telepon, diam beberapa saat, lalu berbalik menatap Laura. Tatapannya berbeda. Ada konflik di sana. Ada sesuatu yang tidak ia sampaikan."Aku harus pergi," kata Aslan tiba-tiba.Laura terperanjat. "Apa? Sekarang?""Ya. Sekarang. Ada urusan mendadak.""Tapi kau bilang kau tidak akan pergi lagi!" Laura berdiri, merasa dikhianati. "Kau baru saja berjanji."Aslan mendekat, meraih wajah Laura dengan kedua tangannya. "Aku akan kembali. Aku janji. Tapi aku harus pergi sekarang. Ini penting. Menyangkut keselamatan kita semua.""Semua omong kosong! Itu yang selalu kau katakan!""Little girl , aku tahu kau akan kesepian tanpaku. Tapi aku akan kembali.""Siapa juga yang akan kesepian?" Laura mendelik tajam. Gengsinya membuat ia menyangkal kata-kata Aslan."Aku tahu kau akan kesepian tanpaku," goda Aslan seraya merapatkan tubuh mereka dengan kedua tangan kekarnya yang melingkar di pinggang Laura."Jangan bercanda. Siapa juga yang kesepian tanpamu, hah? Kau jadi semakin kepedean!" ser
Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan di luar dan isak tangis Laura yang terdengar. Aslan menatap Laura dengan tatapan yang kompleks. Ada rasa bersalah, ada rasa ingin memiliki, ada kemarahan, dan ada hasrat yang sulit ia kendalikan.Perlahan, tanpa sadar, tangannya yang menggenggam bahu Laura merambat naik ke leher, lalu ke pipi basah Laura. Ia mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya, gerakan yang begitu lembut kontras dengan kekasaran sikapnya beberapa saat lalu."Maafkan aku," bisik Aslan. "Maafkan aku untuk semuanya."Laura hampir saja luluh. Hampir saja ia membiarkan dirinya jatuh kembali ke dalam pelukan pria ini. Tapi bayangan enam tahun kesendirian, enam tahun perjuangan, enam tahun air mata, semuanya terlintas di benaknya."Jangan," Laura menepis tangan Aslan. "Jangan minta maaf kalau kau hanya akan pergi lagi atau menjadikanku pelarian.""Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah pergi lagi," janji Aslan dengan mantap."Kau bisa bilang begitu sekarang. Tapi bes
Laura tersentak, matanya membelalak sempurna. Untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Bukan karena ia tak tahu harus menjawab apa, tapi karena nada suara Aslan, dengan segala tuduhan dan kecurigaan di dalamnya,begitu menyakitkan."Apa kau gila?" Laura akhirnya bersuara, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati. "Apa kau benar-benar gila sampai berani berkata seperti itu padaku?"Aslan tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, mendekat. Setiap langkahnya membuat Laura mundur, hingga punggungnya membentur dinding lorong sempit di luar kamar mandi. Aslan menopangkan kedua lengannya di dinding, mengurung Laura di antara tubuh kekarnya dan dinding."Aku hanya bertanya," desis Aslan dengan nada rendah yang berbahaya. Wajahnya begitu dekat, Laura bisa melihat titik-titik air yang masih membasahi bulu matanya. Wangi sabun mandinya bercampur dengan aroma khas Aslan yang dulu begitu ia kenal. "Apakah kalian sudah tidur bersama? Apakah kau sudah memberinya apa yang dulu hanya kau be
Cemburu langsung menggerogoti hati Aslan. Tangannya mengepal erat, hampir saja ia melangkah keluar dari persembunyiannya. Tapi ia menahan diri, terus mengamati dari kejauhan.Laura terlihat tersenyum pada lelaki itu. Ia bahkan mengusap tetesan air hujan di wajah Julian dengan lembut. Lalu Julian membuka jasnya dan menyelimutkan ke bahu Laura, sebuah gestur yang begitu intim dan penuh perhatian.Aslan merasa dadanya sesak. Inikah yang selama ini terjadi? Apakah Julian telah mengambil tempatnya di hati Laura?"Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sudah menjalin hubungan?"Mereka mengobrol beberapa saat, lalu Julian mencium kening Laura. Ciuman singkat yang membuat darah Aslan mendidih. Laura tidak menolak, ia hanya tersenyum malu.Tak lama kemudian Julian masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Laura masih berdiri di halaman, memeluk jas yang ditinggalkan Julian erat-erat di dadanya. Ia menatap mobil itu pergi dengan senyuman yang tak bisa ia lihat dari kejauhan.Setelah mobil Julian hilang d
Maria mendengus keras, menepis tangan Amber yang mencoba menenangkannya. Wanita tua itu berjalan tegap mendekati cucunya, lalu menjewer kuping Aslan tanpa ampun.Meski kupingnya terasa perih, Aslan hanya diam. Ia sudah terbiasa dengan perlakuan neneknya sejak kecil. Membela diri hanya akan membuat omelan bertambah panjang."Sudah, Nenek tua. Lepaskan aku," ucapnya tenang.Maria akhirnya melepaskan jewerannya, lalu duduk di hadapan Aslan dengan napas memburu. Amber segera menuangkan air mineral dan menyodorkannya pada Maria."Aku baru saja dari sekolah Jayden," ujar Maria setelah minum beberapa teguk. Matanya menatap tajam Aslan. "Dia anak yang cerdas dan sopan. Kau beruntung jalang itu mendidiknya dengan baik."Aslan mengangguk pelan. "Aku tahu, dia anakku, dan jangan panggil Laura jalang, Nek.""Mau kau apa?" tanya Maria langsung ke inti permasalahan.Pertanyaan itu membuat Aslan menghela napas. Ia menatap neneknya dengan serius. "Aku juga ingin mereka kembali padaku. Laura dan Jayde
"Jadi wanita tua itu benar-benar datang kemari dan menemui Laura juga Jayden?" tanya Aslan saat mendapatkan laporan dari Marco, kalau Maria dan Amber datang ke Marseille untuk menemui wanitanya dan anaknya."Iya Tuan."Aslan terdiam dengan wajah datarnya, ia pun menghela napas berat sebelum akhirnya bertanya. "Lantas apa dia menyakiti mereka?"Ada gurat kekhawatiran di mata Aslan saat menanyakannya. Ia tahu neneknya tak akan berbuat kekerasan, tapi kata-kata neneknya yang pedas, bisa membuat orang terluka. Apalagi hati Laura itu lembut."Saya rasa tidak Tuan. Ini percakapan mereka yang di rekam oleh salah satu anak buah saya," kata Marco seraya menyodorkan hanphonenya pada Aslan. Ia menyalakan rekaman percakapan Laura, Maria dan Jayden.Setelah mendengarnya, Aslan merasa lega. Sebab, Laura ternyata tidak selemah yang ia kira. Mungkin benar, waktu enam tahun itu sudah mengubah sedikit karakternya menjadi lebih berani."Good. Dia memang putri ajudan ayahku. Dia memiliki keberanian terse
Siang itu kafe belum terlalu ramai. Musik lembut mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan, bercampur aroma kopi dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Laura duduk di salah satu meja dekat jendela bersama Evan dan Wendy. Seragam kerjanya masih terlipat rapi di dalam tas, yang siap dipakai
Aslan menatap Laura lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar pilihan tujuan mobil.“Aku bilang ke rumah sakit,” ulangnya, nada suaranya datar tapi mengandung tekanan.Laura menggeleng pelan. Kepalanya masih pening, perutnya terasa perih dan bergejolak. “Tidak… aku ti
"Sudah dua kali dia dalam bahaya. Jelas, ini bukan ancaman biasa," gumam Aslan dengan mata menggelap dan rahang mengeras.Ia pun memutuskan sesuatu yang besar, agar Laura dan Alisha tidak berada dalam bahaya. Satu-satunya cara yang harus ia lakukan."Rick, kemari!" ujar Aslan saat menelpon Rick.Ta
Aslan berdiri kaku di tempatnya.Kata-kata Laura masih menggema di kepalanya, terutama ketika wanita itu menyebut bunga matahari, tanaman kecil yang ia tanam dengan penuh harapan di halaman rumah ini. Harapan yang kini ia sendiri yang paksa patahkan.Ia tidak menoleh, karena tak memiliki keberanian