FAZER LOGINRick merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ujung jari seseorang dengan kasar, tapi lembut. Samar-samar ia mendengar suara dari kejauhan, seperti orang yang berteriak memanggil namanya dari dasar sumur."Pak Rick! Pak Rick, bangun!"Ia membuka mata dengan berat. Langit malam tampak buram di atasnya, diterangi cahaya lampu teras yang berkedip-kedip tidak stabil. Wajah Heri, salah satu anak buah Aslan yang ditugaskan di rumah Laura, melayang di atasnya dengan ekspresi panik."Syukurlah," desah Ramon. "Kita harus—"Rick langsung duduk tersentak, tapi kepalanya berdenyut hebat seolah-olah baru saja dihantam palu godam dan memang ia teringat. Pukulan itu. Sesuatu yang keras menghantam kepalanya dari belakang saat ia sedang memeriksa kebisingan di luar pagar. Ia ingat jatuh. Lalu gelap."Sialan!" Rick memekik, tangannya langsung meraba pinggang. Pistolnya masih ada. Tapi itu bukan yang penting. "Nona Laura! Tuan Muda Jayden! Di mana—"Ia berusaha berdiri, tapi kakinya limbung. Her
Beberapa detik sebelumnya, saat terdengar suara ledakan dari luar rumahnya. Laura bergegas memeriksa asal suara itu. Namun, ketika ia membuka pintu. Ia melihat anak buah Aslan yang berjaga di rumahnya, tampak tidak berdaya. Bahkan beberapa dari mereka tidak sadarkan diri. Tapi Rick tak terlihat di sana."Pak Rick?"Menekan rasa paniknya, merasa ada yang tak beres. Laura mencoba untuk masuk kembali ke dalam rumah dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Polisi adalah tujuannya. Namun, langkah Laura harus terjegal oleh seorang pria yang tiba-tiba saja menyodorkan pistol ke kepalanya."Jangan bergerak, atau kau akan mati, Nona!"Suara menyeramkan itu membuat Laura tersentak kaget, ia terdiam ditempatnya. Bukan karena takut, tapi ia khawatir pada Jayden yang ada di dalam rumah.Sialnya, pria itu pasti tak sendiri melakukan aksinya dan ia takut akan keselamatan Jayden."JAYDEN LARI!" teriak Laura dari luar. Tanpa bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya dipegang erat sepenuhnya oleh
Aslan menutup telepon, diam beberapa saat, lalu berbalik menatap Laura. Tatapannya berbeda. Ada konflik di sana. Ada sesuatu yang tidak ia sampaikan."Aku harus pergi," kata Aslan tiba-tiba.Laura terperanjat. "Apa? Sekarang?""Ya. Sekarang. Ada urusan mendadak.""Tapi kau bilang kau tidak akan pergi lagi!" Laura berdiri, merasa dikhianati. "Kau baru saja berjanji."Aslan mendekat, meraih wajah Laura dengan kedua tangannya. "Aku akan kembali. Aku janji. Tapi aku harus pergi sekarang. Ini penting. Menyangkut keselamatan kita semua.""Semua omong kosong! Itu yang selalu kau katakan!""Little girl , aku tahu kau akan kesepian tanpaku. Tapi aku akan kembali.""Siapa juga yang akan kesepian?" Laura mendelik tajam. Gengsinya membuat ia menyangkal kata-kata Aslan."Aku tahu kau akan kesepian tanpaku," goda Aslan seraya merapatkan tubuh mereka dengan kedua tangan kekarnya yang melingkar di pinggang Laura."Jangan bercanda. Siapa juga yang kesepian tanpamu, hah? Kau jadi semakin kepedean!" ser
Suasana hening sejenak. Hanya suara hujan di luar dan isak tangis Laura yang terdengar. Aslan menatap Laura dengan tatapan yang kompleks. Ada rasa bersalah, ada rasa ingin memiliki, ada kemarahan, dan ada hasrat yang sulit ia kendalikan.Perlahan, tanpa sadar, tangannya yang menggenggam bahu Laura merambat naik ke leher, lalu ke pipi basah Laura. Ia mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya, gerakan yang begitu lembut kontras dengan kekasaran sikapnya beberapa saat lalu."Maafkan aku," bisik Aslan. "Maafkan aku untuk semuanya."Laura hampir saja luluh. Hampir saja ia membiarkan dirinya jatuh kembali ke dalam pelukan pria ini. Tapi bayangan enam tahun kesendirian, enam tahun perjuangan, enam tahun air mata, semuanya terlintas di benaknya."Jangan," Laura menepis tangan Aslan. "Jangan minta maaf kalau kau hanya akan pergi lagi atau menjadikanku pelarian.""Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah pergi lagi," janji Aslan dengan mantap."Kau bisa bilang begitu sekarang. Tapi bes
Laura tersentak, matanya membelalak sempurna. Untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Bukan karena ia tak tahu harus menjawab apa, tapi karena nada suara Aslan, dengan segala tuduhan dan kecurigaan di dalamnya,begitu menyakitkan."Apa kau gila?" Laura akhirnya bersuara, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati. "Apa kau benar-benar gila sampai berani berkata seperti itu padaku?"Aslan tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, mendekat. Setiap langkahnya membuat Laura mundur, hingga punggungnya membentur dinding lorong sempit di luar kamar mandi. Aslan menopangkan kedua lengannya di dinding, mengurung Laura di antara tubuh kekarnya dan dinding."Aku hanya bertanya," desis Aslan dengan nada rendah yang berbahaya. Wajahnya begitu dekat, Laura bisa melihat titik-titik air yang masih membasahi bulu matanya. Wangi sabun mandinya bercampur dengan aroma khas Aslan yang dulu begitu ia kenal. "Apakah kalian sudah tidur bersama? Apakah kau sudah memberinya apa yang dulu hanya kau be
Cemburu langsung menggerogoti hati Aslan. Tangannya mengepal erat, hampir saja ia melangkah keluar dari persembunyiannya. Tapi ia menahan diri, terus mengamati dari kejauhan.Laura terlihat tersenyum pada lelaki itu. Ia bahkan mengusap tetesan air hujan di wajah Julian dengan lembut. Lalu Julian membuka jasnya dan menyelimutkan ke bahu Laura, sebuah gestur yang begitu intim dan penuh perhatian.Aslan merasa dadanya sesak. Inikah yang selama ini terjadi? Apakah Julian telah mengambil tempatnya di hati Laura?"Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sudah menjalin hubungan?"Mereka mengobrol beberapa saat, lalu Julian mencium kening Laura. Ciuman singkat yang membuat darah Aslan mendidih. Laura tidak menolak, ia hanya tersenyum malu.Tak lama kemudian Julian masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Laura masih berdiri di halaman, memeluk jas yang ditinggalkan Julian erat-erat di dadanya. Ia menatap mobil itu pergi dengan senyuman yang tak bisa ia lihat dari kejauhan.Setelah mobil Julian hilang d
Dua jam kemudian. Rumah Sakit.Mobil Aslan berhenti tepat di depan pintu IGD dengan ban berdecit. Sebelum mobil benar-benar berhenti, Aslan sudah membuka pintu dan melompat keluar. Hans mengikutinya dari belakang.Mereka berlari menuju ruang rawat Laura. Sepanjang jalan, Aslan mencoba menghubungi R
Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kal
Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar h
Kata-kata Sonya melayang di udara seperti racun yang menyebar perlahan. Aslan mematung, tangannya masih setengah terangkat, sementara Viona terisak dalam pelukan ibunya."Kau bilang apa?" suara Aslan bergetar, bukan karena emosi semata, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, luka yang tak pernah sem