Setelah Ren dan Sarah selesai menyisir ruangan dan tidak menemukan apa pun, aku mencoba kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Namun, sisa-sisa kejadian pagi tadi, perdebatan di meja makan, ciuman paksa Christian, hingga bayangan SUV hitam di luar, membuat kepalaku berdenyut. Aku memijat pelipisku pelan.Aku merasa lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena beban yang harus kupikul setiap kali aku melangkah keluar dari kamar.Setelah beberapa menit mencoba fokus dan gagal, aku menutup map di depanku.Aku tahu satu tempat yang selalu bisa menenangkan pikiranku.Dapur. Siang itu, aku memutuskan untuk turun ke dapur L’Eclat de Nasan. Ini adalah ritualku saat pikiranku terlalu bising. Dapur adalah tempat di mana segala sesuatu masuk akal bagiku. Ada urutan, ada presisi, dan ada hasil yang nyata.Jika kau mencampur bahan yang tepat, kau mendapatkan rasa yang tepat.Tidak seperti kehidupan keluargaku. Begitu aku memasuki dapur restoran, aroma kaldu tulang yang sedang direbus lan
Read more