Aku tetap diam. Air mengalir membasuh tanganku, dingin dan konstan, seolah menjadi satu-satunya hal yang masih waras di ruangan ini. Aku sengaja tidak terburu-buru. Jemariku bergerak pelan di bawah aliran air, menggosok satu per satu, seakan semua kata-kata kotor yang baru saja dilemparkan padaku bisa luruh bersama busa sabun. Di belakangku, mereka masih berdiri. Menunggu. Mengamati. Mencari celah. Salah satu dari mereka akhirnya bergerak. Wanita berambut merah itu, tinggi, dengan senyum miring yang terlalu percaya diri melangkah mendekat. Tumit sepatunya beradu tajam dengan lantai marmer, menciptakan irama yang mengganggu. “Hei,” katanya, suaranya rendah tapi menusuk, “apa kau tidak punya telinga? Atau kau lupa cara bicara sejak naik kasta?” Aku tidak langsung menoleh. Kuberi dia jeda. Kuberi mereka waktu… untuk merasa lebih tinggi. Lalu aku mematikan kran. Suara air berhenti mendadak. Hening. Aku mengambil tisu, mengeringkan tanganku dengan gerakan lambat, nyaris malas
Read more