Suara dentuman pintu yang terbanting itu menggema keras, memantul di dinding kamar seperti tembakan yang terlambat. Gaungnya tidak langsung menghilang, ia bergetar, merayap pelan, lalu menetap sebagai denging panjang di telingaku. Aku tersentak. Jemari tanganku refleks mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku-buku jariku memutih. Kuku yang dipoles rapi menekan permukaan kayu dengan gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahanku agar tidak runtuh. Nafasku tercekat di tenggorokan. Perlahan… sangat perlahan… aku mengangkat pandangan ke arah cermin. Dan di sana, terpantul sosoknya. Matteo. Dia berdiri di balik pintu yang tertutup, tegak, tak tergoyahkan. Tidak ada kekacauan dalam penampilannya, tidak ada rambut yang berantakan, tidak ada lipatan kusut pada jasnya. Sebaliknya, dia tampak terlalu sempurna. Setelan jas tiga potong berwarna hitam legam membalut tubuhnya dengan presisi yang nyaris kejam. Kemeja di baliknya rapi tanpa cela, dasinya terikat rapi, sepatu kuli
Read more