Aku duduk diam di sofa ruang utama, tubuhku masih kaku, napas terasa berat. Semua yang terjadi malam ini terlalu cepat, terlalu brutal untuk dicerna. Dan mereka… dua pria yang berdiri di ruangan ini… adalah pusat dari semua kekacauan itu. Matteo dan Dominic. Ketegangan di antara mereka begitu tebal, begitu pekat. Atmosfer di dalam villa ini seakan tersedot habis oleh kehadiran mereka berdua. Matteo berdiri beberapa langkah dariku, napasnya masih memburu kasar, dadanya naik-turun dengan emosi yang belum padam sepenuhnya. Wajahnya yang lebam dan bercak darah di sudut bibirnya justru membuatnya tampak seperti binatang buas yang terluka namun tetap berbahaya. Sementara itu, Dominic berdiri tegak di depannya. Ia seperti tembok es yang tak tergoyahkan, tenang, dingin, namun memancarkan aura mematikan yang sanggup membekukan jantung siapa pun yang menatapnya. "Cepat pergi, Matteo. Masih kurang kau menyakitinya?" ucap Dominic. Suaranya tajam, mengiris keheningan. "Sudah kubilang,
Read more