Dominic berdiri tegak, nyaris tak bergerak. Hanya rahangnya yang mengeras, garis tegas di wajahnya semakin tajam. Ia tampak seperti patung es yang hidup—dingin, tak tersentuh, tak tergoyahkan. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergejolak… sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang cukup dekat untuk membaca retakan kecil di permukaannya.Di hadapannya, Matteo berdiri dengan dada naik turun, napasnya berat, matanya menyala seperti api liar yang siap membakar apa pun di sekitarnya. Kata-kata Matteo sebelumnya masih menggantung di udara. Namun, ia tidak membiarkan kata-kata adiknya melukainya, setidaknya tidak secara terang-terangan. “Kau pikir kejujuran dalam kejahatan membuatmu lebih baik?” balas Dominic dingin. Matteo menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat sinis.“Kau hanya seekor binatang yang bangga akan taringnya, Matteo,” lanjutnya dingin, setiap kata diucapkan dengan tekanan yang terukur. “Kau mengira karena kau jujur tentang kebrutalanmu, itu membuatmu
Read more