Bau antiseptik yang tajam dan dingin menyergap lebih dulu daripada kesadaranku. Aromanya menusuk, merayap masuk ke paru-paru, membuat dadaku terasa sesak bahkan sebelum mataku benar-benar terbuka. Aku mengerang pelan, suara itu nyaris tak terdengar, lebih mirip hembusan napas yang tersangkut di tenggorokan. Kepalaku berdenyut hebat. Bukan sekadar pusing, tapi seperti ada sesuatu yang menghantamnya berkali-kali tanpa ampun. Setiap denyutan terasa seperti pukulan palu godam yang menghancurkan pikiranku sedikit demi sedikit. Aku mencoba membuka mata, namun cahaya putih dari lampu neon langsung menusuk, membuatku refleks memejamkannya kembali. Aku mengerjap beberapa kali, perlahan, memaksa diriku untuk beradaptasi. Satu detik. Dua detik. Dunia mulai terbentuk kembali, meski masih bergetar. “Di… di mana ini…?” Suaraku keluar serak, kering, hampir seperti bukan milikku sendiri. Tenggorokanku terasa perih, seolah dilapisi pasir panas. Aku menelan ludah dengan susah payah, namun rasa s
Read more